Beranda

Sudah Pernah Makan Steak?

3 Komentar

Seorang teman pernah bertanya langsung kepada saya, sudah pernah makan steak? Mendengar pertanyaan itu saya tertawa. Teman saya berusaha meralat pertanyaan tersebut karena takut menyinggung perasaan. Hahaha. Jangan dibawa baper gengs! Karena sebenarnya itu pertanyaan wajar, apalagi mengingat tempat tinggal saya di sebuah Kabupaten yang letaknya ratusan mungkin hampir seribu kilometer dari jantung ibu kota. Tapi sungguh, di Kabupaten kecil kami, Jember, juga ada kedai steak lokal. Saya pernah makan di sana beberapa kali selama kuliah. Memang tidak semewah Holycow Steak. Tapi setidaknya lidah saya sudah bisa merasakan dan membayangkan rasanya seperti apa. Jadi, ketika ada yang bertanya sudah pernah makan steak atau belum pingin ngakak sebelum menjawabnya.

Pada awal tahun 2015 lalu, ketika dari Jakarta dan mampir di rumah keluarga Bandung saya juga diajak makan di sebuah gerai steak. Ada yang memesan steak ayam, tuna dan tentu saja sapi. Saya lupa nama tempatnya, tapi yang jelas bukan Holycow sih. Karena waktu itu, kami sama-sama kelaparan sehabis perjalanan. Kelaparan, tapi mampir di kedai steak bisa kenyang? Ini pertanyaan yang mungkin diajukan oleh para pemuja nasi putih. Tapi memang waktu itu, saya sendiri ragu-ragu. Bisa kenyang gak ya kalau makan hanya pakai steak dan kentang yg ditumbuk lembut? Nyatanya kenyang karena saya pesen nasih putih juga dong. Haha. Maklumin aja lah ya, karena ini memang makanan yang tidak biasa saya makan jika di Jember. Kalaupun ada, tentu rasa dan penyajiannya berbeda. Apalagi yang ada di sekitaran kampus. Harga dan kualitasnya tentu saja disesuaikan dengan kondisi dompet para mahasiswa.

Iseng saya bertanya pada sahabat saya yang sekarang tinggal di Jakarta. Dika namanya. Ia hampir 10 tahun di Jakarta, bekerja sebagai pegawai di sebuah bank nasional. Pernah makan di Holycow Steak gak sih? Dika sendiri pernah makan di Holycow Steak sekitar 4 kali. Yang pertama karena ditraktir temannya. Satu kali gratisan karena pas ulang tahun. Yang keduanya bayar sendiri karena pas lagi pengen makan di sana bareng suami dan anak-anaknya. Menurut Dika, untuk ukuran Jakarta Holycow Steak termasuk terjangkau daripada yang lainnya. Meskipun harganya masih terjangkau tapi dari segi rasa, kualitas dan pelayanannya juga tak kalah bagus dengan yang lainnya. Jadi, kalau ingin menikmati steak dengan rasa yang enak dan harga murah, Dika pasti memilih Holycow. Sudah nggak kepikir yang lainnya. Menurutnya, kalau ada yang lebih murah dengan rasa yang memuaskan kenapa harus memilih yang lebih mahal tapi rasanya sama?

Satu lagi pertanyaan yang saya lontarkan ke Dika. Namun sebelumnya, saya meminta maaf terlebih dahulu sebelum menanyakannya. Ya takutnya tersinggung. Petanyaannya sepele sih, tapi karena penasaran ya harus saya tanyakan. Kenapa sih rela ngeluarkan uang demi makan steak? Apa karena untuk memenuhi gaya hidup aja, mengingat sekarang dia tinggal di Jakarta? Menurut Dika, kalau urusan makan sih sebenarnya bukan karena gaya hidup. Tapi ya memang karena pingin nyoba. Apalagi di Jakarta banyak sekali pilihan makanan yang sebelumnya belum dimakan. Jadi memang segala hal di Jakarta itu selalu dikaitkan dengan pemenuhan gaya hidup semata. Lagian makannya juga nggak setiap hari. Setiap bulan sekali belum tentu. Paling kalau waktu dan momen-momen spesial saja dia dan keluarganya pergi makan di luar. Itung-itung refreshing dan mencoba makanan baru yang sebelumnya belum pernah dimakan. Kebanyakan malah karena undangan teman, gathering kantor dan acara semacamnya.

