Beranda

Sudah Pernah Makan Steak?

3 Komentar

Seorang teman pernah bertanya langsung kepada saya, sudah pernah makan steak? Mendengar pertanyaan itu saya tertawa. Teman saya berusaha meralat pertanyaan tersebut karena takut menyinggung perasaan. Hahaha. Jangan dibawa baper gengs! Karena sebenarnya itu pertanyaan wajar, apalagi mengingat tempat tinggal saya di sebuah Kabupaten yang letaknya ratusan mungkin hampir seribu kilometer dari jantung ibu kota. Tapi sungguh, di Kabupaten kecil kami, Jember, juga ada kedai steak lokal. Saya pernah makan di sana beberapa kali selama kuliah. Memang tidak semewah Holycow Steak. Tapi setidaknya lidah saya sudah bisa merasakan dan membayangkan rasanya seperti apa. Jadi, ketika ada yang bertanya sudah pernah makan steak atau belum pingin ngakak sebelum menjawabnya.

Pada awal tahun 2015 lalu, ketika dari Jakarta dan mampir di rumah keluarga Bandung saya juga diajak makan di sebuah gerai steak. Ada yang memesan steak ayam, tuna dan tentu saja sapi. Saya lupa nama tempatnya, tapi yang jelas bukan Holycow sih. Karena waktu itu, kami sama-sama kelaparan sehabis perjalanan. Kelaparan, tapi mampir di kedai steak bisa kenyang? Ini pertanyaan yang mungkin diajukan oleh para pemuja nasi putih. Tapi memang waktu itu, saya sendiri ragu-ragu. Bisa kenyang gak ya kalau makan hanya pakai steak dan kentang yg ditumbuk lembut? Nyatanya kenyang karena saya pesen nasih putih juga dong. Haha. Maklumin aja lah ya, karena ini memang makanan yang tidak biasa saya makan jika di Jember. Kalaupun ada, tentu rasa dan penyajiannya berbeda. Apalagi yang ada di sekitaran kampus. Harga dan kualitasnya tentu saja disesuaikan dengan kondisi dompet para mahasiswa.

Iseng saya bertanya pada sahabat saya yang sekarang tinggal di Jakarta. Dika namanya. Ia hampir 10 tahun di Jakarta, bekerja sebagai pegawai di sebuah bank nasional. Pernah makan di Holycow Steak gak sih? Dika sendiri pernah makan di Holycow Steak sekitar 4 kali. Yang pertama karena ditraktir temannya. Satu kali gratisan karena pas ulang tahun. Yang keduanya bayar sendiri karena pas lagi pengen makan di sana bareng suami dan anak-anaknya. Menurut Dika, untuk ukuran Jakarta Holycow Steak termasuk terjangkau daripada yang lainnya. Meskipun harganya masih terjangkau tapi dari segi rasa, kualitas dan pelayanannya juga tak kalah bagus dengan yang lainnya. Jadi, kalau ingin menikmati steak dengan rasa yang enak dan harga murah, Dika pasti memilih Holycow. Sudah nggak kepikir yang lainnya. Menurutnya, kalau ada yang lebih murah dengan rasa yang memuaskan kenapa harus memilih yang lebih mahal tapi rasanya sama?

Satu lagi pertanyaan yang saya lontarkan ke Dika. Namun sebelumnya, saya meminta maaf terlebih dahulu sebelum menanyakannya. Ya takutnya tersinggung. Petanyaannya sepele sih, tapi karena penasaran ya harus saya tanyakan. Kenapa sih rela ngeluarkan uang demi makan steak? Apa karena untuk memenuhi gaya hidup aja, mengingat sekarang dia tinggal di Jakarta? Menurut Dika, kalau urusan makan sih sebenarnya bukan karena gaya hidup. Tapi ya memang karena pingin nyoba. Apalagi di Jakarta banyak sekali pilihan makanan yang sebelumnya belum dimakan. Jadi memang segala hal di Jakarta itu selalu dikaitkan dengan pemenuhan gaya hidup semata. Lagian makannya juga nggak setiap hari. Setiap bulan sekali belum tentu. Paling kalau waktu dan momen-momen spesial saja dia dan keluarganya pergi makan di luar. Itung-itung refreshing dan mencoba makanan baru yang sebelumnya belum pernah dimakan. Kebanyakan malah karena undangan teman, gathering kantor dan acara semacamnya.

