Beranda

Dua Senja Kemarin, Ada Masjid dan Gerimis

6 Komentar

masjid

Dua senja kemarin ketika gerimis turun, saya dan suami sedang melintasi jalan yang penuh areal persawahan. Segar menyejukkan rasanya. Gerimis berkecipak pelan. Sampailah kami di depan sebuah masjid. Dari kejauhan, masjid ini tampak begitu memukau. Bangunannya megah arsitekturnya mewah. Masjid Bani Toyyib, begitu masyarakat wilayah Antirogo Jember mengenalnya. Ini termasuk masjid yang baru rampung renovasinya. Disela gerimis yang turun satu persatu, masjid ini nampak begitu berani menghunjam mendung.

Untuk apa semua ini diciptakan bermegah-megah? Apakah dengan itu kadar keimanan diukur? Sayang, senja, mendung dan gerimis pun tak mampu menjawabnya. Karena hanya Tuhan yang bisa menimbang semuanya.

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

logo

A Place to Remember : Rumah Jingga Para Pencinta

23 Komentar

6-Ini foto tahun 2008, di depan Rumah Jingga. Saya yang mana hayo?? :)-

Jika harus mengingat satu tempat yang penuh kenangan, ingatanku langsung terlontar pada sebuah ruangan dengan ukuran kurang lebih 7×4 meter persegi. Kaca jendela, pintu dan barang di dalamnya dipenuhi dengan aneka macam stiker. Warna dan tulisannya beragam. Secara umum, stiker-stiker tersebut menandakan waktu dan tempat sebuah acara. Cat temboknya berubah-ubah. Kadangkala berwarna hijau, putih, krem, jingga dan lain sebagainya. Rasanya semua warna sudah pernah dicoba, selain hitam tentu saja. Tapi bagiku, rumah ini tetap berwarna jingga. Aku menyebutnya, rumah jingga para pencinta. Dia adalah sekretariat pencinta alam SWAPENKA (Mahasiswa Pencinta ALam) Fakultas Sastra Unej.

7-Nggak nemu gambaran ruangan yang detail, nemunya yang ini. Tuh, lihat cat temboknya, macem-macem kan? Hihihi-

Ya, semuanya yang ada di dalamnya adalah mereka yang sedang belajar untuk mencintai alam. Bukan pencinta alam, tapi tentu saja senantiasa untuk belajar mencintainya. Pencinta alam, bagi saya kata itu terlalu tinggi dan utopis. *Jangan dikeplak carier cagak ya Bulik Juri :P* Bukan mustahil, namun selalu diusahakan menuju ke arah sana. Di rumah jingga inilah kami bermain dan belajar bersama-sama. Bukan melulu pada ilmu-ilmu kepencintaalaman. Tapi, disinilah saya belajar tentang bagaimana cara menikmati hidup dengan sudut pandang yang berbeda. Disini pula kami belajar bahwa hidup yang seimbang adalah hidup yang humanis. Setara dengan alam dan sekitarnya.

Kalau pagi datang, di depan sekretariat yang rimbun terdengar cericit burung ramai membuyarkan mimpi. Belum lagi ocehan tetangga penghuni sekretariat sebelah yang sudah mulai semarak. Itu tandanya, jam kuliah sudah dimulai. Ada banyak kisah yang tercecer, bahkan di permukaaan loker yang berkarat dan penuh stiker. Ada kenangan yang menempel di deretan piala usang yang itu-itu saja. Terakhir nambah 2012 kemarin, waktu Rotan dan Sodhunk menang lomba nulis. Belum lagi ubin-ubin usang yang selalu menopang pijakan tubuh saya sewaktu tidur, duduk maupun berlari-lari kecil gak jelas. Hehe. Ada yang melekat pada payung merah dengan kursi beton yang melingkar di bawahnya. Tempat bagi semua yang ingin berbagi rasa. Curhat, nglamun atau sekedar ngopi-ngopi hore.Semuanya selalu indah untuk dikenang.

depan-Ini gambaran pepohinan rimbun di depan sekretariat. Foto diambil sewaktu pemberangkatan Diklatsar tahun 2013-

Pepohonan dan tamannya tertata sesuai mood para penghuninya. Kadang bagusss banget, tapi tak jarang juga berantakan. Begitu pula dengan halamannya. Kadang kotor bangeeet, kadang malah bersih banget. Kami memang menyerahkan semuanya pada alam. Biar saja daun-daun yang mengering itu luruh dan menyatu dengan alam menjadi pupuk.