Dika menambahkan, kalau hanya untuk memenuhi gaya hidup semata, ya nggak bakalan cukup meski punya uang ratusan juta. Harus pinter manajemen keuangan dan milah mana yang butuh didahulukan, mana yang sifatnya bisa ditunda sementara waktu. Ah, Dika masih saja seperti dulu. Logatnya pun masih tetap medok. Tak tergilas arus bahasa elo gue. Hahahah. Padahal awalnya kami hanya ngobrol seputar steak saja, akhirnya bisa sharing soal kebutuhan dan pengaturan keuangan ala dia yang hidup di Jakarta. Sungguh berfaedah!

Jadi, kalian sudah pernah makan steak belum? Sudah penah makan Holycow Steak atau yang lainnya mungkin?

Menolak Lupa Dengan Bersyukur

7 Komentar

Kebahagiaan selalu datang setiap saat. Kita tak pernah menyadarinya. Kita bahkan lupa bahwa Tuhan memberikannya setiap waktu. Kita seringkali lupa untuk membaginya dengan mereka yang membutuhkan. Karena itu, kita butuh bersyukur setiap saat. Agar tak lupa bahwa Tuhan merencanakan yang paling indah untuk kehidupan kita.

Salam Lestari,
@apikecil

Dua Tahun KEB : Ini Bukan Soal Feminisme

8 Komentar

keb

Saat ini, genap 2 tahun KEB. Moment istimewa bagi Kumpulan Emak2 Blogger. Sebuah kumpulan blogger perempuan yang fokus pada dunia blogging. Saat hari bersejarah  KEB, ada banyak ledakan bencana ditanah air. Banjir di Jakarta, Sinabung dan beberapa konflik lingkungan. Seakan-akan menjadi pengingat yang luar biasa bagi kita semua untuk tetap berbagi. Saya awalnya menuliskan postingan ini di sebuah kertas, kemudian mengetik tulisan tersebut pada hape dan mengirimkanya dalam bentuk sms pada seorang kawan. Meminta bantuannya untuk menuliskan di blog. Ya, malam ini saya sedang dalam kondisi tidak bisa online. Saya hanya bisa berkirim sms saja. Tapi, hal tersebut tak membuat saya menyerah untuk menuliskan tentang KEB.

KEB adalah komunitas yang kuat dan berkarakter. Digawangi dengan admin-adminnya yang tegas. Ini yang paling dibutuhkan dalam sebuah group dunia maya. Aturan yang dibuat cukup ketat dan selektif. Semuanya dijalankan denga tegas. Beberapa kasus tentang akun palsu yang menyamar sebagai perrempuan demi ingin bergabungnya dengan KEB pun diselesaikan dengan manis dan tegas. Kiprah KEB selama dua tahun ini sangat menginspirasi banyak hal tentang perempuan, khususnya di dunia blogging. Banyak hal yang dibagi. Ada banyak kisah inspiratif dan bermanfaat yang bergulir setiap harinya. Saya bangga menjadi member KEB karena bisa mendapat asupan bergizi setiap harinya. Saya benar-benar dibagi banyak hal. Mulai dari dunia penulisan, dapur, parenting, sosmed, travelling, humaniora, lingkungan serta cara-cara bertahan hidup dari segala macam tekanan. Semuanya menguatkan pola pikir saya. Semuanya dibahas dengan bahasa ringan dan ala emak-emak yang sedang ngobrol. Benar-benar membahagiakan dan menyenangkan.

Kenapa harus perempuan ? Bagi saya, ini bukanlah masalah gender apalagi feminisme. Tidak harus berfikir seberat itu dan mengernyitkan dahi mendengar KEB. Sebuah komunitas yang keseluruhan membernya adalah perempuan. Bagi saya pribadi ini adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan bagi saya pribadi untuk mendapatkan sharing informasi tentang perempuan dan dunianya. Dan pada kenyataanya, tak membuat kami melupakan kodarat kami sebagai seorang perempuan. Namun, dibalik semua komunitas ini memang menginspirasi semuanya. Tak hanya bagi emak-emak, tapu juga menginspirasi bagi bapak-bapak blogger. Dalam hal ini, saya melakukan beberapa survey kecil pada suami dan beberapa teman blog yang saya kenal. Malam ini. saya meminta mereka mengirimkan sms pada saya. Tentang bagaimana KEB dimata mereka, tentang inspirasi dan spirit apa yang mereka dapatkan dari KEB. Saya rasa, saya membutuhkan pendapat mereka untuk memperkaya sudut pandang dan pemaknaan yang lebih luas.