Dika menambahkan, kalau hanya untuk memenuhi gaya hidup semata, ya nggak bakalan cukup meski punya uang ratusan juta. Harus pinter manajemen keuangan dan milah mana yang butuh didahulukan, mana yang sifatnya bisa ditunda sementara waktu. Ah, Dika masih saja seperti dulu. Logatnya pun masih tetap medok. Tak tergilas arus bahasa elo gue. Hahahah. Padahal awalnya kami hanya ngobrol seputar steak saja, akhirnya bisa sharing soal kebutuhan dan pengaturan keuangan ala dia yang hidup di Jakarta. Sungguh berfaedah!

Jadi, kalian sudah pernah makan steak belum? Sudah penah makan Holycow Steak atau yang lainnya mungkin?

Iklan

Menghalau Dingin dan Makanan Kids Zaman Now

4 Komentar

Pisang Goreng Nugget

Sudah mulai turun hujan. Dingin dan membuat perut selalu terasa lapar meski sudah diisi sepiring nasi dan lalapan terong. Paling enak memang membuat cemilan yang mengenyangkan. Kalau cuma keripik sih ya lewat. Habis setoples paling juga masih lapar. Haha. Paling cocok cemilan di musim dingin ini ya pisang goreng. Apalagi menikmatinya sambil ditemani secangkir kopi. Sedingin apapun pasti akan terasa hangat. Ditambah dengan obrolan yang menghangatkan. Ah, suasana perdamaian.

Selain pisang goreng, olahan pisang ini memang ada beragam. Tergantung selera juga. Ada yang digoreng biasa menggunakan tepung, ada yang tidak menggunakan tepung tapi setelah matang ditaburi gula pasir, ada yang dikolak, bahkan ada pisang goreng nugget dengan aneka macam toppingnya.

Kalau saya sendiri lebih suka pisang goreng tepung yang rasanya sedikit gurih. Karena saya tidak begitu suka makanan manis. Jadi dalam adonannya saya tambahkan sedikit garam agar rasanya tidak telalu manis, tapi cenderung gurih. Saya suka yang seperti itu. Makannya sambil nyeruput kopi pahit. Sungguh, mertua lewat mungkin gak bakal tau. Hihihi. Kalau suami beda lagi, dia lebih suka pisang tanpa tepung yang setelah matang ditaburi gula pasir. Jadi rasanya maniiis banget, kayak yang bikin sih. Hahahah.

Untuk mengikuti perkembangan kids jaman now, banyak sekali aneka kreasi jajanan yang macem-macem. Mulai dari yang biasa sampai yang sedikit aneh tapi cukup ngetrend. Mulai dari jajanan Korea, Jepang, hingga jajanan daerah yang sekarang sudah mulai ngetrend dan gak hanya ada di daerah asalnya aja. Contohnya seblak. Sekarang bukan hanya ada di Bandung saja, dimana-mana sudah ada banyak olahan seblak.

Sama halnya seperti olahan pisang. Ada banyak sekali. Sekarang ini lagi ngetrend pisang goreng nugget, salah satu cemilan yang kebanyakan bertopping manis, saya sendiri belum pernah mencobanya. Tapi melihatnya sliweran di feed instagram, tentu berpikir bahwa ini jajanan yang lagi hits. Toppingnya macam-macam. Mulai dari coklat, meses, green tea, campuran keju dan aneka topping manis lainnya. Yang memang kelihatannya legiit sekali. Bagi para pencinta kuliner dengan rasa manis, tentu ini jajanan yang dicari.

Dengan banyaknya bermunculan aneka ragam kuliner saat ini, membuat saya berpikir bahwa segala hal kadang tidak harus sesuai dengan pakemnya. Jadi semacam membuat inovasi yang anti mainstream. Lha, dulu kan kita tahunya nugget pasti alam bawah sadar kita langsung ke arah daging ayam, sapi dan olahan lauk lainnya. Nugget dulunya diidentikkan dengan makanan untuk lauk, bukan cemilan berbahan dasar manis seperti pisang. Bukankah ini inovasi yang luar biasa? Karena dalam hal makanan, inovasi dan kreativitas sangat dibutuhkan untuk bertahan di pasar. Apa yang nggak lumrah dan unik pasti akan dicari dan langsung hits. Dalam hitungan mingguan saja sudah banyak terlahir kreativitas dan ide-ide keren soal makanan. Apalagi dengan berkembangnya media sosial yang macem-macem. Hal-hal unik akan langsung mendulang keuntungan.

