Beranda

Teliti Sebelum Membeli, Cek Harga Dulu di Priceza.co.id

1 Komentar

Sebagai Ibu rumah tangga yang juga merangkap sebagai manager keuangan, tentu harus cerdas dan cermat sebelum membeli. Kalau di pasar, kita bisa berkeliling dari satu toko ke toko lainnya hanya ustuk selisih harga 500 perak demi mendapatkan barang dengan kualitas yang sama. Hal inilah yang seringkali dipusingkan oleh kaum lelaki. Perempuan bisa berjam-jam melewati beberapa toko hanya karena mencari harga termurah. Rasanya seperti menang lomba kalau bisa dapatkan harga termurah dengan kualitas barang yang sama seperti toko-toko lainnya. Tapi bagi saya, justru inilah seninya berbelanja. Haha.

Itu kalau di pasar ya. Bagaimana kalu beli di toko online? Yang tidak bisa kita datangi dan lihat secara langsung barangnya? Yang cuma bisa kita lihat gambarnya saja, tanpa bisa diraba. Tenang, banyak toko online yang sudah terpercaya akan kualitas dan no tipu tipu. Untuk ngecek perbandingan harga dari satu olshop satu ke olshop lainnya juga gampang kok. Kalau harus sekrol sekrol dan pindah tab kan lumayan pegel ya. Apalagi kalau online-nya memakai hape. Tentu tidak efisien, apalagi buat orang yang tidak sabar. Belum lemotnya. Belum paketan habis. Bisa stress sendiri, hehe.

Sekarang sudah ada situs yang khusus untuk cek perbandingan harga di toko online. Yup, cukup dengan mengunjungi priceza.co.id, kita bisa melacak harga-harga di beberapa toko online yang menyediakan barang yang kita cari. Dari sana bisa dilihat, mana harga yang paling murah. Lebih efisien daripada harus pindah tab sana-sini. Ibu rumah tangga gak mau rugi waktu dong! Hihihi.

Contohnya seperti ini ya. Cari produk yang diinginkan di list kategori. Kalau sudah ketemu, klik barang yang dimaksud. Bisa dilihat di gambar di bawah ini ya. Barang yang saya cari adalah Smartfren Andro Max Tab 7.0. Setelah itu, klik ‘bandingkan harga’ nanti akan muncul beberapa perbandingan harga dari beberapa toko online yang ada atas barang yang kita maksud.

priceza-1

priceza2

Sebelum priceza.co.id ini memang ada situ perbandingan harga, tapi list barangnya terbatas. Kalau di priceza.co.id ini pilihannya banyak. Mulai dari IT dan Komputer, laptop, tablet, hape, alat elektronik, kosmetik, fashion, produk kesehatan, alat elektronik, buku, produk untuk ibu dan anak, konsumsi otomotif serta beberapa jenis barang lainnya.

Bagaimana Ibu-Ibu, siap berbelanja online dengan cerdas, cermat dan teliti? Jangan sampai ada harga murah yang terlewat ya. Cek harga dulu di priceza.co.id sebelum berbelanja, jangan sampai ada penawaran yang terlewat, hehe.

Giveaway 66 : Dangdut Cerdas on The Blog – Orkes Sakit Hati

10 Komentar

‘Orkes Sakit Hati’ merupakan lagu yang populer dinyanyikan band SLANK. Dirilis pada tahun 1999 dengan judul album 999+09.

Saya bersama kawan-kawan dari Sudut Kalisat membawakannya kembali untuk berpartisipasi dalam Giveaway Dangdut On the Blog, yang diselenggarakan Pakdhe Abdul Cholik.

Semoga persembahan sederhana ini bisa turut menyemarakan hari Pakdhe sekeluarga. Selamat hari lahir  ke 66, sehat dan selalu bahagia.

Salam hormat untuk Om NH selaku dewan juri.

Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dalam video ini.

Salam sayang dari kami di Kalisat, sebuah desa kecil di wilayah Jember bagian utara.

***

Baner-Giveaway-66-Dangdut-Cerdas-On-the-Blog

 “Artikel ini diikutsertakan pada Giveaway 66 Dangdut Cerdas on The Blog”

Sejak Sepuluh Hari Lalu

4 Komentar

Zuhana AZ

Terhitung sejak terjadinya gerhana matahari total, sepuluh hari yang lalu.

Ketika itu kau tampak sangat lelah. Sudah barang tentu. Kita baru saja melakukan perjalanan Tuban-Gresik di siang yang terik, terdampak macet yang menyiksa di jalur Widang-Babat. Kita hanya sebentar di Gresik, kemudian berlabuh sejenak di Surabaya. Perjalanan berikutnya adalah dengan kereta api Mutiara Timur, Gubeng-Kalisat.

Kereta yang kita tumpangi tiba di stasiun Kalisat pada dini hari, detik-detik menjelang gerhana matahari total. Dari stasiun ke rumah kontrakan, kita jalan kaki dengan gembira. Kadang, tawamu dan tawaku memecah kesunyian. Di saat yang lain, tawamu mengagetkan sekumpulan lelaki yang sedang mojok di keremangan. Mulanya aku bergidik. Resah. Kau tetap dengan sisa tawamu. Salah satu dari lelaki yang berkumpul itu, ia menyapamu ramah. Syukurlah.

Sesampainya di rumah.

Sementara aku memejamkan mata, kamu menolak untuk tidur. Seolah-olah kau ingin bilang, “Aku sedang ingin berdua-duaan dengan Sroedji.”