Saat kawan-kawan pencinta alam fakultas lain sibuk dengan acara-acara ekstrim semacam naik gunung, panjat tebing, caving, orad dan semacamnya – kami masih tetap seperti apa yang dimulai oleh para pendahulu. Seperti namanya, Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam. Mempelajari konservasi dari sudut pandang keilmuan yang kami terima di Fakultas Sastra. Menulis. Ya, para pendahulu kami percaya bahwa dengan menulis kita pun bisa melakukan upaya pelstarian alam. Jadi jangan heran, tidak ada wall climbing yang tingginya menyentuh langit di sekitar rumah jingga kami. Bukan berarti kami menutup mata dengan bidang keilmuan yang lain. Karena kenyataannya semua ilmu kepencintaalaman itu pada akhirnya bermuara pada konservasi. Semuanya dipelajari untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan.

5-Lawan!!! Foto tahun 2008-

Rumah jingga bagi saya adalah tempat bermain, belajar dan melawan. Bermain menikmati hidup. Belajar mengerti hidup yang setara dengan alam. Belajar berbagi dengan semua mahluk ciptaan Tuhan. Belajar ilmu-ilmu kepencintaalaman ala barat. Dijejali ilmu konservasi ala kepentingan kapitalisme. Kemudian melawannya dengan mempelajari aneka macam kearifan lokal yang sesugguhnya lebih adil bagi nusantara ini. Disinilah kami mengenyam semuanya. Di sebuah tempat yang tak kan pernah terlupakan, rumah jingga. Meskipun mengalami perbaikan diberbagai sisi, sampai menghilangkan kolam ulang tahun kami –rumah jingga– masihlah menjadi tempat untuk mengenang semuanya. Tempat pulang yang paling nyaman. Lekat dan erat.

1-Salam dari kami, dari rumah jingga. Rumah bagi para pencinta :)-

Ada benci, suka, duka, cinta, luka. Semuanya pernah tumpah ruah mewarnai rumah jingga dengan kadar yang tak bisa di-angka-kan.Jangan ditanya ada berapa banyak kenangan yang menempel di setiap ruangannya. Sampai detik saya menuliskan kisah ini, semuanya mengalir deras dan membuat kotak memori meletup-letup. Kenangan. Semanis dan sepahit apapun rasanya, selalu menarik untuk diceritakan.

“A Place to Remember Giveaway”

???????????????????????????????

Segalanya Berawal Dari Langkah Pertama

11 Komentar

Suatu hari, Mas Eru Vierda menghubungi saya. Dia sedang punya gawe Giveaway My First Journey, dan meminta saya untuk menjadi juri. Wow. Agak sedikit kaget sih sebenarnya. Kenapa harus saya ya yang jadi juri? Takutnya, ada sedikit kekhawatiran dari peserta yang ikut. Jurinya koq enggak banget sih? Kayaknya bukan travel blogger deh, gak pernah nulis tentang mengunjungi suatu tempat yang keren. Ih jurinya kan pemabok (mabok darat) berat, gak yakin deh dia sering jalan-jalan. Segala pertanyaan itu terus terang menghantui saya. Hahahaa…

Akhir-akhir ini entah mengapa perjalanan selalu diidentikan dengan tempat wisata yang keren. Petualangan selalu juga diidentikkan dengan kegiatan alam bebas. Atau kalau nggak sebuah upaya eksplorasi yang kadang malah menjebak kita pada rusaknya potensi yang ada. Menurut saya perjalanan tak hanya sebatas pada destinasi saja. Tapi lebih pada intisari dan esensinya. Agar kita melihat dan merasakan apa yang kita temui. Lebih daripada itu, melakukan perjalanan adalah sebuah keputusan berani untuk menikmati hidup dengan cara yang berbeda. Meskipun sekarang ini hal seperti itu sudah sangat menjamur dan sedikit meleset dari apa yang saya bayangkan.

Jujur, saya selalu salut dengan mereka yang sering melakukan perjalanan kemudian menuliskannya di blog lengkap dengan foto-fotonya. Saya sendiri takut untuk melakukan itu. Ya, seringkali ketika mengunjungi suatu tempat saya akan sangat menahan diri untuk menuliskannya. Meskipun seringkali saya selalu tidak bisa menahan diri untuk upload fotonya di jejaring sosial. Pada akhirnya, saya ketakutan sendiri.

Seorang kawan, Ayos (pengelola Hifatlobrain) bahkan memutuskan tidak lagi menerima dan menulis kisah perjalanan yang berpotensi mencederai kualitas alam. Ada semacam perasaan berdosa ketika secara tanpa sadar kita turut serta melukai alam lewat tulisan ataupun foto yang menawarkan gambaran utopis suatu tempat. Arman Dhani juga pernah menuliskan tentang bagaimana keresahannya ketika sebuah stasiun TV swasta menayangkan sebuah acara untuk mengeskplore tempat-tempat yang masih perawan dan belum tersentuh. Saya sedih dan sedikit terpukul membaca tulisan dua kawan ini. Apakah saya juga termasuk di dalamnya?

Lho, ngomong apa saya di atas ? Sepertinya ngelantur. Oke, kembali ke topik utama ya:) Anggap aja yang di atas itu sekedar intro.

