Sudah beberapa kali kau mengejutkanku. Ya, untuk beberapa sa’at aku melamun. Ketika kau bertanya, aku sendiri tak menyadari apa yang sebenarnya aku pikirkan. Aku juga tak tau, tiba tiba saja keadaan membuatku hanyut dan hanyut. Pelan tapi pasti, aku memang jatuh melamun. Setelah lama memikirkan alasannya, akhirnya kuputuskan bahwa itu adalah efek atas romantisme masa lalu yang muncul dan tenggelam dalam kehidupanku akhir akhir ini. Entahlah, mungkin aku hanya ingin sekedar mengenang.
Sore ini hujan turun dengan ganasnya. Ranting dan dedaunan terpelanting jatuh ke bumi. Angin mendesau resah, menerbangkan papan seng di atas rumah kami. Semua komponen alam raya menari dengan alunan angin dan bayu. Suasana ini membawaku larut. Semua kenangan diri muncul bersamaan dengan gelegar petir. Pancaran kilat seolah memutar ulang memori di otak, menampilkan beberapa film dengan peran utama seorang gadis dengan garis hitam di bawah matanya.
—
Ya, gadis itu adalah aku. Entah sejak kapan aku mempunyai garis hitam di bawah mataku. Aku tak pernah menyadarinya sejak awal. Mungkin sedari kecil. Atau mungkin sejak aku tak bisa menangis lagi di kota kelahiranku sendiri. jangan jangan, saat aku tak bisa merasakan apa apa lagi di kampung halamanku? Ah entahlah, aku tak mau terlalu memusingkannya. Terlalu susah untuk mencairkan sesuatu yang telah beku. Ini tak semudah mencairkan sekotak es yang dengan gampangnya meleleh ketika diletakkan di udara terbuka. Perasaan ini sulit untuk diterjemahkan. Terlalu rumit untuk diuraikan.
Masa kecil adalah masa menangkap kupu kupu, mencari buah asam yang berjatuhan, menjaring layang layang, bermain sepeda, menjadi obyek foto, tertawa lepas, berbahagia dan merdeka. Masa yang selalu menepati musimnya. Masa awal untuk menyadari bahwa menikmati matahari tenggelam di pematang sawah sambil makan kersen di gubuk adalah sebuah kemerdekaan yang tak ternilai harganya. Masa yang meyakinkan bahwa kampung halaman adalah tempat yang paling nyaman sampai kapanpun itu. Masa yang mempercayai bahwa tikam menikam itu tak kan pernah ada. Tapi itu hanya berlaku sampai kelas 6 SD.
Memasuki kelas 6 SD sa’at itu tahun 1998. Tahun dimana semua amarah dibakar. Orang menyebutnya reformasi. Dan di tahun itulah aku kehilangan semuanya. Mulai dari kematian seorang sahabat sekaligus kakak yang mengajari menjaring layang layang dan menangkap kupu kupu. Kecelakaan motor menewaskannya, saat itulah aku merasa tak bisa lagi melihat kupu kupu dan menikmati kersen saat matahari tenggelam. Aku sadar saat itu Tuhan memperlihatkan satu rasa padaku : sedih. Tuhan tahu aku benar benar terpuruk saat itu. Tapi DIA tak mengembalikan Mas Rony padaku. Saat itulah aku belajar tentang satu hal, bahwa bahagia itu selalu berdampingan dengan kesedihan. Tuhan menciptakannya agar kita tak merasakan salah satunya secara berlebihan. DIA membuatnya seimbang untuk menguatkan perjalanan kita. Tuhan membuktikannya padaku, menunjukan bahwa aku tak benar benar sendiri. Ada seorang sahabat kecil yang selalu menemaniku, Sandi namanya. Lagi






Obrolan Kecil