Ketika aku terbangun, kau memanjakanku dengan foto-foto gerhana. “Lihat, aku mengumpulkan foto gerhana untukmu. Ini sejarah semesta, sedangkan kulihat kau tertidur lelap. Maka, kusimpan beberapa foto untukmu.” Tapi kau sendiri tak tidur. Matamu kuyu. Layar monitor di depanmu menunjukkan jika kau sedang menulis sesuatu, perkara Agresi Militer. Wajahmu berminyak, tapi tetap saja mencoba tampil ceria, dan tetap menunjukkan foto-foto gerhana.

Tak tahukah dirimu, aku hanya ingin kau terlelap.

Hari-hari berikutnya, kau ada di antara buku-buku, serta lembar-lembar kertas yang sebagiannya adalah hasil dari tulisan tanganmu sendiri. “Catatan ini cukup membantu ketika aku diserang lupa,” katamu. Iya. Kita adalah pasangan yang pelupa. Tapi bukan itu. Aku mengerti, pengetahuanmu dalam kepangkatan militer sungguh tak hebat. Lelaki, aku tak mengenalmu selama sehari dua hari saja. Kita lebih dari itu.

Jember, 10 Maret 2016

Kita memang sempat ke Puncak Garahan, menikmati nasi pecel bersama-sama. Seorang sahabat dari Kalisat sedang merayakan hari lahirnya. Tapi itu ketika hari telah malam. Dari pagi hingga menjelang Isya’ hari-harimu hanya bersama setumpuk buku, coteran-coteran, serta wajah yang berminyak. Aku ingin menolak setiap kali wajahmu memohon untuk kubuatkan wedang kopi. Tapi aku tak bisa. Aku tahu, engkau butuh itu.

Esok harinya, pagi-pagi sekali, aku berangkat sendiri ke Prosalina. Matamu kuyu. Kubilang padamu, sebentar lagi tidurlah, sementara aku berangkat. Hari masih terlalu pagi ketika aku –bersama Rere jurnalis RJ– diserang jambret di perempatan kota yang ramai, tapi aku baru menceritakan itu padamu menjelang Maghrib. Sungguh aku takut, jika ketakutan itu kuceritakan padamu, hanya akan mengganggu kemesraanmu bersama buku-buku dan catatanmu.

Setelah kejadian itu, kau memaksa untuk mengantarkan aku, pagi-pagi sekali. Matamu kuyu, wajahmu berminyak. Aku bilang padamu, “Nanti saja ketika aku sudah selesai, jemput aku.” Sebab aku ingin kau punya waktu untuk terlelap.

Ketika menjemputku, matamu merah. Sepertinya kau sedang marah pada sesuatu. Ketika kutanyakan itu, kau berubah memasang senyum manis. Tak ada lagi warna merah yang marah. Belakangan aku tahu, hari ini kau menerima banyak kabar, dan kau belum lagi tidur. Kabar pertama datang dari kedua adik kita dari SWAPENKA –sebuah organisasi pencinta alam di sastra– yang mengabarkan tentang ‘miss communication’ antara mereka dengan salah satu dosen jurusan Ilmu Sejarah. Mereka datang ke Kalisat dan berkisah, kau tak sempat terlelap. Kabar berikutnya adalah kabar yang banyak sekali, aku malas untuk menuliskannya.

Aku masih mengingatnya, hari dimana kau tampak ceria sekali. Aku tanya, “Ada apa?” Mulanya kau hanya tersenyum, lalu bilang, “Bu Ratna sedang melengkapi data-data untuk naskah akademik. Jadi, mari kita jalan-jalan sejenak.” Oh, tentang itu lagi rupanya.

Esok harinya, kau tampak lebih santai dari biasanya. Aku sungguh bahagia demi melihat wajahmu tak lagi berminyak di depan layar monitor, dan matamu tak lagi kuyu. Tapi itu hanya berlangsung hingga sore hari. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba kau sudah kembali dengan setumpuk catatan itu. Kau bahkan melewatkan malam renungan yang hanya berlangsung setahun sekali, tepatnya di tanggal 14 Maret menuju 15 Maret. Iya benar, itu hari lahir SWAPENKA, tempat dimana dulu kita berjumpa dan berproses bersama.

Malam itu kau bilang, sudah tidak cawe-cawe lagi dengan naskah akademik. Kupikir, setelah lima hari empat malam yang melelahkan, semuanya telah berakhir. Aku turut bahagia. Dengarlah lelaki, aku punya setumpuk kisah yang ingin kututurkan padamu, di setiap kali kita akan terlelap, di beberapa saat sebelum kita melantunkan doa, “Bismikallah huma ahya wa bismika ammut.”

Pada kenyataannya, di hari-hari selanjutnya kau masih saja berada di antara tumpukan kertas yang sekali tempo bercecer tak beraturan. Tak tega rasanya melantunkan kisah padamu, lelaki sahabat sebantal. Bahkan untuk menceritakan kerinduanku pada Almarhum Lik Ming pun aku tak tega.

Kau memang terlihat lebih santai dan pelan, dibanding lima hari pertama. Matamu tak sangat kuyu, wajahmu tak begitu berminyak. Kau bahkan menyempatkan diri untuk manjer beberapa halaman jejaring sosial. Tapi kini, ketika aku bertanya tentang sosok pejuang Sroedji, jawabanmu terlalu berbelit-belit, seperti sedang menuturkan tentang Teknik Penulisan Sejarah beserta metode-metode ikutannya.

Tak tahukah dirimu bahwa itu sangat menyebalkan?