Segala hal besar, dimulai dari langkah pertama. Suatu perjalanan, juga diawali dengan langkah pertama. Tanpa itu, semuanya tak akan terwujud.

Dari keseluruhan peserta yang ikut, mempunyai pengalaman pertama yang luar biasa. Salut untuk semua peserta. Kisah-kisah yang dituliskan seolah hidup. Rasanya pingin deh milih semuanya jadi pemenang. Tapi sohibul hajat hanya memutuskan untuk memilih 4 orang pemenang saja. Penilaian yang saya lakukan dalam penulisan kisah perjalanan saya titik beratkan pada 4 unsur. Rekreatif, informatif , edukatif, dan kelengkapan pemenuhan syarat yg ditetapkan.  Di luar 4 unsur itu ada beberapa unsur pengikat lainnya. Diantaranya detail penceritaan, pengambilan ide, keunikan cerita dan pemilihan diksi yang tepat.

Terima kasih juga telah membawa saya menikmati bagaimana beratnya pendakian ke puncak gunung Lawu, Gede Pangrango, Sindoro Sumbing, Tangkuban Perahu dan Raung. Ada juga yang membawa saya ke Jerman, Lombok, Bandung, Bantimurung dan beberapa tempat lainnya. Terima kasih juga atas kenangan sewaktu bersepeda, pramuka, merantau, mencari kerja, perjuangan menuju masa depan sampai pada sebuah impian mulia menjadi dokter. Sungguh sebuah langkah pertama yang begitu mengesankan. Terima kasih sudah mengijinkan saya untuk menikmatinya.

Ada satu hal yang sulit kita bedakan. Saya juga pernah seperti itu. Perjalanan itu akan sangat menyenangkan bila dilakukan tanpa beban. Kalau ada beban, sudah bisa dipastikan saat itu kita sedang berlari. Sadar atau tidak. Tapi saya pribadi percaya, bahwa perjalanan adalah obat tak terkira untuk menyembuhkan luka. Ini semacam perjalanan hati yang juga membutuhkan proses yang begitu luar biasa. *Koq jadi curhat? Dikeplak pakai carier cagak :v *

Perjalanan selalu mengajarkan sesuatu. Tergantung pada si pemilik raga, apakah dia dapat mengambil hikmah atau hanya sekedar melewatkannya. Bukan semata tentang puncak gunungnya, tapi tentang menikmati sebuah perjalanan. Mengenali batas-batas kesanggupan dan kelemahan, bersabar dan bersahabat dengan keadaan, serta pada akhirnya merendahkan diri di hadapan Sang Pemilik Segala Ciptaan.

Cara menikmati hidup setiap orang memang berbeda. Meski kadang cara menikmati harus bertentangan dengan ladang yang sedang dihuni belalang. Untuk mengawali perjalanan hanya tentang melawan rasa takut dan malas. Setiap puncak mempunyai medan perjalanan yang berbeda. Hanya dengan memulainya kita akan tahu cara menghadapi. Puncak tidak akan pernah didapat tanpa langkah awal. Bahkan karena takut dan malas tidak akan ada sekedar cerita tentang perjalanan. Sebelum membunuh waktu, kita harus bisa membunuh rasa takut dan malas untuk memulai.

Itu semua adalah langkah awal yang keren. Terima kasih semuanya. I love you all :* Lalu, apakah saya juga punya langkah pertama untuk memulai petualangan menikmati hidup seperti ini? Semuanya tentu saja berawal dari foto di bawah ini. Ya, sampai bertemunya saya dengan sang suami pun berawal dari foto di bawah ini :)

diklatHayo tebak saya yang mana? Rahasia :P

Hari Pelangi Untuk Kelor

14 Komentar

Segala mcam ilmu kepencintaalaman itu nantinya akan bermuara pada konservasi. Jangan terjebak naik gunung. Inti dari kepencintaalaman adalah berbagi untuk sesama. Salam Lestari

Kelor di punjak Raung Sejati | Segala macam ilmu kepencintaalaman akan bermuara pada konservasi. Inti dari pencinta alam adalah berbagi untuk bumi dan seluruh isinya. Salam Lestari!!!

Entah bagaimana awalnya saya mengenal sosok perempuan lincah ini. Suatu ketika, di penghujung tahun 2009 saya mengunjungi sebuah sekretariat PA Mahadipa. Rencana awal kesana adalah untuk ngopi. Waktu itu saya dan suami belum menikah. Iseng kami membuka beberapa file foto dies natalis yang diselenggarakan oleh Mahadipa. Tiba pada satu foto, saya dan suami tercengang. Pandangan kami bertumpu pada sosok gadis yang sedang makan bersama dengan beberapa kawan pencinta alam lainnya.

“Mas, kok rasanya saya ingin kenal lebih dekat dengan cewek yang ada di foto itu ya?”

