Tahun 1998 : Garis Hitam di Bawah Mata Seorang Gadis

40 Komentar

 

Sudah beberapa kali kau mengejutkanku. Ya, untuk beberapa sa’at aku melamun. Ketika kau bertanya, aku sendiri tak menyadari apa yang sebenarnya aku pikirkan. Aku juga tak tau, tiba tiba saja keadaan membuatku hanyut dan hanyut. Pelan tapi pasti, aku memang jatuh melamun. Setelah lama memikirkan alasannya, akhirnya kuputuskan bahwa itu adalah efek atas romantisme masa lalu yang muncul dan tenggelam dalam kehidupanku akhir akhir ini. Entahlah, mungkin aku hanya ingin sekedar mengenang.

Sore ini hujan turun dengan ganasnya. Ranting dan dedaunan terpelanting jatuh ke bumi. Angin mendesau resah, menerbangkan papan seng di atas rumah kami. Semua komponen alam raya menari dengan alunan angin dan bayu. Suasana ini membawaku larut. Semua kenangan diri muncul bersamaan dengan gelegar petir. Pancaran kilat seolah memutar ulang memori di otak, menampilkan beberapa film dengan peran utama seorang gadis dengan garis hitam di bawah matanya.

Ya, gadis itu adalah aku. Entah sejak kapan aku mempunyai garis hitam di bawah mataku. Aku tak pernah menyadarinya sejak awal. Mungkin sedari kecil. Atau mungkin sejak aku tak bisa menangis lagi di kota kelahiranku sendiri. jangan jangan, saat aku tak bisa merasakan apa apa lagi di kampung halamanku? Ah entahlah, aku tak mau terlalu memusingkannya. Terlalu susah untuk mencairkan sesuatu yang telah beku. Ini tak semudah mencairkan sekotak es yang dengan gampangnya meleleh ketika diletakkan di udara terbuka. Perasaan ini sulit untuk diterjemahkan. Terlalu rumit untuk diuraikan.

Masa kecil adalah masa menangkap kupu kupu, mencari buah asam yang berjatuhan, menjaring layang layang, bermain sepeda, menjadi obyek foto, tertawa lepas, berbahagia dan merdeka. Masa yang selalu menepati musimnya. Masa awal untuk menyadari bahwa menikmati matahari tenggelam di pematang sawah sambil makan kersen di gubuk adalah sebuah kemerdekaan yang tak ternilai harganya. Masa yang meyakinkan bahwa kampung halaman adalah tempat yang paling nyaman sampai kapanpun itu. Masa yang mempercayai bahwa tikam menikam itu tak kan pernah ada. Tapi itu hanya berlaku sampai kelas 6 SD.

Memasuki kelas 6 SD sa’at itu tahun 1998. Tahun dimana semua amarah dibakar. Orang menyebutnya reformasi. Dan di tahun itulah aku kehilangan semuanya. Mulai dari kematian seorang sahabat sekaligus kakak yang mengajari menjaring layang layang dan menangkap kupu kupu. Kecelakaan motor menewaskannya, saat itulah aku merasa tak bisa lagi melihat kupu kupu dan menikmati kersen saat matahari tenggelam. Aku sadar saat itu Tuhan memperlihatkan satu rasa padaku : sedih. Tuhan tahu aku benar benar terpuruk saat itu. Tapi DIA tak mengembalikan Mas Rony padaku. Saat itulah aku belajar tentang satu hal, bahwa bahagia itu selalu berdampingan dengan kesedihan. Tuhan menciptakannya agar kita tak merasakan salah satunya secara berlebihan. DIA membuatnya seimbang untuk menguatkan perjalanan kita. Tuhan membuktikannya padaku, menunjukan bahwa aku tak benar benar sendiri. Ada seorang sahabat kecil yang selalu menemaniku, Sandi namanya. Lagi

Membuka Telinga Untuk Hati Nurani dan Tersenyumlah

12 Komentar

Sebagai manusia yang katanya adalah mahluk sosial, kita terlalu sering mendengarkan apa yang orang lain katakan. Bahkan secara sadar ataupun tidak, kita sering mengabaikan apa yang ada dalam diri kita. Telinga kita tertutup untuk mendengarkan apa yang diri dan hati kita inginkan. Kita terlalu memaksakan untuk mengikuti arus yang diciptakan oleh orang orang di sekitar kita. Mencoba mengikuti alur dan pikiran mereka, bahkan terlalu jauh meninggalkan diri kita sendiri. Dan yang terjadi adalah : lelah karena kita tak menjadi diri sendiri. Capek karena terlalu sering bersandiwara menjalankan peran seperti yang diinginkan orang orang di sekitar kita.