Lelaki, dimana hilangnya kepolosan kisahmu? Dulu, ketika kau tidak tahu, kau akan bilang tidak tahu. Lalu, pelan tapi pasti, kau akan mencarikan jawabannya untukku. Tidak ngoyo tapi ajeg. Kini, ketika iseng kutanyakan hal yang senada, di saat tak mengerti jawabannya, kau akan mencarinya di buku-buku dan di slempitan catatan-catatanmu, saat itu juga. Lalu jawaban yang keluar dari bibirmu adalah sama saja seperti sederet catatan yang ada di dalam buku. Itu tentu baik, secara ilmu pengetahuan. Tapi aku mengerti, itu bukan untukku lagi.

Ceritakan Padaku Tentang Dia

Dulu sekali, aku pernah bertanya padamu tentang dia. Tentang seseorang yang gugur di medan perang. Tentang seseorang yang namanya dijadikan nama jalan di kotamu, dan di beberapa kota lain. Tentang seseorang yang sosoknya disimbolkan sebagai patung nan gagah di pelataran PEMKAB Jember. Lalu kau bercerita dengan mesra.

Aku suka ketika kau berkisah tentang sebuah sekolah dasar di Jember yang beralamatkan Jalan Letkol Moch. Sroedji No. 250 Patrang. Kemudian kau bercerita hal-hal yang ringan namun bukan fiksi. Kau bahkan menuliskan itu di kompasiana, dengan gaya bahasa yang apa adanya, dengan tokoh bernama ‘aku kamu.’ Sungguh, aku merindukannya. Namun semakin hari, tulisan itu semakin berubah, tak lagi sama seperti sedia kala. Ada banyak edit di sana sini. Lalu kau menambahkan sebuah kalimat yang seperti terdengar mesra namun aku tak mengharapkannya.

“Istriku, aku berjanji padamu. Tulisan ini akan selalu mengalami perbaikan, setiap kali aku mendapati data baru. Sekarang buatkan aku secangkir kopi ya cantik.”

Lelaki, aku istrimu. Tak perlulah kau berbelit-belit data dan wacana jika hanya ingin menuturkan sesuatu padaku. Tengoklah catatan yang kau buat di kompasiana, kini tak lagi terpelihara.

Aku hanya rindu kau bertutur seperti dulu. Perkara kebaikan memang patut dibalas dengan kebaikan, tapi jangan gugur di medan makna. Aku yakin mereka pasti akan memahami, sebab mereka baik.

Hai lelaki korek api dan api unggun, semisal kau lupa dengan hasil tulisanmu sendiri, cobalah kau baca lagi coretanmu ketika berkisah untuk Afrin. Aku suka. Ia juga sebagai penutup catatan ini.

Istrimu, Zuhana AZ

*******


NAMANYA AFRIN. Selain cantik, ia adalah gadis yang ceria. Dialah yang mengundang saya dan Hana di acara radio ‘Cek Jembere’ Kiss FM. Di acara itu Afrin bertanya, mengapa saya senang menulis catatan pendek tentang Sroedji? Saya bilang, atas nama masa kecil. Lalu saya bercerita padanya tentang keberadaan patung di pusat kota, serta pertanyaan-pertanyaan masa kecil yang menyertainya.


“Ketika masih bocah, saya punya banyak pertanyaan tentang patung Letkol Moch. Sroedji. Siapa pembuatnya? Kemana perginya patung itu saat kebelet pipis?”

Afrin tertawa mendengar imajinasi saya di kala bocah. Pertanyaan lain dari Afrin yang masih saya ingat.

“Dari mana Mas Hakim mengenal keluarga Sroedji?”

“Lewat tulisan. Rupanya tiga tahun lalu mereka membaca catatan pendek yang saya unggah di dunia maya.”

Saya lupa, apalagi ya yang ditanyakan Afrin? Waktu itu –15 Februari 2015– kami berbincang sambil sesekali bercanda. Ohya, Afrin ingin tahu pendapat saya tentang usulan dijadikannya Moch. Sroedji sebagai pahlawan nasional.

Niat saya menulis bukan untuk itu. Tapi tentu saya senang jika Moch. Sroedji diusulkan menjadi pahlawan nasional. Semangat perjuangannya akan tetap hidup jika kita bersedia untuk mengingatnya. Saya kira, secara filosofis, ini adalah penghargaan terhadap seluruh pasukan Brigade III Damarwulan.

Semisal usulan itu nantinya berhasil, adalah tugas kita semua untuk mengusulkan tokoh-tokoh yang lain, baik pejuang yang dari sisi kepangkatan apalagi sipil. Sebab perjuangan bukan hanya tentang mengokang senjata.

Buat Afrin, terima kasih.

Kabar Tembakau dari Jember hingga ke Pulau Lombok

5 Komentar

Pemandangan Ladang Tembakau Mitra Djarum di Dusun Paok Regge Desa Waja Geseng Lombok Tengah

Pemandangan Ladang Tembakau Mitra Djarum di Dusun Paok Regge Desa Waja Geseng Lombok Tengah. Dokumentasi Pribadi

Awal Oktober kemarin saya berkesempatan mengunjungi Lombok dalam rangkaian acara Jelajah Negeri Tembakau II bersama beberapa kawan dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Denpasar, dan Jember. Pengalaman baru bertemu dengan orang baru dan belajar hal yang berbeda dari biasanya. Saya merupakan salah satu peserta dari Jember. Iya, saya berangkat dari daerah yang juga termasuk salah satu negeri tembakau di Indonesia untuk ikut menjelajahi negeri tembakau di wilayah Indonesia bagian tengah –Lombok–.