“Kenapa?”

“Saya nggak tau alasannya Mas, hehe.”

Saya sendiri bingung dengan permintaan yang tak punya alasan. Tapi Mas Hakim langsung menyanggupi untuk mencari sosok gadis yang ada di foto tersebut. Pencarian dicari dengan jalur apapun. Baik lewat dunia maya maupun nyata. Akhirnya sampailah pada hasil yang sangat memuaskan. Indana Putri Ramadhani, adalah nama lengkapnya. Namun kebanyakan teman pencinta alam memanggilnya Kelor.

Perjumpaan kami waktu itu ketika mengunjungi sebuah expo yang diselenggarakan oleh FTP Unej, tempat kuliah si Kelor. Kebetulan Khatulistiwa (organisasi PA yg Kelor ikuti) juga mengadakan pameran. Dari sanalah perkenalan dimulai. Kelor adalah sosok yang manis dan tomboi. Kala itu saya senang sekali bisa berkenalan dengannya. Dari sana mulai berlanjut pertemuan-pertemuan selanjutnya. Hingga tanpa saya sadari Kelor sudah seperti adik sendiri.

Ketika Kelor kelayapan tengah malam saya ngamuk-ngamuk. Ada cowok yang usil, saya marah. Ia hanya menaggapinya dengan cengar-cengir. Entahlah, bagi saya Kelor berbeda. Tomboi namun suka mewek dan berharap sesuatu yang romantis pada cowoknya. Saya tahu, sudah beberapa kali kehidupan asmaranya kandas. Namun itu tak membuatnya berhenti berceloteh. Tak merenggut kebahagiaannya. Ia selalu kocak, meskipun dalam hatinya meringis. Tapi, ada juga sih masa-masa galau yang sudah kronis. Sebegitu parahnya, ia bisa sampai update status setiap menit. Itu berarti Kelor sedang galau, marah, kesal, dan sebagainya. Semuanya bisa kena imbas kalau dia sedang marah. Mulai dari vespa mogok sampai penjual nasi bungkus yang melayani pelanggannya dengan lambat pasti akan dengan mudahnya kena imbas kemarahanmu. Itu, kamu banget Lor, haha.

Beberapa kali tak sukses dalam hal asmara, seringkali membuat saya tak rela bila ia terlalu dekat dengan cowok yang tak pernah punya keinginan serius dengannya. Sejujurnya, ini alasan kenapa setiap cowok yang dikenalkan selalu saya sambut dengan judes. Lebih parahnya lagi, bahkan membuat si cowok ilfil hanya dengan menunjukkan foto waktu Kelor tidur. Sebagai catatan, ia tidurnya gak karuan. Dijamin yang lihat bakalan ilfil. Sebenarnya ini saya lakukan karena saya tahu, Kelor akan terluka lagi. Sebenarnya saya tahu, kalau si cowok tak pernah serius sama Kelor.

Percayalah, Kelor akan lebih cantik kalau foto seperti ini daripada foto pethakilan dan kelihatan giginya :P

Percayalah, Kelor akan lebih cantik kalau foto seperti ini daripada foto pethakilan dan kelihatan giginya :P

Suatu hari Kelor pernah bercerita bahwa 27 Maret adalah hari pelangi. Ia mendapatkan cerita dari Pak Budi, salah satu jagawana di Taman Nasional Meru Betiri. Sepertinya cocok sekali dengan karakter yang terlahir pada tanggal tersebut. Pelangi adalah simbol kekuatan yang muncul setelah hujan. Bukan kekuatan yang keras, tapi kekuatan yang indah dengan banyak warna. Warna disini melambangkan sifat keterbukaanmu kepada siapa saja. Kadang sempat mengkhawatirkan, karena takut ada yang memanfaatkan. Kemunculan Kelor selalu disambut ceria oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Kamu boleh mengutuk rasanya sakit hati, tapi jangan lupa bahwa itu adalah utusan Tuhan. Jangan pernah lupa atas skenario indah yang sudah disiapkan Tuhan. Adakalanya Tuhan memang mempertemukan kita dengan orang yang tidak tepat untuk mengantarkan kita pada orang yang tepat. Akan ada banyak ujian dan rasa sakit yang kita lewati untuk memantapkan hati pada satu pilihan. Adakalanya Tuhan menguji komitmen kita, untuk menyiapkan ke jenjang yang lebih indah. Percayalah, Tuhan tahu apa yang kita butuhkan.

Sekarang adalah hari pelangi, bersamaan dengan lahirnya seorang perempuan ceria yang kini berusia 22 tahun. Selamat hari pelangi. Selamat hari lahir, semoga senantiasa bahagia. Dalam hidup, cita, keluarga, cinta, sehat, rizki dan lingkungan. Jangan pernah merasa tua, karena usia dunia masih jauh lebih tua. Jangan merasa ditinggalkan hanya karena banyak teman seangkatan yg sudah lulus. Jangan pernah terpuruk ketika tersakiti. Kelor adalah pelangi, kekuatan yang datang selepas hujan dan badai. Semangat!