Buat yang memang berencana membuka usaha di bidang kuliner, memang harus pandai-pandai membaca peluang. Mencari yang unik dan gak harus selalu sama dengan pakem resep yang terdahulu. Inovasi harus selalu dicari agar usaha terus bertahan dan semakin berkembang. Tapi beberapa makanan yang memang legendaris di masanya akan tetap menjadi legenda. Kadang ada juga yang memvariasikannya dengan hal-hal yang sekarang lagi in. Seperti makanan yang ditambahi dengan keju molor-molor itu.

Jadi, kalian lebih suka olahan pisang yang mana? Pisang goreng minimalis, pisang goreng tepung ataukah pisang goreng nugget?

 

Makanan Sehat Haruskah Mahal?

Tinggalkan komentar

Salmon Poke Bowl

Pic from : http://www.simplyrecipes.com/recipes/salmon_avocado_poke_bowl/

Siapa suka makan salmon? Saya termasuk golongan yang kalau ada ya saya makan. Kalau tidak ada, ya gak masalah. Maksudnya, nggak memaksa harus makan salmon. Tak ada salmon, tongkol pun jadi. Hehe. Karena ya memang salmon ini adalah jenis ikan yang harganya lumayan mahal. Kalau di Jember, belinya pun harus ke supermarket. Apalagi kandungan yang ada di dalamnya sangat bagus dan gak main-main. Mengandung omega 3 serta termasuk dalam protein kualitas tinggi, asam amino dan berderet vitamin yang tentu saja sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh kita. Tentu saja bila dimasak sesuai ketentuan ya. Karena kan ya kalau gak pas caranya ntar kandungan di dalamnya bisa ilang gitu aja dong. Kan syedih. Hehe. Makanan sehat, haruskah mahal? Salmon oh salmon.

Saya makan olahan salmon sebanyak 3 kali, itu pun ditraktir semua. Dua kali makan sushi yang ada salmon mentahnya. Trus yang sekali, di rumah teman yang kebetulan memasak hidangan salmon. Itu pertama kali saya makan sushi pake daging salmon seger yang bener-bener mentah. Sebelumnya gak pernah nyoba yang mentah. Milihnya yang jalur aman aja. Rasanya gimana? Ya gitu sih, daging ikan mentah gimana? Hahaha. Tapi kalau di sushi bener-bener gak amis. Entah ya mungkin dikasih ramuan apa gitu kok berasa gak amis. Saya nggak ngerti karena memang jarang makan kecuali kalau pas ada kesempatan saja. Ya enak-enak saja sih, lolos dengan mulus lewat lidah dan masuk tenggorokan tanpa protes, haha. Kalau yang di rumah teman, dimasak tanpa minyak gitu. Dikasih rempah-rempah aja. Gak tau apa bumbunya, rasanya minimalis. Tapi justru itu jadi enak sekali.

Nah dari pada beli mending kita coba belajar masak sendiri yuk. Yang jelas jatuhnya lebih murah, meskipun salmon itu harganya mahal. Ya kali daripada beli di resto terus, pasti kan ada lebihnya kalau masak sendiri. Selain itu, topping dan isiannya juga bisa disesuaikan dengan kesukaan kita kan? Ini resep sengaja saya simpen biar kalau pas ada rejeki tinggal mengeksekusi aja. Jadi gak cuma wacana gitu lho. Hahaha. Kalau bikin sushi kan rasanya kok ribet banget. Masih harus ada adegan nggulung-nggulungnya juga. Beberapa bahannya juga susah. Kali ini nyoba yang simple aja. Salmon Poke Bowl. Ini resep modifikasi dari blog http://www.simplyrecipes.com/recipes/salmon_avocado_poke_bowl/. Saya sesuaikan dengan lidah saya ya. Jadi bisa bereksperimen sesukanya. Mau pakai tuna juga bisa.

Salmon Poke Bowl

1 cangkir nasi putih anget yang udah matang (bisa disesuaikan mangkok penyajian)
100 gram salmon kelas sashimi (kalau beli di supermarket tinggal tanya aja. Kadang sudah disediakan per kelasnya)
1/4 cangkir kecap
1 1/2 sendok makan cuka beras
1/2 sendok makan gula
1 sendok teh minyak wijen panggang
1/4 sendok bawang putih bubuk
2 daun bawang, iris tipis

Topping ( optional ya, terserah mau ditopping apa)

Wortel kukus potong korek api atau dadu terserah. Irisan mentimun. Lobak iris. Alpukat besar, potong dadu. Edamame rebus. Furikake ( Bisa pakai abon ikan laut seperti tuna atau lele, karena kalau pakai abon sapi atau ayam ntar hasilnya gak matching sama salmonnya, hihi. Atau bisa pakai serbuk kedelai. Atau bon cabe juga boleh). Paprika merah, kalau suka diiris tipis.