Sudah selesaikah saya menjelajahi ’emas hijau’ di negeri sendiri sebelum jauh ke negeri seberang?🙂

Keberangkatan saya ditandai dengan tragisnya nasib para petani tembakau di Jember. Harga tembakau merosot jauh dari perkiraan. Banyak yang gulung tikar, ada yang depresi, beberapa ada yang demo ke gedung DPRD dengan aksi membakar daun mbako. Pasca erupsi Gunung Raung, kondisi tanaman di hampir semua lahan pertanian tembakau kacau balau. Daun-daunnya yang mulai besar tertutupi abu vulkanik erupsi Raung.

Emas hijaunya berwarna kehitaman.

Kebanyakan tetangga di sekitar rumah kami memanfaatkan musim ini untuk bertanam tembakau. Harapan untuk membayar hutang sebagai modal awal sirna, karena kondisi Raung yang semakin mencemaskan.

Pertengahan September lalu, harga tembakau jenis kasturi dibandrol Rp.800.000-900.000 per kwintal. Padahal harga normal sebelumnya dua hingga dua setengah juta per kwintal. Harga bagus antara tiga hingga tiga setengah juta. Tembakau primadona kelas dunia dari Jember — Na Oogst– juga mengalami nasib yang tak kalah merosot. Ia biasanya berharga lima sampai enam juta per kwintal, sekarang cuma dihargai lima ratus hingga enam ratus ribu saja per kwintal. Banyak petani yang frustasi, harga tembakau kini tak sesuai dengan modal yang dikeluarkan.

Saat musim panen tiba, ada yang memperlakukan tanaman tembakau tersebut secara khusus. Tapi ada juga yang membiarkannya mati begitu saja di ladang karena merasa sudah cukup rugi. Para istri dikerahkan untuk membersihkan daun-daun yang sudah dipetik dengan kuas hingga berkali-kali. Di gudang tembakau dekat rumah kami, mereka bekerja mulai dari pukul 15.00 sampai dengan pukul 23.00 hanya untuk memastikan bahwa daun-daun tersebut benar-benar bersih dari abu.

Jenis tembakau di Jember merupakan jenis tembakau yang harus melalui proses penjemuran di bawah terik matahari. Berapa pekan ini, jika kalian melintasi daerah pedesaan di wilayah Jember Utara pada sisi ruas jalannya terlihat semarak. Mulai dari pagi hingga malam. Proses penjemuran tembakau dilakukan di pinggir jalan. Ada juga yang memanfaatkan lapangan desa ataupun sekolah. Menjelang malam, lampu penerang dinyalakan. Ada tenda terpal warna-warni yang menaungi beberapa perempuan, mereka bertugas menusuk-nusuk tembakau dan menatanya sedemikian rupa sebelum dijemur. Menurut Ibu Sus –warga Jatian Pakusari–, setiap seratus tusuk mereka dihargai dengan upah Rp. 2000,-. Untuk mereka yang lihai kadang dalam sehari bisa menjapai 1000-2000 tusuk.

Kabupaten Jember memiliki luas wilayah yang kebanyakan ditanami tembakau di akhir musim penghujan. Sejak Birnie membuka perkebunan tembakau sekitar tahun 1850 di Jember, kota kecil ini menjadi semakin bergeliat. Hal itulah yang membuat daun emas hijau ini menjadi salah satu bagian dalam lambang Kabupaten Jember. Daun Tembakau, melambangkan bahwa Kabupaten Jember selain dikenal sebagai gudang pangan juga dikenal sebagai daerah penghasil komoditi tembakau yang cukup terkenal dan menghasilkan devisa cukup besar bagi negara disamping komoditi perkebunan lainnya.

Tak hanya kabupaten, Ia juga menjadi bagian dari lambang Universitas Jember. Tiga lembar daun tembakau segar, melambangkan Tri Darma Perguruan Tinggi. Daun tembakau, padi dan jagung melambangkan kesuburan wilayah eks Karesidenan Besuki, sebagai daerah pertanian dan penghasil tembakau ekspor, tempat Universitas Jember tumbuh dan berkembang.

Lantas, apa yang diperbuat pemerintah terhadap keresahan petani tembakau di Jember? Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap nasib mereka ketika merugi? Apakah lembaga sekelas pemerintah tak bisa menenangkan kecemasan mereka? Bagaimana nasib pendidikan dan kesejahteraan para petani dan buruh tembakau di Jember?

Tak ada yang merubah apapun. Meskipun daun yang mereka tanam dijadikan lambang sebuah universitas negeri dan pemerintahan kabupaten Jember.

Rugi tetaplah rugi.

Dari Jember Menjelajah Ke Lombok

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar Pulau Lombok? Ketika saya menanyakan ini pada sahabat saya –Dika Purwarini– seorang wanita karier kelas menengah di Jakarta secara spontan dia langsung menyebutkan tiga hal. Pantai, kain tenun dan mutiara. Jawaban ini tentu sudah saya perkirakan dengan melihat gaya hidupnya. Jawaban lain yang saya temukan pada seorang kawan pencinta alam adalah Gunung Rinjani.

Perjalanan hari kedua di Lombok mempetemukan saya dengan jawaban berbeda. Tembakau.