Salam Lestari,

@apikecil

Untuk Teman Bicaraku Sampai Tua

26 Komentar

IMG_9282

Saat aku menuliskan ini, kau tertidur di sebelahku. Dengan menyisakan separuh bantal dan selimut untukku. Mungkin karena terlalu lelah mengejar matahari sore tadi. Saat menuliskan ini, sesekali kulihat bulu matamu yang mengerjap. Aku berdoa, kita akan tetap seperti ini sampai batas waktu yang tak terbatas. Tidur sebantal berdua dan berbagi selimut untuk saling menghangatkan. Tidur sebantal berdua dan saling bercerita. Sesekali menyanyi bersama dan menyecap kopi dari cangkir yang sama.

Dua tahun terakhir ini aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar bisa memberikanmu hadiah paling istimewa. Untukmu. Untukku. Untuk kehidupan kita. Namun sepertinya Tuhan masih belum berkehendak memberikannya. Tuhan ingin kita bersabar, meskipun banyak orang yang mencemooh. Tuhan masih ingin menguji kesabaran kita. Meskipun banyak orang yang memandang remeh, sekalipun kita sudah berusaha dengan jatuh bangun bahkan nyungsep sekalipun. Pada saat seperti itulah aku tahu kenapa Tuhan menakdirkanmu menjadi imamku. Karena cuma kau yang mampu memeluk kehidupanku dengan begitu tulus dan ikhlas. Terima kasih Tuhan.

Kau pernah bilang, butuh teman bicara sampai tua. Aku juga butuh itu. Ketika menyadari bahwa ternyata kita saling membutuhkan, saat itu juga kita memutuskan untuk menjalani hidup bersama. Menikmati hidup bersama, dan menjadi teman bicara sampai dalam hitungan waktu yang tak terbatas.

Terima kasih semesta…

Untuk lelaki yang selalu mengajakku menikmati senja, kita telah memulai semuanya dengan banyak harapan dan doa. Bahkan sejak belum bertemu, doa-doa kita sudah membola salju dan saling berpelukan diudara. Doa itu bermuara pada takdirnya sejak aku pertama kali menjejakkan kaki di kotamu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku bahkan pernah berjanji akan menghapal wajahmu seumur hidup. Tuhan mendengarnya, dan kini kita bisa saling melihat setiap saat.

Apakah kau tahu seperti apa itu cinta? Bagiku cinta adalah teman yang selalu ada. Teman yang ikhlas dan rela ada di kehidupan kita sampai tua. Teman yang tak pernah berfikir untuk menikam kita dari belakang. Dan bagiku, cinta adalah ketika kita dengan rela dan ikhlas saling berbagi di kehidupan kita. Berbagi cerita, kenangan, kebahagiaan, maupun kesedihan. Cinta akan tetap ada bila seluruh semesta saling berbagi.

Untuk lelaki yang rela mengetuk pintu kamar sambil berdansa ala kadarnya demi memberikan surprise durian idaman, selamat menikmati hari dengan indah. Seindah perasaanmu yang selalu memahami dan rela antre di toko untuk membelikanku pembalut saat aku tak bisa bangun karena nyeri haid. Untuk lelaki yang selalu setia menungguku, akan selalu ada namamu dalam setiap doaku. Untuk Bapak anak-anakku nanti, semoga Tuhan semakin mendewasakan langkah-lagkahmu dalam memahami hidup ini. Yakinlah, semuanya akan indah pada waktunya. Untuk teman bicara yang rela tidur sebantal denganku sampai tua, selamat hari lahir. Semoga senantiasa berbahagia. Dalam hidup, cita, cinta, keluarga, rejeki, kesehatan dan lingkungan. Semoga senantiasa diberkahi dan dilancarkan segala urusannya baik di dunia maupun akhirat.

Untuk lelaki dengan sajak-sajaknya yang bersembunyi di bawah bantal, I love you :*

My Dream Vacation : Perjalanan Atas Nama Kenangan

11 Komentar

Semua orang punya perjalanan impian yang butuh diwujudkan. Sama seperti kebanyakan orang, saya juga punya mimpi-mimpi untuk melakukan sebuah perjalanan impian. Semoga suatu saat nanti semua mimpi ini akan terwujud. Saya, adalah orang yang mencintai kenangan. Atas dasar itulah perjalanan ini dimulai. Sebuah perjalanan atas nama kenangan. Memori kadangkala memberikan efek kekuatan yang luar biasa. Bahkan kadangkala terkesan lucu dan aneh di mata kebanyakan orang. Saya pernah menuliskan mimpi saya untuk mengunjungi sebuah stadion sepak bola di luar negeri. Tapi banyak tanggapan nyinyir dan miring. Ah, sudahlah. Setiap orang berhak punya kenangan dan hidup kuat di atasnya bukan? Karena itulah, saya tetap mempertahankan mimpi saya.