Cara memasak :

Siapkan salmon. Pastikan tidak ada duri yang tertinggal ya. Potong salmon kotak dengan ukuran 1/2 cm. Taruh di mangkok dan sisihkan.

Membuat saus : Masukkan dalam mangkuk kecil bahan-bahan saus. Saus kedelai, cuka beras, minyak wijen, gula dan bawang putih bubuk. Bubuk bawang putih dan gula tidak akan larut sepenuhnya, tapi tidak apa-apa. Campurkan salmon dengan sausnya. Tambahkan irisan daun bawang ke dalam mangkuk. Sisakan 1 sampai 2 sendok makan daun bawang untuk hiasan. Tambahkan campuran kecap ke salmon. Dengan menggunakan sendok besar, campurkan salmon ke campuran kecap. Siapkan nasi dalam mangkok. Taburi sedikit dengan abon. Kemudian beri salmon yang telah dicampur dengan saus di atas nasi, secukupnya saja. Taburi lagi dengan abon dan potongan daun bawang. Topping bisa dimasukkan dan ditata secukupnya didalam mangkok. Bisa juga ditempatkan di wadah terpisah. Terserah. Makannya mau pakai sumpit atau sendok terserah, yang penting baca Bismillah. Hahaha.

Nah, itu tadi resep simplenya. Jangan bingung soal bahannya. Cuka beras dan lain-lainnya kalau tidak ada di pasar dan toko pracangan terdekat, pasti ada di supemarket kok. Kalau mau Furikame nya yang beneran mungkin ada di supermarket. Itu resep di atas kenapa pakai abon atau bubuk kedelai, biar gampang aja. Dan lebih ekonomis gitu. Hahaha. Jadi, nanti pas gajian tiba, mari kita coba bikin Salmon Poke Bowl. Setelah masak, mari kita nikmati dengan khidmat. Sebulan kerja, gak ada salahnya kan kita beri penghargaan dengan memasak makanan sehat yang katanya mahal ini. Jangan lupa totalan ya. Hehe.

 

 

 

 

Kisah Para Perantau dan Nasi Campur Bali

Tinggalkan komentar

Nasi Campur Bali

Sebagai perantau, tidak mudah memilih makanan yang akan disantap setiap harinya. Untuk yang belum berkeluarga lebih gampang dan leluasa menentukan akan makan apa hari ini. Tentu berbeda dengan yang sudah berkeluarga, apalagi anak dan istrinya tidak ikut serta. Ketika makan enak, bayangan anak dan istri di rumah yang makan seadanya jelas membuat tak berselera dan berkaca-kaca. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana cara menghemat uang agar bisa dikirimkan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. Kadang disiasati dengan memasak sendiri, tapi kadang hal itu tidak sesuai dengan waktu dan kesibukan kerja. Jadi, memasak hanya bisa dilakukan ketika libur kerja. Itupun dengan menu sederhana. Nasi putih, mie instan dan telor. Mereka kadang tidak butuh memperhatikan kecukupan asupan gizi yang masuk. Asalkan kenyang dan bisa tidur sudah cukup. Makan sekali dalam sehari sudah cukup. Kalau lapar minum air putih yang banyak. Begitulah kehidupan para perantau.

Rendra, adalah teman saya yang merantau ke Bali. Di Bali Renda menjadi pengemudi taksi. Saat merantau, istri dan anaknya tak turut serta. Saya dan Rendra mengobrol santai seputar kesehariannya selama bekerja di Bali. Obrolan kami akhirnya terfokus pada, apa sih makanan yang dimakan setiap harinya jika beli? Menurut Rendra, jika sedang sepi penumpang, setiap harinya ia memilih membeli nasi jinggo. Murah meriah. Sebungkus hanya Rp. 5000,-. Tidak mengenyangkan sih, tapi menurutnya cukup. Jika menunya nasi jinggo, ia akan makan selama dua kali sehari. Karena ya itungannya masih murah. Menu ini sangat diandalkan kalau musim sepi (di luar masa liburan). Biasanya disandingkan dengan mie instan untuk pengiritan.