Saya beserta 21 kawan lainnya yang tergabung dalam peserta Jelajah Negeri Tembakau II berkesempatan mengunjungi sebuah gudang tembakau besar milik PT. Djarum di desa Montong Gamang Kecamatan Kopang Lombok Tengah. Kami disambut oleh Iskandar, perintis tembakau Virginia FC di Lombok sejak tahun 1985. Voor-Oogst Virginia jenis Flue Crued merupakan tembakau unggulan di Lombok. Ia dibutuhkan sebagai bahan jenis rokok varian mild. Acara dalam ruangan terkesan formal namun beberapa peserta masih diperbolehkan merokok. Iskandar menjelaskan tentang sejarah tembakau virginia, proses produksi, penetapan harga dan segala keriuhan prosesi tembakau yang terjadi di gudang tersebut.

Bersama Tim Jelajah Tembakau II di Gudang Tembakau Milik PT. Djarum di Lombok. Dokumentasi : Andrey Gromico

Bersama Tim Jelajah Tembakau II di Gudang Tembakau Milik PT. Djarum di Lombok. Dokumentasi : Andrey Gromico

Tak seperti di Jember, harga tembakau di Lombok terbilang cukup stabil dan normal. Satu-satunya yang membuat petani tembakau di Lombok menangis adalah karena cuaca ekstrim. Kisaran harga tembakau saat ini Rp. 3.900.000 per kwintal. Pada saat panen dan proses penjualan tembakau, ada rapat penentuan harga yang dilakukan oleh perusahaan dan petani mitra. Jika petani mandiri harga tergantung pada para tengkulak. Di Lombok sendiri, proses yang dilakukan untuk memperlakukan tembakau virginia berbeda dengan tembakau di Jember. Tembakau jenis Kasturi harus dijemur terlebih dahulu dipaparan sinar matahari, sedangkan virginia harus melalui proses pengovenan.

Kami dibawa berkeliling menuju ke dalam gudang. Melihat proses transaksi, bongkar muatan, penandaan, penyortiran, pemisahan sesuai kelasnya, peng-oven-an dengan mesin besar dan segala aktivitas yang riuh. Seriuh harapan yang mereka gantungkan agar kepulan dapur tetap terjaga. Bila tak musim tembakau, gudang tak akan seramai ini. Mereka kebanyakan menjadi buruh tani.

Tanam tembakau bagi kebanyakan petani di Lombok mengubah banyak hal dalam hidup. Yang dimaksud disini adalah tingkat perekonomian. Tembakau bisa membuat para petani naik haji, membangun rumah, membeli mobil dan beberapa alat elektronik sebagai penanda kelas yang tentu saja berbeda dengan yang lainnya. Tanam palawija dan sayur harganya tak seperti tembakau. Itu jika harga tembakau sedang bagus, jika merosot apa yang telah dibeli akan sirna untuk menutup hutang.

Jika ingin kaya tanamlah tembakau, begitu juga jika kau ingin jatuh miskin seketika.

Saya teringat salah satu pertanyaan yang dilontarkan Dona, salah satu peserta dari Jogja ketika mengambil gambar untuk video dokumentasi. Ketika rombongan sampai Di Desa Adat Bayan, seusai makan siang Ia bertanya pada saya.

Bagaimanakah hubungan antara petani tembakau dan perusahaan?

Bagi saya, hubungan petani dan perusahaan seharusnya bisa saling menguntungkan. Petani adalah ujung tombak perusahaan. Tak ada petani yang menanam tembakau, tentu perusahaan akan kelimpungan memenuhi pasokan tembakau yang dibutuhkan.

Selama ini yang saya lihat, hubungan keduanya hanya sebatas niaga saja. Anda jual, saya beli. Cukupkah hanya sekedar itu? Apakah harga yang diberikan perusahaan mampu mencukupi kesejahteraan hidup, pendidikan dan kesehatan mereka? Apakah harus terputus pada masalah niaga saja. Bila merugi bagaimana? Meskipun pada dasarnya perusahaan yang bermitra dengan petani tentu ada cost tersendiri untuk masalah pupuk dan bibit. Tapi idealnya, para ujung tombak ini dipersenjatai dengan kelayakan yang cukup. Tidak bisa kan mereka mencangkul dalam keadaan perut lapar, sakit dan anak-anak yang tak sekolah? Ini masih di ranah petani saja. Belum merambah ke buruh tani. Semoga ke depan hal-hal ini bisa dipertimbangkan dengan baik.

Di wilayah Nusa Tenggara Barat memang sudah ada perda tentang tembakau –Perda No. 4 Tahun 2006, Usaha Budidaya dan Kemitraan Perkebunan Tembakau Virginia di Nusa Tenggara Barat–. Namun masih banyak yang belum diterapkan secara maksimal. Pemerintah Daerah sendiri masih kurang tanggap dan memahami apa yang menjadi sumber penghasilan rakyatnya sendiri.

Topografi antara Lombok dan Jember tak jauh berbeda. Di Lombok ada gunung berapi dan juga bebukitan berjajar. Jember punya gumuk. Keduanya merupakan dua hal yang berbeda namun menghasilkan suhu yang bagus untuk tembakau. Angin gunung yang turun di daratan bisa dinetralisir oleh jajaran bukit. Sayang sekali di beberapa daerahnya, banyak beberapa bukitnya yang sudah ditambang dan dikeruk isinya. Salah satu yang saya kunjungi secara pribadi adalah tambang emas prabu di wilayah Lombok Tengah. Ini tentu jauh berbeda dengan yang ada di Sekotong. Pertambangan di Prabu dikerjakan ‘masih’ secara tradisional meskipun beberapa penambangnya banyak yang bukan dari tanah Lombok sendiri.