Faktanya, kita bukanlah satu satunya pribadi yang memiliki hak penuh atas diri kita sendiri. Ada banyak pribadi yang juga berhak atas diri kita. Orang tua, suami, sahabat, keluarga, pimpinan, rekan kerja, dan juga DIA – Sang Pemilik Semesta. Kita membawa semua itu dalam pundak kita, sehingga membuat jalan kita terasa berat dan kaku. Karena terlalu kaku, kita melupakan bahwa kita harus menjalaninya dengan menjadi diri sendiri.

Hubungan dengan DIA – Sang Maha Pencipta merupakan komunikasi dua arah yang berlangsung secara horizontal. Hanya kita dan DIA yang berhak tahu apa isinya. Tak ada seorangpun yang berhak mencampurinya. Pertanggung jawabannya pun atas nama kita pribadi. Bagi saya, ini adalah beban yang paling berat namun bisa dinikmati dengan indah dalam setiap jengkal proses kita memperindah dunia. Ikhlas dan syukur adalah kunci dalam hubungan ini. Setelah itu, proses ibadah yang lain akan secara otomatis mengikuti. Dalam tahap ini saya masih terus belajar dan belajar.

Terkadang tekanan yang paling berat kita dapatkan dari orang orang di sekitar kita. Masalah taraf pendidikan, taraf hidup, pekerjaan, gaya hidup dan banyak hal lagi yang membuat kita tertekan. Semuanya bergulir di sekitar kita. Semua orang di sekitar kita seolah menuntut untuk menjadi seperti mereka. Menjadi seperti yang mereka inginkan. Menjadi seperti arus dan gaya hidup yang sedang digandrungi. Menjadi orang yang berbasa basi sebagai tameng untuk bersosialisasi. Ini yang membuat kita diteror habis habisan. Menjadikan hidup adalah sebuah ketakutan besar.

Kita lupa bahwa teror yang paling besar sebenarnya adalah ada di dalam diri kita sendiri. Ketika tak sesuai dengan apa yang hati dan diri kita inginkan, semua rasa itu berontak. Kita tak pernah menyadarinya, karena tak pernah membuka telinga untuk hati nurani kita. Terlalu sering mendengarkan kicauan burung yang lebih banyak mudharat-nya (berbeda dengan nasehat dan masukan lho ya!), membuat kita lupa bahwa kita adalah pribadi yang kuat. Kita adalah pribadi yang luar biasa bagi diri kita sendiri, suami, dan keluarga kecil kita. Kita tak pernah mendengarkan semua yang dibisikan oleh hati nurani.

Ketika Lelah, Buka Telinga Untuk Hati Nurani

Lelah dalam menjalani alur kehidupan ini? Itu adalah hal wajar yang sering dialami banyak orang. Saya yakin semua orang pernah mengalaminya. Tapi percayalah, bahwa rasa itu adalah sebuah petanda bagi kita untuk berhenti memainkan peran yang selama ini kita mainkan. Rasa itu mengajarkan pada kita untuk kembali menjadi diri sendiri. Lupakan orang orang yang sering memojokkan kita dengan hal hal yang akan menguras energi hati dan diri. Coba buka telinga, dengarkan hati nurani kita.

Adakalanya kita memang harus mendengarkan semua yang orang katakan. Namun ketika perasaan diri dan hati lelah mengikuti semua alur yang dibuat, lepaskan semuanya dalam sekali hembusan nafas yang diakhiri senyuman. Sudah sa’atnya istirahat dari semua gegam gempita teror yang ada. Lupakan semuanya untuk sejenak. Beri kesempatan bagi diri untuk memuji dan mensyukuri apa yang telah kita terima dari-Nya. Buka kesempatan bagi diri untuk bernyanyi dan mendengarkan nyanyian suara hati.

Hidup memang tak selalu mulus dan indah, namun bisa kita nikmati dengan indah dalam keadaan apapun. Tersenyum kepada-Nya, kepada alam sekitar, kepada semua mahluk ciptaan-Nya, dan juga tersenyum pada diri kita sendiri. Hal kecil dan paling mudah dilakukan namun memberikan efek yang begitu luar biasa bagi kehidupan kita.

“Tulisan ini sebagai Inspirasi untuk Catatan Hati 10 Maret 2012 – @yankmira #1 Giveaway”

Monolog : Kepada Yang Bernama Kenangan…

44 Komentar

Jalan jalan itu pernah kulewati. Yang dahulu hanya setapak penuh kerikil nan ceria, kini sudah berganti dengan paving yang lebih tertata namun terkesan angkuh dan rakus. Sangat angkuh seakan mereka hendak menelan badanku hidup hidup. Banyak perubahan yang mebuatku sedikit terhenyak, dan lebih banyak lagi tersenyum. Mungkin itu hanyalah sebentuk cara untuk mengekspresikan apa yang aku lihat.

