Beranda

Roti Keju atau Burger?

Tinggalkan komentar

Burger King

Pic From Krypto Money

Kalau harus memilih, lebih suka mana, roti keju atau burger? Roti keju maksudnya, roti dengan topping keju aja, nggak ada campuran yang lainnya. Kalau burger ya tau lah ya, paket komplit mulai dari sayuran, daging, keju, bawang bombay, plus saus dan mayonaise. Tunjuk tangan dong, kalian masuk team yang mana?

Kalau aku mengakui masuk team roti keju. Kenapa? Kalau untuk roti dengan topping yang berasa asin, hanya roti keju lah yang bisa dengan cepat lolos seleksi melalui lidahku. Heheheh. Dibilang kampungan juga tidak apa, karena memang begitulah keadaannya. Memang sih beberapa kali makan burger, tapi karena tidak terbiasa dengan macam-macam rasanya itulah lidah seakan protes, haha. Ya karena memang belum terbiasa aja sih jadinya aneh. Rasanya yang semarak mungkin terasa aneh bagi lidah orang Indonesia. Apalagi di Jember masih jarang. Jangankan yang sekelas Burger King Indonesia, di Jember adanya ya Burger usaha rumahan yang pemesanannya lewat PO dan nanti diantarkan langsung ke pemesan. Memang sih ada beberapa cafe dan kedai yang tersedia. Tapi tentu beda jauh lah sama Burger King Indonesia. Dari sausnya, sayurannya dan tekstur dagingnya juga beda.

Jember sendiri adalah sebuah kabupaten yang letaknya hampir di ujung Pulau Jawa, sebelum Banyuwangi, kalau dari arah Surabaya. Masuk Provinsi Jawa Timur. Masih Indonesia kan? Tapi di sini belum ada Burger King Indonesia. Hahahah. Penting banget dibahas. Kalau ada yang pernah mencobanya, ya karena kebetulan sedang mampir di kota-kota yang terdapat gerainya. Hihihi.

Waktu ke Jakarta, seorang teman pernah mengajakku mencoba Burger King Indonesia, kenyang sih. Tapi ya tetep untuk lidahku rasanya aneh. Hahaha. Lidahku ini rasanya masih belum terima gitu ada potongan roti dimakan sama daging yang sedikit tebel, sayuran dan berbagai macamnya. Karena biasanya paling mentok ya makan roti keju. Tapi memang bedanya kerasa banget sih waktu pernah nyoba makan Burger King Indonesia trus nyoba burger di Jember. Apa ya? Mungkin karena perbedaan bahan dan saus. Sama-sama enak sih kalau kata temenku. Kualitas bahan dan porsinya saja yang berbeda. Kalau aku sih setidaknya sudah pernah makan dan merasakannya biar nanti nggak kaget kalau tiba-tiba –entah tahun berapa– tiba-tiba makanan pokok rakyat Indonesia berganti roti. Hihihi.

Kalau roti keju memang favorit banget. Nggak enek dan nggak macam-macam rasanya. Simple. Aku sendiri kurang begitu suka makanan manis. Jadi meskipun suka kudapan roti, toppingnya lebih milih pakai keju daripada coklat dan selai-selai manis lainnya. Begitupun dengan makanan manis lainnya, sebisa mungkin sih divariasikan sama keju. Karena keju ini adalah penyelamat yang paling favorit. Dengan catatan, gak macem-macem lah campurannya. Aku orangnya simple kok, hahaha.

Tapi sebenarnya kita perlu lho untuk mencoba makanan-makanan yang jarang atau tidak pernah kita makan sebelumnya. Karena itu tandanya, berani mencoba hal baru. Jadi kalau pas tiba-tiba kita terlempar ke Amerika gak begitu kaget jika harus sarapan burger tiap hari. Ngayalnya ketinggian. Hahaha. Mencoba makanan baru dan mendatangi tempat-tempat baru itu bisa membuka wawasan kita akan perbedaan. Ya seperti makan burger, kita mungkin merasa aneh di lidah karena tidak terbiasa. Tapi bagi orang yang terbiasa, itu adalah makanan sehari-hari, Kalau orang Amerika disuruh makan pecel mungkin bakalan sama ekspresinya. Hal ini mengantisipasi kalau sewaktu-waktu keadaan kita berbalik.