Lombok dan Pasirnya

Harian Lombok Pos Edisi 2 Oktober 2015. Lombok Bukan Untuk Dikeruk, Bali Bukan Untuk Ditimbun. Dokumentasi Pribadi

Harian Lombok Pos Edisi 2 Oktober 2015. Lombok Bukan Untuk Dikeruk, Bali Bukan Untuk Ditimbun. Dokumentasi Pribadi

Selang beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Lombok, Indonesia digemparkan oleh kasus pembunuhan Salim Kancil. Petani Lumajang yang dibunuh karena menolak tambang pasir di tanahnya sendiri. Tepat pada hari kedua kami berada di Lombok –2 Oktober 2015– harian Lombok Post yang tergeletak begitu saja di Lobi hotel Arianz –tempat rombongan kami menginap– mengabarkan tentang penolakan pengerukan pasir di Lombok.

“Lombok tidak untuk dikeruk, Bali tidak untuk ditimbun.” Demikian pesan Faisal Kaler, Ketua Pemuda Sasak Lotim. Seusai yang tertulis dalam berita tersebut. Mereka menyatakan menolak rencana pengambilan pasir laut Lombok. Di luar uang berlimpah yang akan diperoleh, dikhawatirkan ada dampak negatif yang lebih besar jika penyedotan pasir jadi dilakukan.

Bertemu dengan Keluarga Sedja Khaerani di Lobi Hotel Arianz. Dokumentasi : RZ Hakim

Bertemu dengan Keluarga Sedja Khaerani di Lobi Hotel Arianz. Dokumentasi : RZ Hakim

Pada hari ketiga sebelum keberangkatan rombongan menuju Desa Adat Bayan, saya menerima kedatangan keluarga Sedja Khairani di lobi hotel. Mereka adalah sahabat blogger yang sudah saya kenal sejak lama. Itu pertemuan kami secara langsung yang pertama. Kami berbincang banyak hal. Mulai dari tembakau sampai isu tentang penolakan tambang pasir di beberapa tempat. Papa Sedja mengaku iri melihat semangat dan kekompakan kawan-kawan di Jawa. Pandai sekali menyuguhkan isu lingkungan menjadi sesuatu yang besar. Ia mengaku terus mengikuti perkembangan pemberitaan pembunuhan Salim Kancil di Lumajang. Lombok sendiri memiliki masalah tambang pasir yang besar. Namun untuk mengaktualkannya, banyak pihak yang masih belum satu suara.

Saat pembicaraan itu berlangsung, di Jember teman-teman aktivis lingkungan sedang giat mempersiapkan malam penggalangan dana untuk Salim Kancil. Hal tersebut tak luput juga dari pembicaraan. Kami sepakat bahwa yang dibutuhkan bukan hanya aksi-aksi populer semacam itu, tapi juga perlu ada yang mengetuk pemerintah daerah untuk mebuat regulasi khusus tentang pertambangan. Kami berpisah dengan janji untuk tetap saling berkabar tentang isu-isu lingkungan terkait pertambangan.

Lombok tak hanya identik dengan pantai, kain tenun, mutiara dan gunung rinjani saja. Ada juga tembakau di sana. Ada desa adat yang masih lestari dengan tradisinya. Tapi, ada pula beberapa hal yang bisa mengancam keberlangsungan semuanya. Ada permasalahan lingkungan yang tak pernah usai untuk terus diperjuangkan. Semoga kita bisa menikmati, menjaga dan memperjuangkannya dengan adil.

Salam lestari,

Zuhana AZ

 

Dua Senja Kemarin, Ada Masjid dan Gerimis

11 Komentar

masjid

Dua senja kemarin ketika gerimis turun, saya dan suami sedang melintasi jalan yang penuh areal persawahan. Segar menyejukkan rasanya. Gerimis berkecipak pelan. Sampailah kami di depan sebuah masjid. Dari kejauhan, masjid ini tampak begitu memukau. Bangunannya megah arsitekturnya mewah. Masjid Bani Toyyib, begitu masyarakat wilayah Antirogo Jember mengenalnya. Ini termasuk masjid yang baru rampung renovasinya. Disela gerimis yang turun satu persatu, masjid ini nampak begitu berani menghunjam mendung.

Untuk apa semua ini diciptakan bermegah-megah? Apakah dengan itu kadar keimanan diukur? Sayang, senja, mendung dan gerimis pun tak mampu menjawabnya. Karena hanya Tuhan yang bisa menimbang semuanya.

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

logo

A Place to Remember : Rumah Jingga Para Pencinta

24 Komentar

6-Ini foto tahun 2008, di depan Rumah Jingga. Saya yang mana hayo?? :)-

Jika harus mengingat satu tempat yang penuh kenangan, ingatanku langsung terlontar pada sebuah ruangan dengan ukuran kurang lebih 7×4 meter persegi. Kaca jendela, pintu dan barang di dalamnya dipenuhi dengan aneka macam stiker. Warna dan tulisannya beragam. Secara umum, stiker-stiker tersebut menandakan waktu dan tempat sebuah acara. Cat temboknya berubah-ubah. Kadangkala berwarna hijau, putih, krem, jingga dan lain sebagainya. Rasanya semua warna sudah pernah dicoba, selain hitam tentu saja. Tapi bagiku, rumah ini tetap berwarna jingga. Aku menyebutnya, rumah jingga para pencinta. Dia adalah sekretariat pencinta alam SWAPENKA (Mahasiswa Pencinta ALam) Fakultas Sastra Unej.