KEB dimata mereka . Bagaimana pendapatmu tentang KEB ? Inspirasi dan spirit apa yang kalian dapat dari KEB ? Mas Hakim :

Disaat yang lain sibuk memandang mata pada kaum hawa, KEB berani tampil beda dengan selera massa. Seakan-akan mereka sedang ingin tampil secantik-cantiknya didepan suami tercinta. Salut. Merdeka !!

Uncle Lozz :

KEB itu emansipasi wanita di dunia maya KEB itu wujud eksistensi perempuan masa Indononesia masa kini KEB itu obat manjur para ibu-ibu agar tak bergosip di tukang sayur KEB itu inspirasi bagi setiap lelaki untuk turut melakukan eksistensi dir KEB itu mungkin sebuah tamparan bagi para pria yang malas berkarya KEB itu semacam obat perangsang agar suami semakin sayang

Kang Sofyan :

KEB bukan hanya sekedar komunitas atau kumpulan ibu-ibu. KEB adalah wadah positif menyalurkan aspirasi dan gagasan baru seputar perkembangan dan kemajuan jaman. Truslah berkarya KEB, karyamu adalah inspirasi bagi semuanya, terutama para perempuan Indonesia.

Selamat 2 Tahun KEB, semoga semakin menebarakn inspirasi pada semuanya. Semoga kedepannya semakin bermanfaat dan jangan pernah bosan berbagi pada saya. Kalau bayi, dua tahun itu usia yang sedang lucu-lucunya. Sedang aktif-aktifnya. Selalu ceria dan menghibur semuanya, terus semangat dan berkarya untuk semua member KEB 🙂

Apa Kabar Kopimu Hari Ini?

7 Komentar

Hallo Bob, apa kabar kopimu hari ini? Masih pahitkah? Yah, seperti itulah rasanya kopi. Bagimu kopi itu harus pahit. Bila bercampur dengan gula, rasanya akan bermetamorfosa menjadi lain. Aku tau, kau terlalu sering menepis anggapan bahwa seseorang yang suka minum kopi pahit selalu menapaki hidup yang pahit. Tapi, kita tak pernah merasa bahwa hidup ini pahit bukan? Bukankah kita selalu berbahagia meskipun kopi yang kita cecap ini berasa pahit. Ya, rasanya akupun harus menepis anggapan itu. Toh, rasa kopi yang pahit belum tentu menggambarkan suasana hati kita bukan? Mungkin teori itu tak pernah berlaku dalam kehidupan kita. Enyahkan saja, dan mari kita nikmati hidup ini dengan cara yang indah.

Hari ini, 10 Januari 2014. Januari selalu membuat dadaku penuh. Ya, sekarang adalah hari lahir Bob. Dan saudara kembarnya tentu saja. Ya, Bob mempunyai saudara kembar. Amir El Rahman namanya. Aku biasanya memanggilnya Lek Ming. Wajah dan perawakannya mirip banget sama Bob. Hanya saja, ketika mereka beranjak remaja sudah mulai mempunyai style sendiri-sendiri. Bob lebih suka berambut panjang dan penampilannya sporty. Sedangkan Lek Ming lebih rapih, mulai dari baju sampai potongan rambut. Hampir semua orang tidak bisa membedakan keduanya. Tapi saya, ibu dan adik-adik selalu bisa membedakannya. Hehe.

Mulai dari penampilan sampai selera, keduanya sebenarnya tidak bisa dikatakan sama. Mereka berdiri sendiri-sendiri. Mulai dari rasa kopi, makanan, dan selera musik pun tak sama. Tapi anehnya, bila ada salah seorang dari mereka yang sakit maka suasananya akan menular ke kembarannya. Pernah suatu ketika, Lek Ming sakit tiba-tiba Bob ikut lemes dan lunglai juga. Begitupun ketika Bob sakit maka Lek Ming pun akan mengalami hal yang sama.

Sekarang mereka berdua memperingati hari lahir. Aku hanya bisa berdoa dari sini. Kota yang dingin ini. Semoga mereka berdua selalu diberikan kebahagiaan dan kesehatan yang luar biasa oleh-Nya. Semoga doaku bisa memeluk mereka berdua. Selamat hari lahir Bapak kembar. Mari kita nikmati kopi dari tempat yang berbeda-beda, dan tentu saja dengan suasana dan citarasa  yang berbeda-beda pula. Aku sayang kalian 🙂

Older Entries