Bagaimana, sudahkah kalian mencoba makanan dari daerah atau negara lain? Bagaimana rasanya?

 

Group Whatsapp : Antara Penyambung Silaturahmi dan Ujian Kesabaran

3 Komentar

Gambar diambil dari searching di google

Gambar diambil dari searching di google

Ada berapa group yang Anda ikuti di whatsapp? Satu, dua, tiga, atau lebih di atas lima? Saya sendiri terdaftar (semuanya tidak dengan sengaja saya ikuti) di 15 group whatsapp. Jumlah yang tentu saja membuat puyeng, apalagi untuk kapasitas hape yang sudah mulai megap-megap. Dari lima belas group tersebut di antaranya adalah : group profesi, group komunitas, group alumni, group reuni, group kepanitiaan dan event, group organisasi selama di kampus, group kantor, dll. Dan entah kenapa dalam satu waktu semua group itu bisa saja berubah fungsi sebagai group jual beli terselubung, hihi.

Hampir di semuanya saya tidak begitu aktif. Lebih tepatnya hanya menyimak saja. Mungkin aktif beberapa saat ketika memang ada diskusi di group. Selebihnya, saya lebih mengaktifkan diri sebagai pembaca. Mungkin ada yang berpikir ikut di sebuah group tapi gak pernah nampak ‘bicara’ apa gak membuang waktu? Apa gak sebaiknya leave aja untuk kemaslahatan umat? Hihi. Ada beberapa alasan sih memang buat saya kenapa harus tetap bertahan meskipun munculnya sesekali saja. Apalagi untuk group-group wacana dan informasi, tentu akan sangat banyak manfaat yang kita dapatkan.Khusus untuk group profesi, banyak sekali saya dapat wacana dan informasi yang bermanfaat. Di sanalah saya bisa sangat nyaman ketika tiba-tiba ikut terlibat diskusi atau sekedar menyatakan pendapat terhadap isu yang dibicarakan di group. Jadi, meski sedikit ‘bicara’ namun saya enggan keluar karena bagi saya group itu sarat informasi khususnya bagi pengembangan diri di profesi yang saya tekuni saat ini. Rela meskipun harus nyekrol-nyekrol ratusan percakapan yang terlewat. Meskipun ya, kadang ada masanya diskusi-diskusi itu kosong dan isinya cuma gambar-gambar atau video yang kadang bikin ketawa tapi kadang juga menguji kesabaran. Haha.

Saya sendiri sebenarnya bukanlah seorang yang selalu bisa memantau group whatsapp setiap saat. Makanya, salut banget kalau ada orang yang setiap saat selalu aktif menjawab dan melemparkan bahan obrolan. Khususnya admin. Jempol banget deh buat mereka. Karena jujur, saya belum tentu bisa seperti mereka yang bisa terus aktif meramaikan dan menghidupkan suasana group. Saat saya membuka semua group adalah ketika menjelang tidur malam, sambil istirahat. Tapi jika sepanjang hari ada waktu luang, maka saya bisa sesekali waktu membukanya.

Beberapa group yang menguji kesabaran adalah yang sepanjang hari isinya cuma nostalgia dan sering bercanda menjurus ke ghibah. Ada sih beberapa di group wasap yang saya ikuti isinya seperti itu. Pernah leave, dimasukkan lagi. Hehe. Iya sih, terkadang kita memang butuh sesekali bernostalgia tapi life must go on kan? hihi. Kalau sudah masuk ke masa nostalgia biasanya langsung ke tahap bercanda, lanjutannya bisa ke ghibah. Yang males itu kalau ghibahnya ke orang-orang yang tidak ada di group. Biasanya saya langsung bersihkan chat. Salah seorang senior saya di pencinta alam pernah melemparkan sebuah pertanyaan sebelum dia leave dari sebuah group yang kami ikuti bersama. Dia menanyakan apakah fungsi dari group tersebut cuma bercanda, nostalgia dan sesekali ghibah sementara kerusakan lingkungan seringkali terjadi. Tidak adakah diskusi seputar permasalahan lingkungan dan sebagainya yang berhubungan dengan dunia kepencintaalaman? Tidak ada tanggapan atas pertanyaannya. Kemudian pertanyaan yang menurut saya bagus itu tertutupi oleh ratusan chat dan mungkin hanya diingat oleh segelintir orang saja.