Selain nasi jinggo, Rendra kadangkala juga membeli Nasi Campur Bali. Nasi Campur Bali ini harganya tergantung dari lauk apa yang diambil. Semakin banyak macam lauknya ya semakin mahal. Cuma kalau Nasi Campur Bali ini enaknya karena ada sayurnya sehingga lumayan lah buat menambah asupan gizi. Dalam satu bungkusnya terdiri dari serundeng, ayam suwir bumbu merah pedas, sayur oseng dan juga mie. Nah, yang khas dari semua masakan Bali adalah ada sambal matahnya. Ini yang membuat spesial. Lauk tambahannya pun bisa macam-macam sesuai permintaan. Ayam goreng, sate lilit, empal daging, perkedel goreng, ikan lau goreng dan lain sebagainya. Kalau hanya pesan yang standar kisaran harga Rp. 7000 hingga Rp. 10.000,-. Bedanya dengan nasi jinggo, nasi campur Bali lebih banyak porsinya. Apalagi kalau yang menjual dari daerah Jawa. Rendra menyebutnya porsi kuli. Karena nasi dan sayurnya banyak sehingga cukup mengenyangkan. Warung langganan Rendra adalah Warung Jember. Sebuah warung yang dikelola oleh orang Jember di wilayah Jaba Jero, Kuta.

Saya bertanya pada Rendra, masakan rumah apa sih yang paling dirindukan selama ada di perantauan? Dengan tegas dia menjawab, ikan tongkol goreng dan genjer. Itu adalah menu wajib ada kalau pulang. Bukannya di Bali tidak ada ikan tongkol, tapi rasanya beda. Lidah gatal seusai memakannya. Selain itu, kalau mau beli juga mahal karena harus satu ekor utuh. Tidak dipotong-potong seperti di wilayah Jember. Kalau genjer, di Bali mungkin ada, hanya saja Rendra belum pernah menjumpainya. Sayur untuk pecel umumnya di sana hanya menggunakan bayam, kayang dan kecambah. Karena kalau pulang, selalu menu wajib itu yang disediakan istri tercinta di atas meja makan. Tapi yang paling dirindukan adalah makan dan berkumpul bersama dengan anak istri menikmati menu seadanya di meja makan rumah.

Selama di Bali, Nasi Campur Bali dan nasi jinggo lah yang selalu setia menemaninya bertahan hidup. Oh, dengan mie instan juga tentunya. Karena sebagai perantau, Rendra dituntut cerdas dalam mengelola uang dan tentu saja cermat dalam memilih lauk makanan. Urusan enak tidak enak itu belakangan, yang penting kenyang. Dan utamanya, asap dapur di rumah tetap bisa mengepul.

Kalian yang mungkin sekarang sedang menjadi perantau, apa makanan yang setiap hari kamu santap? Lebih memilih memasak atau membeli?

Roti Keju atau Burger?

Tinggalkan komentar

Burger King

Pic From Krypto Money

Kalau harus memilih, lebih suka mana, roti keju atau burger? Roti keju maksudnya, roti dengan topping keju aja, nggak ada campuran yang lainnya. Kalau burger ya tau lah ya, paket komplit mulai dari sayuran, daging, keju, bawang bombay, plus saus dan mayonaise. Tunjuk tangan dong, kalian masuk team yang mana?

Kalau aku mengakui masuk team roti keju. Kenapa? Kalau untuk roti dengan topping yang berasa asin, hanya roti keju lah yang bisa dengan cepat lolos seleksi melalui lidahku. Heheheh. Dibilang kampungan juga tidak apa, karena memang begitulah keadaannya. Memang sih beberapa kali makan burger, tapi karena tidak terbiasa dengan macam-macam rasanya itulah lidah seakan protes, haha. Ya karena memang belum terbiasa aja sih jadinya aneh. Rasanya yang semarak mungkin terasa aneh bagi lidah orang Indonesia. Apalagi di Jember masih jarang. Jangankan yang sekelas Burger King Indonesia, di Jember adanya ya Burger usaha rumahan yang pemesanannya lewat PO dan nanti diantarkan langsung ke pemesan. Memang sih ada beberapa cafe dan kedai yang tersedia. Tapi tentu beda jauh lah sama Burger King Indonesia. Dari sausnya, sayurannya dan tekstur dagingnya juga beda.