Perjalanan atas nama kenangan yang pertama akan saya lakukan adalah di : Desa Leuwinanggung No.19 RT.01 RW.02 Cimanggis, Depok 16956. Adakah yang bisa menduga arah perjalanan saya? Rasanya nama tersebut tak asing lagi bagi kebanyakan kita. Ya, disanalah berumah seorang legenda musik Indonesia. Iwan Fals. Dari kecil sampai kini, ada banyak inspirasi yang saya dapatkan melalui karya-karya beliau. Lewat lagu-lagu beliau lah kenangan saya dan Bob (Bapak saya) terikat manis. Masa-masa dimana keluarga kecil kami pernah jatuh bangun kemudian terjatuh dan kembali bangun. Rasanya, karya-karya beliau menjadi saksi perjalanan kehidupan kami. Sampai hingga saat saya berumah tangga, seringkali karya-karya beliau menjadi media pengingat akan kenangan yang telah berlalu.


Sumber foto : http://bits-r-us.net/iwan-fals-wallpaper

Saya dan Iwan Fals saat Beliau di Jember. Fotonya burem, karena yang motret grogi :)

Saya dan Iwan Fals saat Beliau di Jember. Fotonya burem, karena yang motret grogi :)

Saat masih bekerja, saya pernah mengajukan riset liputan ke Leuwinanggung untuk mengulas kisah hidup sang legenda. Sang legenda yang juga hidup di hati sebagian rakyat Indonesia. Namun tak pernah bersambut dengan baik oleh media tempat saya bernaung. Mungkin belum saatnya saya mewujudkannya saat itu. Semoga suatu saat kelak Tuhan berkehendak mewujudkannya. Amin.

Perjalanan impian yang kedua adalah ke sebuah stadion sepak bola di Firenze- Italia. Tempat dimana seorang Gabriel Omar Batistuta dilegendakan sebagai sosok yang membangkitkan kembali aura sepak bola bagi klub Fiorentina. Atas segalah jasa dan pengorbanannya untuk semua itu, dibuatlah sebuah patung yang berdiri tegak di depan Stadion Artemio Franchi.

batistuta01-myspace
Sumber foto : http://www.bola.net/editorial/totti-dan-10-pemain-spesial-di-serie-a-6.html

Sepak bola, Fiorentina dan Gabriel Omar Batistuta adalah tentang sebuah kenangan saat tertidur di pangkuan Bob ketika menemaninya begadang melihat klub kesayangan berlaga. Kenangan akan kamar bola yang dibuatkan Bob khusus untuk saya, putri kecilnya. Kenangan atas masa kecil yang mengajarkan untuk selalu mencintai dengan ikhlas. Ikhlas meskipun klub kesayangan kita kalah dalam berlaga. Dan legowo saat pemain yang kita idolakan suatu saat nanti pasti akan menggantungkan sepatu bolanya. Ya, sepak bola adalah kenangan tentang sebuah keihlasan. Bukan lagi tentang cinta yang di luar logika, bukan lagi tentang kekerasan antar supporter. Hanya satu, keikhlasan. Saya ingin sekali merasakan udara dan debu yang penuh kenangan itu disana. Meniti setiap historis yang pernah begitu kuat di tempat itu.

Acre, sebuah provinsi di negara bagian Xapuri Brasil yang sebagian wilayahnya terdiri dari hutan Amazon masuk dalam perjalanan impian saya yang ketiga. Karena disanalah tempat lahir dan gugur seorang pahlawan hutan hujan tropis. Chico Mendes. Seorang yang berjuang untuk berdaulat di atas tanah moyangnya sendiri. Lepas dari segala tekanan kapitalisme dan segala primordialisme yang mengungkung tanah milik mereka sendiri. Sumber daya alam dikuasai sebagai kepentingan pribadi yang melupakan hak-hak rakyat kecil. Chico Mendes menorehkan sejarah yang tak pernah dilupakan dunia. Chico mati ditembak di rumahnya sendiri tepat menjelang hari kelahirannya di usia ke 40 tahun. Kematiannya membuka mata banyak pihak. Perlawanannya untuk menyelamatkan hutan Amazon tak akan pernah dilupakan oleh dunia.

historica-com-br
Sumber gambar : http://langkahawal-its.blogspot.com/2011/09/historica.html

Awal perkenalan saya dengan sosok Chico Mendes melalui sebuah film dokumenter berjudul The Burning Season. Di pertengahan 2005 itulah mimpi saya berawal. Saya harus mengunjungi tempat dimana seorang Chico Mendes pernah mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kedaulatan atas hutan amazon. Saya punya mimpi untuk kesana dan merasakan udara yang dulu juga pernah dihirup oleh seorang pahlawan hutan Amazon.