Menurut beberapa kawan saya yang mengamini group whatsapp sebagai hiburan dan suka-suka, keseharian di kehidupan nyata yang dijalani sudah terlalu serius jadi mereka melampiaskannya di group whatsapp untuk melontarkan candaan yang kadang bikin ketawa ngakak dan seringkali bikin gemes, haha. Tapi kadang bercandanya kelewat batas sehingga menutup fungsi utama group. Info-info penting jadi terlewat dan seringkali sepi tanggapan.

Saya suka sekali jika sebelum memasukkan ke group, admin yang bersangkutan meminta izin dulu secara pribadi. Ada satu group untuk kepentingan event blog, adminnya meminta izin terlebih dahulu dan menjanjikan jika acara sudah selesai group akan dihapus. Bagi saya ini profesional banget. Karena beberapa group kepanitiaan dan event yang tidak dihapus ketika acara sudah selesai jatuhnya gak jelas. banyak bercandanya daripada bagi informasinya, hehe.

Tak dapat dipungkiri, group whatsapp memang juga sebagai penyambung silaturahmi baik kawan lama, maupun mempertemukan kita dengan kawan baru. Banyak persahabatan yang tersambung lewat group. Kita juga bisa membantu usaha teman. Banyak manfaat yang sebenarnya bisa kita proleh jika bisa memanfaatkannya dengan bijak dan tepat. Sesuai dengan batas-batas tentunya. Karena bagi saya, segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Bercanda sewajarnya, nostalgia seperlunya. Group whatsapp ini sebenarnya seperti juga kehidupan di dunia nyata. Ketika kita hidup dengan bayak karakter orang. Ada yang pendiam namun menyimak, ada yang suka bikin huru-hara, ada yang ketus, ada yang lemah lembut dan selalu menyebarkan kata-kata mutiara, ada yang selalu berbagi informasi, ada yang suka nggosip, ada yang selalu ramai menghidupkan suasana, semuanya ada. Jadi tinggal bagaimana cara kita saja menempatkan diri. Karena membaca suasana adalah pelajaran yang tidak pernah kita terima di bangku sekolah. Terkadang, karena salah membaca suasana mengakibatkan salah persepsi yang bisa membuyarkan persahabatan, hehe.

Bagaimana dengan pendapat Anda tentang serba-serbi group whatsapp?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Pertama Aida, Serba-Serbi Grup WA”

Belajar Menahan Diri

3 Komentar

Bulan Maret. Yang selalu diingat dan dikenang dengan banyaknya peristiwa. Beberapa peristiwa pergolakan dan perjuangan untuk mempertahankan tanah memuncak di bulan ini. Masyarakat di seputaran Tumpang Pitu melakukan aksi untuk mempertahankan tanahnya dari perusahaan tambang emas di sana. Puluhan ibu-ibu masuk dalam lubang galian untuk menolak pemasangan infrastruktur listrik pertambangan. Sementara itu, di belahan bumi yang lain, Ibu-Ibu sedang mempertahankan tanahnya dari jarahan pabrik semen yang hemdak menghabisi pegunungan Kendeng dengan aksi Dipasung Semen jilid dua yang dilaksanakan pada bulan Maret ini. Puncaknya, Ibu Patmi –salah satu Pejuang Kendeng yang kakinya dicor semen– menghembuskan nafas terakhir.

Kabar duka datang silih berganti mewarnai bulan Maret. Begitu juga kabar bahagia. Semua datang saling berdampingan. Pernikahan, kehilangan, kedatangan dan kepergian. Orang-orang terlalu sibuk menampakkan kebahagiaannya seolah lupa pada kesedihan-kesedihan di sekitarnya. Orang-orang, terkadang juga terlalu larut dalam kesedihan hingga lupa caranya menikmati kebahagiaan di sekitarnya. Alur yang diciptakan Tuhan terkadang terlalu susah dimengerti. Bahkan hanya untuk sekadar menahan diri dan menjaga perasaaan.