Jember sendiri adalah sebuah kabupaten yang letaknya hampir di ujung Pulau Jawa, sebelum Banyuwangi, kalau dari arah Surabaya. Masuk Provinsi Jawa Timur. Masih Indonesia kan? Tapi di sini belum ada Burger King Indonesia. Hahahah. Penting banget dibahas. Kalau ada yang pernah mencobanya, ya karena kebetulan sedang mampir di kota-kota yang terdapat gerainya. Hihihi.

Waktu ke Jakarta, seorang teman pernah mengajakku mencoba Burger King Indonesia, kenyang sih. Tapi ya tetep untuk lidahku rasanya aneh. Hahaha. Lidahku ini rasanya masih belum terima gitu ada potongan roti dimakan sama daging yang sedikit tebel, sayuran dan berbagai macamnya. Karena biasanya paling mentok ya makan roti keju. Tapi memang bedanya kerasa banget sih waktu pernah nyoba makan Burger King Indonesia trus nyoba burger di Jember. Apa ya? Mungkin karena perbedaan bahan dan saus. Sama-sama enak sih kalau kata temenku. Kualitas bahan dan porsinya saja yang berbeda. Kalau aku sih setidaknya sudah pernah makan dan merasakannya biar nanti nggak kaget kalau tiba-tiba –entah tahun berapa– tiba-tiba makanan pokok rakyat Indonesia berganti roti. Hihihi.

Kalau roti keju memang favorit banget. Nggak enek dan nggak macam-macam rasanya. Simple. Aku sendiri kurang begitu suka makanan manis. Jadi meskipun suka kudapan roti, toppingnya lebih milih pakai keju daripada coklat dan selai-selai manis lainnya. Begitupun dengan makanan manis lainnya, sebisa mungkin sih divariasikan sama keju. Karena keju ini adalah penyelamat yang paling favorit. Dengan catatan, gak macem-macem lah campurannya. Aku orangnya simple kok, hahaha.

Tapi sebenarnya kita perlu lho untuk mencoba makanan-makanan yang jarang atau tidak pernah kita makan sebelumnya. Karena itu tandanya, berani mencoba hal baru. Jadi kalau pas tiba-tiba kita terlempar ke Amerika gak begitu kaget jika harus sarapan burger tiap hari. Ngayalnya ketinggian. Hahaha. Mencoba makanan baru dan mendatangi tempat-tempat baru itu bisa membuka wawasan kita akan perbedaan. Ya seperti makan burger, kita mungkin merasa aneh di lidah karena tidak terbiasa. Tapi bagi orang yang terbiasa, itu adalah makanan sehari-hari, Kalau orang Amerika disuruh makan pecel mungkin bakalan sama ekspresinya. Hal ini mengantisipasi kalau sewaktu-waktu keadaan kita berbalik.

Bagaimana, sudahkah kalian mencoba makanan dari daerah atau negara lain? Bagaimana rasanya?

 

Group Whatsapp : Antara Penyambung Silaturahmi dan Ujian Kesabaran

3 Komentar

Gambar diambil dari searching di google

Gambar diambil dari searching di google

Ada berapa group yang Anda ikuti di whatsapp? Satu, dua, tiga, atau lebih di atas lima? Saya sendiri terdaftar (semuanya tidak dengan sengaja saya ikuti) di 15 group whatsapp. Jumlah yang tentu saja membuat puyeng, apalagi untuk kapasitas hape yang sudah mulai megap-megap. Dari lima belas group tersebut di antaranya adalah : group profesi, group komunitas, group alumni, group reuni, group kepanitiaan dan event, group organisasi selama di kampus, group kantor, dll. Dan entah kenapa dalam satu waktu semua group itu bisa saja berubah fungsi sebagai group jual beli terselubung, hihi.

Hampir di semuanya saya tidak begitu aktif. Lebih tepatnya hanya menyimak saja. Mungkin aktif beberapa saat ketika memang ada diskusi di group. Selebihnya, saya lebih mengaktifkan diri sebagai pembaca. Mungkin ada yang berpikir ikut di sebuah group tapi gak pernah nampak ‘bicara’ apa gak membuang waktu? Apa gak sebaiknya leave aja untuk kemaslahatan umat? Hihi. Ada beberapa alasan sih memang buat saya kenapa harus tetap bertahan meskipun munculnya sesekali saja. Apalagi untuk group-group wacana dan informasi, tentu akan sangat banyak manfaat yang kita dapatkan.Khusus untuk group profesi, banyak sekali saya dapat wacana dan informasi yang bermanfaat. Di sanalah saya bisa sangat nyaman ketika tiba-tiba ikut terlibat diskusi atau sekedar menyatakan pendapat terhadap isu yang dibicarakan di group. Jadi, meski sedikit ‘bicara’ namun saya enggan keluar karena bagi saya group itu sarat informasi khususnya bagi pengembangan diri di profesi yang saya tekuni saat ini. Rela meskipun harus nyekrol-nyekrol ratusan percakapan yang terlewat. Meskipun ya, kadang ada masanya diskusi-diskusi itu kosong dan isinya cuma gambar-gambar atau video yang kadang bikin ketawa tapi kadang juga menguji kesabaran. Haha.