Perjalanan impian saya yang keempat adalah di sebuah yang tempat yang penuh dengan ornamen berwarna merah kuning dan hijau. Nine Mile, Saint Ann, Jamaika. Sebuah tempat yang riuh dengan musik reggae. Bahkan saat membaca postingan ini, Anda bisa mendengarkan sebuah nyanyian dari salah satu legenda musik reggae dunia tersebut. Disanalah lahir seorang Nesta Robert Marley. Saya butuh untuk menjejakkan kaki disana, menghentakkan kaki sesuai dengan irama reggae, menghirup udara seorang musisi kritis yang sering menyuarakan masalah sosial dan ketidakadilan lingkungan di sekitarnya. Saya berterima kasih atas udara itu. Udara yang sempat membuat seorang Bob Marley hidup dan mengeluarkan karya yang begitu luar biasa. Diakui ataupun tidak, lagu-lagu Bob Marley sempat punya pengaruh yang kuat di dunia.

bobbbbbbbBob Marley. Sumber gambar : http://urbanislandz.com/2012/10/29/bob-marley-ranked-number-5-forbes-rich-dead-celebrities-list/

bob marley mausoleumNine Mile Mausoleum, tempat dimana Bob Marley dilahirkan sekaligus dimakamkan

Sumber gambar : http://pangerandanang.blogspot.com/2013/02/bob-marley-inilah-makam-museum-dan.html

Bagi saya, lagu-lagu Bob Marley pernah sangat menemani saya sewaktu jatuh bangun dan nyungsep semasa kuliah dulu. Bahkan ketika saya harus terluka oleh sebuah keputusan. Emosi yang meletup-letup, kemudian pernah merasa sangat sendirian. Ketika sebuah keputusan pernah membuat saya terperosok ke sebuah genangan yang sangat menakutkan. Ah, terima kasih Bob. Lagu-lagumu mampu menenangkanku. Memerdekakanku dari sebuah ketakutan yang teramat panjang. Kamu, diutus Tuhan untuk mewarnai kehidupanku dengan lagu-lagumu.

Perjalanan impian saya destinasinya tidak bisa disebut sebagai tempat wisata. Keempat tempat tersebut adalah sebentuk ikatan emosional dan kekuatan yang menginspirasi saya untuk bertahan sedemikian rupa. Bertahan dengan jalan hidup yang seperti ini tentu saja. Semoga Tuhan memahami mimpi-mimpi saya untuk melakukan perjalanan tersebut, dan mempertemukan mimpi itu dengan takdirnya. Semoga Tuhan berkehendak atas mimpi-mimpi itu. Amin.

***
mydreamvacation

“MyDreamyVacation”

Syukuran di Bulan Maret : Mengenang Sang Patriot di Kehidupan Kami

113 Komentar

Postingan ini akan selalu berada di atas selama periode syukuran di bulan Maret berakhir (31 Maret 2014 pukul 23.59 WIB). Postingan terbaru ada di bawah postingan ini :)

***

banner

Tak terasa sudah tiba di pertengahan bulan Maret. Sujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala anugerah dan rahmatnya bagi seluruh semesta. Ada banyak momen spesial hadiah Tuhan yang jatuh di bulan ini. Dua puluh tiga Maret bulan ini suami memperingati hari lahirnya. Lima belas Maret–SWAPENKA–organisasi Pencinta Alam yang saya ikuti juga memperingati hari lahirnya. Novel terbaru Mbak Irma Devita–Sang Patriot–juga telah selesai cetak dan sudah beredar di Gramedia. Srikandi Blogger juga telah sukses diadakan KEB (Kumpulan Emak2 Blogger) di bulan Maret. Ada Blogger Bicara Lingkungan juga terselenggara di bulan Maret. Di balik semua anugerah itu, tentu saja ada beberapa berita duka yang sempat membuat kita jatuh bangun. Alhamdulillah, semua anugerah dan cobaan itu diberikan Tuhan sebagai pengingat untuk selalu bersyukur karena masih diingatkan dengan segala cara.

Dalam hidup ini, selalu ada saja yang terkenang. Rasanya sayang bila tak kita abadikan dalam sebuah karya. Bicara tentang kenangan, kadangkala ada sosok-sosok patriot dalam kehidupan kita. Sikap patriotisme memang identik dengan kepahlawanan. Namun, boleh dong kita punya sosok yang memang kita anggap patriot dalam kehidupan kita sendiri? Sosok patriot yang tak melulu diidentikan dengan perang yang berdarah-darah, tapi berperang dengan cara dan senjata mereka sendiri-sendiri. Bisa melalui tulisan, foto, lirik lagu, dsb. Semua orang punya sosok patriot yang bertebaran dalam kehidupannya.