Sebuah cerita kontras yang seringkali terjadi. Mengabarkan pernikahan sementara teman kita sedang terpuruk karena perpisahan. Menggebu menceritakan kehamilan istri kita, sementara yang mendengarnya sedang dalam masa pemulihan setelah keguguran. Menceritakan keadilan, sementara ada penindasan di tempat lain. Semua diciptakan berdampingan dengan sisi kontras yang sangat tajam. Sebuah pengingat.

Ada yang sedang berbahagia dengan pernikahan, di sisi lain ada yang merana karena perpisahan. Ada yang berbahagia dengan datangnya kehamilan, di sisi lain ada kesedihan karena keguguran. Ada kelahiran, ada kematian. Ada tawa, ada tangis. Ada perjuangan, ada pula pengkhianatan. Ada keadilan, banyak pula penindasan. Hitam dan putih.

Mungkin yang sedang dibutuhkan adalah belajar menahan diri dan menjaga perasaan. Menahan diri agar tak membuat mereka yang bersedih terluka karena kebahagiaan kita. Menjaga perasaan agar kesedihan kita tak membuat terpuruk hati mereka yang sedang berbahagia. Bagaimana bisa melakukan hal yang sesulit itu?

Tentu tidak semudah menuliskannya seperti ini. Kita hanya perlu sama-sama belajar dan berusaha untuk itu. Belajar menahan diri dan menjaga perasaan.

Tuhan, ini sangatlah rumit. Serumit apapun, aku akan berusaha untuk belajar menahan diri dan menjaga perasaan atas kesedihan dan kebahagiaan yang datang di kehidupanku. Mengelolanya dengan seimbang.

Mari atur semuanya dengan seimbang. Bahagia dan sedih seperlunya, agar kita tak lupa cara untuk terus berjuang.

***

Tulisan ini adalah renungan atas serangkaian peristiwa dalam kehidupan saya. Terhitung sejak 12 Maret 2017 lalu. Sekaligus sebagai pengingat dan renungan untuk hari lahir suami tercinta di 23 maret ini. Selamat hari lahir suamiku. Bapak anak-anakku. Sehat selalu untukmu. Bahagia selalu untukmu. Mari lanjutkan perjalanan ini dengan indah. Sekali lagi. Mari atur semuanya dengan seimbang. Bahagia dan sedih seperlunya, agar kita tak lupa cara untuk terus berjuang. I love you.

Sebuah Rahasia Pada Suatu Sore di Jogja (Bagian 1)

2 Komentar

Ini merupakan bagian pertama dari tulisan berseri untuk Pesona Jogja Homestay yang akan saya tulis. Sebuah kisah-kisah berseri yang di dalamnya menceritakan suasana dan peristiwa yang saya alami selama di Jogja. Khususnya ketika menginap di Pesona Jogja Homestay.

***

Pada sebuah sore yang basah di Pesona Jogja Homestay

              Pada sebuah sore yang basah di Pesona Jogja Homestay

“Sudah siap semua? Kalau begitu, aku ke kamar mandi dulu ya, mau pipis dan ambil dompet di kamar.”

Kamar saya ada di lantai 2. Teman-teman sedang bercengkrama di teras. Ada suami, Mas Lozz Akbar, Rian, Mbak Waya, Pungky, Jiwo dan Mas Topan. Kami berencana untuk jalan-jalan menikmati udara dan suasana Jogja di sore hari. Begitu masuk kamar mandi, menyelesaikan segala urusan hajat, dengan santai saya membuka pintu. Kok gak bisa? Udah coba diputer-puter tetep gak bisa. Sejak kecil, saya memiliki phobia jika berada di tempat sempit dan gelap. Berjalan di lorong sempit saja sudah membuat saya berkeringat dingin. Saya pernah lemas dan asma karena terkunci dalam kamar mandi kampus dan sebuah pusat pertokoan. Baru juga bulan kemarin saya terkunci di kamar mandi di dalam kamar hotel ketika mengkuti acara pelatihan jurnalistik. Masak ini saya alami yang ketiga kalinya di sini. Di Jogja. Saya mulai panik dan menggedor-gedor pintu. Takut kalau tidak ada yang mendengar, karena semuanya berkumpul di bawah. Saya berteriak dan menggedor-gedor.