Saya sendiri sebenarnya bukanlah seorang yang selalu bisa memantau group whatsapp setiap saat. Makanya, salut banget kalau ada orang yang setiap saat selalu aktif menjawab dan melemparkan bahan obrolan. Khususnya admin. Jempol banget deh buat mereka. Karena jujur, saya belum tentu bisa seperti mereka yang bisa terus aktif meramaikan dan menghidupkan suasana group. Saat saya membuka semua group adalah ketika menjelang tidur malam, sambil istirahat. Tapi jika sepanjang hari ada waktu luang, maka saya bisa sesekali waktu membukanya.

Beberapa group yang menguji kesabaran adalah yang sepanjang hari isinya cuma nostalgia dan sering bercanda menjurus ke ghibah. Ada sih beberapa di group wasap yang saya ikuti isinya seperti itu. Pernah leave, dimasukkan lagi. Hehe. Iya sih, terkadang kita memang butuh sesekali bernostalgia tapi life must go on kan? hihi. Kalau sudah masuk ke masa nostalgia biasanya langsung ke tahap bercanda, lanjutannya bisa ke ghibah. Yang males itu kalau ghibahnya ke orang-orang yang tidak ada di group. Biasanya saya langsung bersihkan chat. Salah seorang senior saya di pencinta alam pernah melemparkan sebuah pertanyaan sebelum dia leave dari sebuah group yang kami ikuti bersama. Dia menanyakan apakah fungsi dari group tersebut cuma bercanda, nostalgia dan sesekali ghibah sementara kerusakan lingkungan seringkali terjadi. Tidak adakah diskusi seputar permasalahan lingkungan dan sebagainya yang berhubungan dengan dunia kepencintaalaman? Tidak ada tanggapan atas pertanyaannya. Kemudian pertanyaan yang menurut saya bagus itu tertutupi oleh ratusan chat dan mungkin hanya diingat oleh segelintir orang saja.

Menurut beberapa kawan saya yang mengamini group whatsapp sebagai hiburan dan suka-suka, keseharian di kehidupan nyata yang dijalani sudah terlalu serius jadi mereka melampiaskannya di group whatsapp untuk melontarkan candaan yang kadang bikin ketawa ngakak dan seringkali bikin gemes, haha. Tapi kadang bercandanya kelewat batas sehingga menutup fungsi utama group. Info-info penting jadi terlewat dan seringkali sepi tanggapan.

Saya suka sekali jika sebelum memasukkan ke group, admin yang bersangkutan meminta izin dulu secara pribadi. Ada satu group untuk kepentingan event blog, adminnya meminta izin terlebih dahulu dan menjanjikan jika acara sudah selesai group akan dihapus. Bagi saya ini profesional banget. Karena beberapa group kepanitiaan dan event yang tidak dihapus ketika acara sudah selesai jatuhnya gak jelas. banyak bercandanya daripada bagi informasinya, hehe.

Tak dapat dipungkiri, group whatsapp memang juga sebagai penyambung silaturahmi baik kawan lama, maupun mempertemukan kita dengan kawan baru. Banyak persahabatan yang tersambung lewat group. Kita juga bisa membantu usaha teman. Banyak manfaat yang sebenarnya bisa kita proleh jika bisa memanfaatkannya dengan bijak dan tepat. Sesuai dengan batas-batas tentunya. Karena bagi saya, segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Bercanda sewajarnya, nostalgia seperlunya. Group whatsapp ini sebenarnya seperti juga kehidupan di dunia nyata. Ketika kita hidup dengan bayak karakter orang. Ada yang pendiam namun menyimak, ada yang suka bikin huru-hara, ada yang ketus, ada yang lemah lembut dan selalu menyebarkan kata-kata mutiara, ada yang selalu berbagi informasi, ada yang suka nggosip, ada yang selalu ramai menghidupkan suasana, semuanya ada. Jadi tinggal bagaimana cara kita saja menempatkan diri. Karena membaca suasana adalah pelajaran yang tidak pernah kita terima di bangku sekolah. Terkadang, karena salah membaca suasana mengakibatkan salah persepsi yang bisa membuyarkan persahabatan, hehe.