Seorang Prit kecil bisa mempunyai cita-cita sendiri tentang kemerdekaan dan kedamaian hanya karena sering mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Ia juga rela begadang demi menonton pemain bola yang sangat dicintainya–Gabriel Omar Batistuta–agar bisa belajar bagaimana caranya ikhlas. Seorang Prit bisa punya mimpi besar tentang suatu hal hanya karena habis menonton film The Burning Season dengan Chico Mendes-nya. Seorang Prit akan terbangun dari ‘jatuhnya’ saat mendengarkan lagu-lagu Bob Marley.

Ketika jatuh, sosok-sosok patriot itulah yang akan membangunkan kita berkali-kali. Merekalah yang akan menyembuhkan kita dari luka-luka yang bahkan teramat dalam. Seperti halnya saya, yang akan selalu terbangun dari jatuh usai membaca puisi dari Bob (Bapak saya). Seperti halnya luka yang akan selalu cepat mengering bila di layar handphone tertera nomer Ibu. Seperti halnya kegelisahan yang akan mereda ketika melihat senyum tulus suami.

Bagi seorang Irma Devita, sang patriot adalah sosok kakek tercinta yang membuatnya terbangun. Kakek tercinta yang membuatnya tergugah untuk mengabadikan perjuangannya dalam sebentuk novel sejarah. Kakek tercinta yang membuatnya kembali belajar memahami sejarah dan kenangan. Kakek tercinta yang membuatnya untuk selalu menghargai sejarah. Sang patriot dalam kehidupannya adalah juga tentang seorang perempuan bernama Rukmini, wanita mulia berhati sekeras baja.

Sang patriot adalah sosok yang mampu menyembuhkan luka. Sosok yang pasti membuat kita selalu terbangun lagi tak peduli seberapa banyaknya kita terjatuh. Mereka adalah sosok-sosok yang membuat kita selalu belajar, bertahan dan memperjuangkan hidup dengan jujur serta ikhlas. Mereka adalah pelangi yang datang seusai badai.

Sebagai ucapan syukur sekaligus untuk mengenang sosok patriot dalam kehidupan kita, kami beberapa sedulur blogger dari Jember ingin membuat syukuran kecil-kecilan. Kami mengundang seluruh blogger dengan platform apapun untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam syukuran ini, dengan catatan alamat pengiriman hadiahnya di Indonesia :)

Syaratnya, cukup posting tulisan yang menggambarkan sosok sang patriot di kehidupan kita. Gambarkan semuanya sesuai dengan kata hati dan keinginan Anda. Gambarkan semua itu sesuka dan senyaman mungkin, tak ada batasan dengan jumlah kata. Agar kami juga bisa menikmatinya dengan indah. Di akhir postingan, sertakan tulisan : Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami dengan link mengarah ke postingan ini. Setelah itu, daftarkan url link postingan disini dilengkapi dengan nama lengkap.

Postingan dibuat mulai detik woro-woro ini diterbitkan hingga tanggal 31 Maret 2014 pukul 23.59 WIB. Pengumuman tamu yang berhak mendapatkan novel Sang Patriot akan diumumkan pada tanggal 3 April 2014 di blognya Mas Lozz Akbar. Sebagai juri, nantinya saya akan mendampingi suami membaca persembahan karya dari dulur-dulur semua.

Hadiahnya :

Hadiah

Akan ada 30 novel ‘Sang Patriot’ yang akan kami kirimkan kepada 30 tamu yang beruntung :)

Setelah acara syukuran ini selesai, nantinya akan diselenggarakan juga syukuran khusus atas terbitnya Novel Sang Patriot karya Mbak Irma Devita. Syukuran akan diadakan dalam bentuk review novel dengan hadiah yang masih dirahasiakan :) Insya Allah nanti diupdate disini hadiahnya. Tiga puluh pemenang yang mendapatkan novel gratis, otomatis sekaligus menjadi peserta review novel yang akan diadakah setelah syukuran ini. Yang masih belum menang di acara ini bisa langsung mendapatkannya di toko buku terdekat seperti Gramedia. Bila ada yang masih bingung bisa ditanyakan di kolom komentar atau di twitter saya @apikecil. Syukuran di bulan Maret ini didukung dan disponsori sepenuhnya oleh Mbak Irma Devita.

Catatan Penting :

Syukuran dan novel ‘Sang Patriot’ yang sedianya akan kami jadikan hadiah ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia perpolitikan di Indonesia. Tidak ada hubungannya dengan pileg apalagi pilpres. Tujuannya adalah murni untuk berbagi kebahagiaan kepada semua dulur blogger. Menjelang pileg dan pilpres ini memang saya dibuat galau setengah mati :( Semoga Indonesia baik-baik saja ke depannya. Lho, catatan pentingnya koq berasa curhat ya :P  Maafkan :)

Salam Lestari,

@apikecil

Older Entries