Dada mulai terasa sesak dan keringat dingin mulai mengucur. Kemudian, terdengar suara suami dari luar yang mencoba menenangkan. Ada banyak suara, diantaranya Mas Lozz Akbar dan suara seorang perempuan. Mereka yang dari luar mencoba memutar-mutar gagang pintu sambil sesekali bertanya keadaan saya. Suami dan Mas Lozz mencoba untuk mendobrak pintu ketika saya sudah berteriak putus asa karena sesak napas. Entah bagaimana upaya mereka, tiba-tiba pintu sudah terbuka. Saya segera berlari ke arah balkon untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Menurut Mas Hakim, pintu yan macet tersebut kuncinya dioprek sama Mbak Widhi menggunakan sendok. Ya, dicongkel pakai sendok dan kemudian saya bisa bernapas lega. Mbak Widhi memang hebat!

Bersama Mbak Widhi, perempuan tangguh yang mencongkel pintu kamar mandi dengan sendok untuk menyelamatkan saya, hehe

Bersama Mbak Widhi, perempuan tangguh yang mencongkel pintu kamar mandi dengan sendok untuk menyelamatkan saya, hehe

Ya, ini merupakan salah satu rahasia saya. Saya paling takut mengunci kamar mandi. Tetep ditutup tapi nggak dikunci, jadi masih terbuka sedikit. Karena itu, saya paling nggak nyaman jika harus menggunakan kamar mandi di tempat umum. Kalau tidak terpaksa banget nget lebih memilih di rumah saja. Itupun harus ditungguin suami. Urusan ke kamar kecil jika sedang di luar rumah cukup membuat saya rewel. Suami tentu yang paling paham soal ini, hehe. Jadi, ketika tiba di penginapan dan mendapatkan kamar di atas dengan kamar mandi yang berbagi dengan tamu lain saya sedikit was-was. Setiap mau ke kamar kan selalu melewati kamar mandi, saya selalu membatin semoga nggak kekunci di dalam sana. Beruntung kamar di depan kami ditempati oleh Mas Lozz Akbar, jadi setiap ke kamar mandi saya selalu berpesan kepada suami untuk memberitahu Mas Lozz agar tidak keluar atau lewat. Kadang suami yang berjaga di depan kamar sambil menanti saya. Jarak kamar dan kamar mandi hanya selemparan kolor kalau kata Pungky. Hehe.

Baru kali ini saya menuliskan soal pobhia-pobhia di blog. Tapi ini baru dua hal, hehe. Merasa malu sebenarnya untuk mengakui. Tapi gimana lagi, hehe. Beruntung ada Mbak Widhi, salah satu petugas penginapan yang selalu siap sedia membantu kami. Perempuan tomboy yang punya sejuta kreasi.

Bersama Teman-Teman Blogger di Masjid Kotagede

Bersama Teman-Teman Blogger di Masjid Kotagede

Saya melihat tatapan mata khawatir dari teman-teman blogger yang menunggu di teras. Saya dan suami berusaha menjelaskannya sedikit, berharap tidak akan mengganggu suasana ketika kami berjalan-jalan menikmati udara Jogja di sore hari. Setelah itu, kami benar-benar menikmati udara sore kota yang katanya berhati nyaman ini. Dibandingkan beberapa tahun lalu, Jogja kini lebih ramai, sesak dan sedikit terburu-buru. Pemandangan ini saya nikmati dari balik kaca jendela mobil yang masih menyisakan butiran gerimis. Mobil melaju ke arah Kotagede. Sebuah keputusan yang diambil secara acak dan tiba-tiba selama perjalanan. Tujuan kami adalah sebuah Masjid berarsitektur lama di sana. Kami tiba dengan suasana hangat dan sedikit gerimis. Menyusuri setiap ruas dan lekuk bangunannya sambil membayangkan betapa kokohnya pada ia masa lampau. Masih setengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Kami menikmatinya dengan gembira. Saya juga menikmatinya sebagai terapi sesak nafas yang masih tersisa usai terkunci dalam kamar mandi.