Bagaimana dengan pendapat Anda tentang serba-serbi group whatsapp?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Pertama Aida, Serba-Serbi Grup WA”

Belajar Menahan Diri

3 Komentar

Bulan Maret. Yang selalu diingat dan dikenang dengan banyaknya peristiwa. Beberapa peristiwa pergolakan dan perjuangan untuk mempertahankan tanah memuncak di bulan ini. Masyarakat di seputaran Tumpang Pitu melakukan aksi untuk mempertahankan tanahnya dari perusahaan tambang emas di sana. Puluhan ibu-ibu masuk dalam lubang galian untuk menolak pemasangan infrastruktur listrik pertambangan. Sementara itu, di belahan bumi yang lain, Ibu-Ibu sedang mempertahankan tanahnya dari jarahan pabrik semen yang hemdak menghabisi pegunungan Kendeng dengan aksi Dipasung Semen jilid dua yang dilaksanakan pada bulan Maret ini. Puncaknya, Ibu Patmi –salah satu Pejuang Kendeng yang kakinya dicor semen– menghembuskan nafas terakhir.

Kabar duka datang silih berganti mewarnai bulan Maret. Begitu juga kabar bahagia. Semua datang saling berdampingan. Pernikahan, kehilangan, kedatangan dan kepergian. Orang-orang terlalu sibuk menampakkan kebahagiaannya seolah lupa pada kesedihan-kesedihan di sekitarnya. Orang-orang, terkadang juga terlalu larut dalam kesedihan hingga lupa caranya menikmati kebahagiaan di sekitarnya. Alur yang diciptakan Tuhan terkadang terlalu susah dimengerti. Bahkan hanya untuk sekadar menahan diri dan menjaga perasaaan.

Sebuah cerita kontras yang seringkali terjadi. Mengabarkan pernikahan sementara teman kita sedang terpuruk karena perpisahan. Menggebu menceritakan kehamilan istri kita, sementara yang mendengarnya sedang dalam masa pemulihan setelah keguguran. Menceritakan keadilan, sementara ada penindasan di tempat lain. Semua diciptakan berdampingan dengan sisi kontras yang sangat tajam. Sebuah pengingat.

Ada yang sedang berbahagia dengan pernikahan, di sisi lain ada yang merana karena perpisahan. Ada yang berbahagia dengan datangnya kehamilan, di sisi lain ada kesedihan karena keguguran. Ada kelahiran, ada kematian. Ada tawa, ada tangis. Ada perjuangan, ada pula pengkhianatan. Ada keadilan, banyak pula penindasan. Hitam dan putih.

Mungkin yang sedang dibutuhkan adalah belajar menahan diri dan menjaga perasaan. Menahan diri agar tak membuat mereka yang bersedih terluka karena kebahagiaan kita. Menjaga perasaan agar kesedihan kita tak membuat terpuruk hati mereka yang sedang berbahagia. Bagaimana bisa melakukan hal yang sesulit itu?

Tentu tidak semudah menuliskannya seperti ini. Kita hanya perlu sama-sama belajar dan berusaha untuk itu. Belajar menahan diri dan menjaga perasaan.

Tuhan, ini sangatlah rumit. Serumit apapun, aku akan berusaha untuk belajar menahan diri dan menjaga perasaan atas kesedihan dan kebahagiaan yang datang di kehidupanku. Mengelolanya dengan seimbang.

Mari atur semuanya dengan seimbang. Bahagia dan sedih seperlunya, agar kita tak lupa cara untuk terus berjuang.

***

Tulisan ini adalah renungan atas serangkaian peristiwa dalam kehidupan saya. Terhitung sejak 12 Maret 2017 lalu. Sekaligus sebagai pengingat dan renungan untuk hari lahir suami tercinta di 23 maret ini. Selamat hari lahir suamiku. Bapak anak-anakku. Sehat selalu untukmu. Bahagia selalu untukmu. Mari lanjutkan perjalanan ini dengan indah. Sekali lagi. Mari atur semuanya dengan seimbang. Bahagia dan sedih seperlunya, agar kita tak lupa cara untuk terus berjuang. I love you.

Older Entries