7-Nggak nemu gambaran ruangan yang detail, nemunya yang ini. Tuh, lihat cat temboknya, macem-macem kan? Hihihi-

Ya, semuanya yang ada di dalamnya adalah mereka yang sedang belajar untuk mencintai alam. Bukan pencinta alam, tapi tentu saja senantiasa untuk belajar mencintainya. Pencinta alam, bagi saya kata itu terlalu tinggi dan utopis. *Jangan dikeplak carier cagak ya Bulik Juri :P* Bukan mustahil, namun selalu diusahakan menuju ke arah sana. Di rumah jingga inilah kami bermain dan belajar bersama-sama. Bukan melulu pada ilmu-ilmu kepencintaalaman. Tapi, disinilah saya belajar tentang bagaimana cara menikmati hidup dengan sudut pandang yang berbeda. Disini pula kami belajar bahwa hidup yang seimbang adalah hidup yang humanis. Setara dengan alam dan sekitarnya.

Kalau pagi datang, di depan sekretariat yang rimbun terdengar cericit burung ramai membuyarkan mimpi. Belum lagi ocehan tetangga penghuni sekretariat sebelah yang sudah mulai semarak. Itu tandanya, jam kuliah sudah dimulai. Ada banyak kisah yang tercecer, bahkan di permukaaan loker yang berkarat dan penuh stiker. Ada kenangan yang menempel di deretan piala usang yang itu-itu saja. Terakhir nambah 2012 kemarin, waktu Rotan dan Sodhunk menang lomba nulis. Belum lagi ubin-ubin usang yang selalu menopang pijakan tubuh saya sewaktu tidur, duduk maupun berlari-lari kecil gak jelas. Hehe. Ada yang melekat pada payung merah dengan kursi beton yang melingkar di bawahnya. Tempat bagi semua yang ingin berbagi rasa. Curhat, nglamun atau sekedar ngopi-ngopi hore.Semuanya selalu indah untuk dikenang.

depan-Ini gambaran pepohinan rimbun di depan sekretariat. Foto diambil sewaktu pemberangkatan Diklatsar tahun 2013-

Pepohonan dan tamannya tertata sesuai mood para penghuninya. Kadang bagusss banget, tapi tak jarang juga berantakan. Begitu pula dengan halamannya. Kadang kotor bangeeet, kadang malah bersih banget. Kami memang menyerahkan semuanya pada alam. Biar saja daun-daun yang mengering itu luruh dan menyatu dengan alam menjadi pupuk.

Saat kawan-kawan pencinta alam fakultas lain sibuk dengan acara-acara ekstrim semacam naik gunung, panjat tebing, caving, orad dan semacamnya – kami masih tetap seperti apa yang dimulai oleh para pendahulu. Seperti namanya, Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam. Mempelajari konservasi dari sudut pandang keilmuan yang kami terima di Fakultas Sastra. Menulis. Ya, para pendahulu kami percaya bahwa dengan menulis kita pun bisa melakukan upaya pelstarian alam. Jadi jangan heran, tidak ada wall climbing yang tingginya menyentuh langit di sekitar rumah jingga kami. Bukan berarti kami menutup mata dengan bidang keilmuan yang lain. Karena kenyataannya semua ilmu kepencintaalaman itu pada akhirnya bermuara pada konservasi. Semuanya dipelajari untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan.

5-Lawan!!! Foto tahun 2008-

Rumah jingga bagi saya adalah tempat bermain, belajar dan melawan. Bermain menikmati hidup. Belajar mengerti hidup yang setara dengan alam. Belajar berbagi dengan semua mahluk ciptaan Tuhan. Belajar ilmu-ilmu kepencintaalaman ala barat. Dijejali ilmu konservasi ala kepentingan kapitalisme. Kemudian melawannya dengan mempelajari aneka macam kearifan lokal yang sesugguhnya lebih adil bagi nusantara ini. Disinilah kami mengenyam semuanya. Di sebuah tempat yang tak kan pernah terlupakan, rumah jingga. Meskipun mengalami perbaikan diberbagai sisi, sampai menghilangkan kolam ulang tahun kami –rumah jingga– masihlah menjadi tempat untuk mengenang semuanya. Tempat pulang yang paling nyaman. Lekat dan erat.

1-Salam dari kami, dari rumah jingga. Rumah bagi para pencinta :)-

Ada benci, suka, duka, cinta, luka. Semuanya pernah tumpah ruah mewarnai rumah jingga dengan kadar yang tak bisa di-angka-kan.Jangan ditanya ada berapa banyak kenangan yang menempel di setiap ruangannya. Sampai detik saya menuliskan kisah ini, semuanya mengalir deras dan membuat kotak memori meletup-letup. Kenangan. Semanis dan sepahit apapun rasanya, selalu menarik untuk diceritakan.

“A Place to Remember Giveaway”

???????????????????????????????

Segalanya Berawal Dari Langkah Pertama

13 Komentar

Suatu hari, Mas Eru Vierda menghubungi saya. Dia sedang punya gawe Giveaway My First Journey, dan meminta saya untuk menjadi juri. Wow. Agak sedikit kaget sih sebenarnya. Kenapa harus saya ya yang jadi juri? Takutnya, ada sedikit kekhawatiran dari peserta yang ikut. Jurinya koq enggak banget sih? Kayaknya bukan travel blogger deh, gak pernah nulis tentang mengunjungi suatu tempat yang keren. Ih jurinya kan pemabok (mabok darat) berat, gak yakin deh dia sering jalan-jalan. Segala pertanyaan itu terus terang menghantui saya. Hahahaa…

Akhir-akhir ini entah mengapa perjalanan selalu diidentikan dengan tempat wisata yang keren. Petualangan selalu juga diidentikkan dengan kegiatan alam bebas. Atau kalau nggak sebuah upaya eksplorasi yang kadang malah menjebak kita pada rusaknya potensi yang ada. Menurut saya perjalanan tak hanya sebatas pada destinasi saja. Tapi lebih pada intisari dan esensinya. Agar kita melihat dan merasakan apa yang kita temui. Lebih daripada itu, melakukan perjalanan adalah sebuah keputusan berani untuk menikmati hidup dengan cara yang berbeda. Meskipun sekarang ini hal seperti itu sudah sangat menjamur dan sedikit meleset dari apa yang saya bayangkan.