Meski banyak hal-hal yang tak terduga dan drama terjadi, saya begitu menikmati ketika berada di Jogja kali ini. Meski masih ada beberapa tugas dan wawancara yang harus kami selesaikan, namun berkumpul dan bertemu dengan teman-teman blogger adalah obat lelah tiada tara. Bersyukur kami dipertemukan dalam sebuah penginapan dengan suasana rumah yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Penginapan tersebut bernama Pesona Jogja Homestay. Terletak di kelurahan Tahunan, kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta. Untuk lokasinya sudah dijelaskan dengan rinci oleh suami saya pada postingan ini.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya saya dan suami menginap di sini. Tahun lalu, ketika kami di Jogja untuk kebutuhan akses data di sebuah perpustakaan, juga menginap di sini. Homestay ini milik sepasang suami istri. Mas Win dan Mbak Irma Devita. Saya dan suami bersahabat dan sering ngobrol untuk urusan sejarah. Pertengahan Oktober lalu adalah kali kedua kami menginap di Pesona Jogja Homestay. Ada banyak perubahan tentunya dari tahun sebelumnya. Saya benar-benar menikmati menginap di sana karena bareng juga dengan beberapa kawan blogger yang kami kenal. Menempati sebuah unit bernama Prambanan bersama Mas Lozz Akbar, Pungki Prayitno, Jiwo dan Mas Topan Pramukti. Quality Time yang sangat berkesan mengingat kebiasaan kami yang sedikit banyak sama soal bangun pagi. Satu unit rumah kami tempati, bebas mau ngapain aja. Nggosip sampai subuh dan bangun sampai tengah hari pun sudah kita lewati bersama, haha. Sudah seperti rumah sendiri, bangun semaunya. Padahal memang suasananya kamarnya tenang dan enak banget buat bobok sepanjang hari. Mengingat kesibukan saya dan suami yang beberapa bulan ini memang luar biasa, kurang tidur setiap harinya, sehingga ketika menginap di Pesona Jogja Homestay benar-benar kami manfaatkan untuk beristirahat.

Awalnya, jika bicara soal homestay tentu yang saya pikirkan adalah sebuah rumah yang terdiri dari beberapa kamar, beserta perabotnya, yang kita sewa untuk kebutuhan menginap atau acara. Ada dapur dan peralatan masaknya. Namun ketentuannya adalah semua kebersihan kita yang menanggungnya sendiri. Namun ketika ada di Pesona Jogja Homestay, semuanya ada yang menangani. Mulai dari kebersihan, makanan dan segala tetek bengeknya sudah ada petugasnya. Bagi saya pribadi, ini adalah homestay kelas hotel. Nyaman sekali, bikin betah dan males pulang. Cuma tiga kata itu yang ada dalam pikiran saya ketika menuliskannya.

Satu hal lagi yang membuat saya berkesan adalah kesigapan para petugasnya. Adalah Mbak Widhi yang rela mencongkel pintu dengan sendok ketika saya terkunci di kamar mandi dan hampir pingsan. Mbak Widhi juga lah yang mau direpotkan tengah malam karena kran toilet yang bocor dan banjir di kamar mandi lantai atas. Mbak Widhi yang selalu berkata siap meskipun kami ajak nongkrong di angkringan sampai dini hari. Ada juga Mbak Endang yang selalu sigap membersihkan kamar dan unit kami. Serta tak lupa menyiapkan sarapan pagi-pagi padahal para penghuninya baru aja bobok pules. Love semuanya deh :* :*

Dari semua itu saya baru menyadari, bahwa yang membuat kita nyaman tinggal di suatu tempat adalah suasana dan juga orang-orangnya. Selanjutnya, semuanya mengikuti. Terkadang kita menjumpai sebuah penginapan yang angkuh. Suasananya enak, tapi orang-orangnya kaku. Tapi di sini lain, masih ada sedikit ketulusan meski Jogja sudah mulai berubah. Setidaknya, masih ada yang berhati luas dan bisa memahami. Sifat yang sulit sekali dijumpai di kota-kota besar dengan ritme hidup yag selalu diburu waktu. Bersambung.

Older Entries Newer Entries