 Ah, rasanya aku harus menelan bercangkir cangkir kopi untuk menyelesaikan catatan yang sudah aku mulai ini. Entah apa yang sedang aku pikirkan, rasanya terlalu berat untuk ku urai lagi satu persatu bagiannya. 

Seperti halnya melihat film. Semua penonton pasti mengharapkan akhir yang indah (baca : happy ending). Entah karena menganut paham itu atau tidak, yang jelas mereka begitu kecewa jika film itu berakhir sedih. Dan aku tak tau, catatan ini ibaratnya sebuah film atau bukan di mata mereka.

Semuanya terjadi begitu tiba tiba, seolah tak memberiku kesempatan untuk berteriak. Rasanya aku sudah berteriak, namun sepertinya suaraku tak pernah sampai tepat sasaran. Terkadang penerimaan bukanlah menjadi solusi yang tepat atas sebuah keputusan. Butuh beribu alasan yang benar benar masuk akal untuk menjadikannya sebuah kata : ikhlas. Lagi

Ini Bukan Ucapan Selamat Tinggal, Mas…

85 Komentar

Beberapa hari lalu aku menulis Mas. Tepatnya hari Kamis, tertanggal 23 Februari 2012. Sebuah tulisan fiksi yang secara implisit menggambarkan tentang dirimu. Otak bawah sadarku menggiring jemari ini untuk menuliskannya. Sabtu dini hari sa’at aku terlelap, suami membangunkanku. Mengabarkan warta yang enggan kudengar. Kau telah berpulang ke pangkuan-Nya. Rasanya sulit mencerna semua yang kudengar. Aku menerimanya dalam bentuk patahan patahan, enggan mendengarnya secara nyata. Aku takut mendengar kenyataan bahwa kau benar benar pergi. Semakin takut, semakin sadar bahwa itu warta yang nyata. Dan aku pun tak bisa membendung air yang keluar dari mata ini. Tuhan punya cara sendiri untuk melepaskanmu dari belenggu rasa sakit itu, Mas…

Kapan terakhir kita ketemu Mas? Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ya, sa’at itu bertepatan dengan peringatan hari bumi, 22 April 2011. Kita dan beberapa kawan sedang ada di acara bertajuk lingkungan di Sukamade – Banyuwangi. Tak dapat dipungkiri,semangatmu sa’at itu benar benar luar biasa. Benar benar membakar. Perjuanganmu dalam masalah lingkungan memang selalu membuat semua orang kebat kebit. Dan pada akhirnya, semua orang akan tau bahwa apa yang kau perjuangkan tak kan pernah sia sia. Mohon ma’af  Mas, bila ada kesan yang kurang berkenan dalam acara itu (tragedi truk mogok di tengah hutan).

Ini kebersama’an terakhir kita Mas. Kau (Alm. Mas Bibin memakai kaos dengan logo Pro Fauna berwarna hitam) berdiri tepat di sampingku (aku memakai kerudung berwarna pink)

Ini sa’at truk kita macet Mas, beberapa rombongan turun untk menariknya dengan tambang. Ingatkah kau dengan suasana yang riuh itu? Dan ingatkah kau sa’at itu adik kecilmu ini menangis dengan egoisnya…

Sa’at perjalanan pulang, truk yang kita tumpangi tidak bisa lewat karena ada truk lain yang mogok di tengah hutan (jalan hanya bisa dilewati satu truk saja). Kau tau sa’at itu aku sedang gelisah dan ingin segera sampai karena ada acara lain yang menunggu. Dengan segala cara kau berusaha membuatku terhibur dan tersenyum. Tapi sa’at itu aku adalah adik kecilmu yang rewel dan ingin segera pulang. Aku tak tahu, kenapa harus seegois itu. Kita dan rombongan menunggu beberapa jam, dan akhirnya kau memutuskan agar rombongan berjalan kaki dan menunggu di pos TN di bawah. Untuk mencapai tempat tersebut kita harus melakukan perjalanan yang panjang. Berjalan kaki dan sesekali numpang di mini truk milik penduduk. jam tiga sore rombongan secara berkala sampai di pos TN. Ini sudah melampaui waktu yang diperkirakan, mengingat keberangkatan kita dari Sukamade jam 7 pagi. Harusnya jam 3 sore ini aku sudah bisa sampai di jember. Lagi

Entri Lama