Jujur, saya selalu salut dengan mereka yang sering melakukan perjalanan kemudian menuliskannya di blog lengkap dengan foto-fotonya. Saya sendiri takut untuk melakukan itu. Ya, seringkali ketika mengunjungi suatu tempat saya akan sangat menahan diri untuk menuliskannya. Meskipun seringkali saya selalu tidak bisa menahan diri untuk upload fotonya di jejaring sosial. Pada akhirnya, saya ketakutan sendiri.

Seorang kawan, Ayos (pengelola Hifatlobrain) bahkan memutuskan tidak lagi menerima dan menulis kisah perjalanan yang berpotensi mencederai kualitas alam. Ada semacam perasaan berdosa ketika secara tanpa sadar kita turut serta melukai alam lewat tulisan ataupun foto yang menawarkan gambaran utopis suatu tempat. Arman Dhani juga pernah menuliskan tentang bagaimana keresahannya ketika sebuah stasiun TV swasta menayangkan sebuah acara untuk mengeskplore tempat-tempat yang masih perawan dan belum tersentuh. Saya sedih dan sedikit terpukul membaca tulisan dua kawan ini. Apakah saya juga termasuk di dalamnya?

Lho, ngomong apa saya di atas ? Sepertinya ngelantur. Oke, kembali ke topik utama ya:) Anggap aja yang di atas itu sekedar intro.

Segala hal besar, dimulai dari langkah pertama. Suatu perjalanan, juga diawali dengan langkah pertama. Tanpa itu, semuanya tak akan terwujud.

Dari keseluruhan peserta yang ikut, mempunyai pengalaman pertama yang luar biasa. Salut untuk semua peserta. Kisah-kisah yang dituliskan seolah hidup. Rasanya pingin deh milih semuanya jadi pemenang. Tapi sohibul hajat hanya memutuskan untuk memilih 4 orang pemenang saja. Penilaian yang saya lakukan dalam penulisan kisah perjalanan saya titik beratkan pada 4 unsur. Rekreatif, informatif , edukatif, dan kelengkapan pemenuhan syarat yg ditetapkan.  Di luar 4 unsur itu ada beberapa unsur pengikat lainnya. Diantaranya detail penceritaan, pengambilan ide, keunikan cerita dan pemilihan diksi yang tepat.

Terima kasih juga telah membawa saya menikmati bagaimana beratnya pendakian ke puncak gunung Lawu, Gede Pangrango, Sindoro Sumbing, Tangkuban Perahu dan Raung. Ada juga yang membawa saya ke Jerman, Lombok, Bandung, Bantimurung dan beberapa tempat lainnya. Terima kasih juga atas kenangan sewaktu bersepeda, pramuka, merantau, mencari kerja, perjuangan menuju masa depan sampai pada sebuah impian mulia menjadi dokter. Sungguh sebuah langkah pertama yang begitu mengesankan. Terima kasih sudah mengijinkan saya untuk menikmatinya.

Ada satu hal yang sulit kita bedakan. Saya juga pernah seperti itu. Perjalanan itu akan sangat menyenangkan bila dilakukan tanpa beban. Kalau ada beban, sudah bisa dipastikan saat itu kita sedang berlari. Sadar atau tidak. Tapi saya pribadi percaya, bahwa perjalanan adalah obat tak terkira untuk menyembuhkan luka. Ini semacam perjalanan hati yang juga membutuhkan proses yang begitu luar biasa. *Koq jadi curhat? Dikeplak pakai carier cagak :v *

Perjalanan selalu mengajarkan sesuatu. Tergantung pada si pemilik raga, apakah dia dapat mengambil hikmah atau hanya sekedar melewatkannya. Bukan semata tentang puncak gunungnya, tapi tentang menikmati sebuah perjalanan. Mengenali batas-batas kesanggupan dan kelemahan, bersabar dan bersahabat dengan keadaan, serta pada akhirnya merendahkan diri di hadapan Sang Pemilik Segala Ciptaan.

Cara menikmati hidup setiap orang memang berbeda. Meski kadang cara menikmati harus bertentangan dengan ladang yang sedang dihuni belalang. Untuk mengawali perjalanan hanya tentang melawan rasa takut dan malas. Setiap puncak mempunyai medan perjalanan yang berbeda. Hanya dengan memulainya kita akan tahu cara menghadapi. Puncak tidak akan pernah didapat tanpa langkah awal. Bahkan karena takut dan malas tidak akan ada sekedar cerita tentang perjalanan. Sebelum membunuh waktu, kita harus bisa membunuh rasa takut dan malas untuk memulai.

Itu semua adalah langkah awal yang keren. Terima kasih semuanya. I love you all :* Lalu, apakah saya juga punya langkah pertama untuk memulai petualangan menikmati hidup seperti ini? Semuanya tentu saja berawal dari foto di bawah ini. Ya, sampai bertemunya saya dengan sang suami pun berawal dari foto di bawah ini🙂

diklatHayo tebak saya yang mana? Rahasia😛

Older Entries