Beranda

Giveaway 66 : Dangdut Cerdas on The Blog – Orkes Sakit Hati

10 Komentar

‘Orkes Sakit Hati’ merupakan lagu yang populer dinyanyikan band SLANK. Dirilis pada tahun 1999 dengan judul album 999+09.

Saya bersama kawan-kawan dari Sudut Kalisat membawakannya kembali untuk berpartisipasi dalam Giveaway Dangdut On the Blog, yang diselenggarakan Pakdhe Abdul Cholik.

Semoga persembahan sederhana ini bisa turut menyemarakan hari Pakdhe sekeluarga. Selamat hari lahir  ke 66, sehat dan selalu bahagia.

Salam hormat untuk Om NH selaku dewan juri.

Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dalam video ini.

Salam sayang dari kami di Kalisat, sebuah desa kecil di wilayah Jember bagian utara.

***

Baner-Giveaway-66-Dangdut-Cerdas-On-the-Blog

 “Artikel ini diikutsertakan pada Giveaway 66 Dangdut Cerdas on The Blog”

Iklan

Hari Pelangi Untuk Kelor

14 Komentar

Segala mcam ilmu kepencintaalaman itu nantinya akan bermuara pada konservasi. Jangan terjebak naik gunung. Inti dari kepencintaalaman adalah berbagi untuk sesama. Salam Lestari

Kelor di punjak Raung Sejati | Segala macam ilmu kepencintaalaman akan bermuara pada konservasi. Inti dari pencinta alam adalah berbagi untuk bumi dan seluruh isinya. Salam Lestari!!!

Entah bagaimana awalnya saya mengenal sosok perempuan lincah ini. Suatu ketika, di penghujung tahun 2009 saya mengunjungi sebuah sekretariat PA Mahadipa. Rencana awal kesana adalah untuk ngopi. Waktu itu saya dan suami belum menikah. Iseng kami membuka beberapa file foto dies natalis yang diselenggarakan oleh Mahadipa. Tiba pada satu foto, saya dan suami tercengang. Pandangan kami bertumpu pada sosok gadis yang sedang makan bersama dengan beberapa kawan pencinta alam lainnya.

“Mas, kok rasanya saya ingin kenal lebih dekat dengan cewek yang ada di foto itu ya?”

“Kenapa?”

“Saya nggak tau alasannya Mas, hehe.”

Saya sendiri bingung dengan permintaan yang tak punya alasan. Tapi Mas Hakim langsung menyanggupi untuk mencari sosok gadis yang ada di foto tersebut. Pencarian dicari dengan jalur apapun. Baik lewat dunia maya maupun nyata. Akhirnya sampailah pada hasil yang sangat memuaskan. Indana Putri Ramadhani, adalah nama lengkapnya. Namun kebanyakan teman pencinta alam memanggilnya Kelor.

Perjumpaan kami waktu itu ketika mengunjungi sebuah expo yang diselenggarakan oleh FTP Unej, tempat kuliah si Kelor. Kebetulan Khatulistiwa (organisasi PA yg Kelor ikuti) juga mengadakan pameran. Dari sanalah perkenalan dimulai. Kelor adalah sosok yang manis dan tomboi. Kala itu saya senang sekali bisa berkenalan dengannya. Dari sana mulai berlanjut pertemuan-pertemuan selanjutnya. Hingga tanpa saya sadari Kelor sudah seperti adik sendiri.

Ketika Kelor kelayapan tengah malam saya ngamuk-ngamuk. Ada cowok yang usil, saya marah. Ia hanya menaggapinya dengan cengar-cengir. Entahlah, bagi saya Kelor berbeda. Tomboi namun suka mewek dan berharap sesuatu yang romantis pada cowoknya. Saya tahu, sudah beberapa kali kehidupan asmaranya kandas. Namun itu tak membuatnya berhenti berceloteh. Tak merenggut kebahagiaannya. Ia selalu kocak, meskipun dalam hatinya meringis. Tapi, ada juga sih masa-masa galau yang sudah kronis. Sebegitu parahnya, ia bisa sampai update status setiap menit. Itu berarti Kelor sedang galau, marah, kesal, dan sebagainya. Semuanya bisa kena imbas kalau dia sedang marah. Mulai dari vespa mogok sampai penjual nasi bungkus yang melayani pelanggannya dengan lambat pasti akan dengan mudahnya kena imbas kemarahanmu. Itu, kamu banget Lor, haha.

Beberapa kali tak sukses dalam hal asmara, seringkali membuat saya tak rela bila ia terlalu dekat dengan cowok yang tak pernah punya keinginan serius dengannya. Sejujurnya, ini alasan kenapa setiap cowok yang dikenalkan selalu saya sambut dengan judes. Lebih parahnya lagi, bahkan membuat si cowok ilfil hanya dengan menunjukkan foto waktu Kelor tidur. Sebagai catatan, ia tidurnya gak karuan. Dijamin yang lihat bakalan ilfil. Sebenarnya ini saya lakukan karena saya tahu, Kelor akan terluka lagi. Sebenarnya saya tahu, kalau si cowok tak pernah serius sama Kelor.

Percayalah, Kelor akan lebih cantik kalau foto seperti ini daripada foto pethakilan dan kelihatan giginya :P

Percayalah, Kelor akan lebih cantik kalau foto seperti ini daripada foto pethakilan dan kelihatan giginya 😛

Suatu hari Kelor pernah bercerita bahwa 27 Maret adalah hari pelangi. Ia mendapatkan cerita dari Pak Budi, salah satu jagawana di Taman Nasional Meru Betiri. Sepertinya cocok sekali dengan karakter yang terlahir pada tanggal tersebut. Pelangi adalah simbol kekuatan yang muncul setelah hujan. Bukan kekuatan yang keras, tapi kekuatan yang indah dengan banyak warna. Warna disini melambangkan sifat keterbukaanmu kepada siapa saja. Kadang sempat mengkhawatirkan, karena takut ada yang memanfaatkan. Kemunculan Kelor selalu disambut ceria oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Kamu boleh mengutuk rasanya sakit hati, tapi jangan lupa bahwa itu adalah utusan Tuhan. Jangan pernah lupa atas skenario indah yang sudah disiapkan Tuhan. Adakalanya Tuhan memang mempertemukan kita dengan orang yang tidak tepat untuk mengantarkan kita pada orang yang tepat. Akan ada banyak ujian dan rasa sakit yang kita lewati untuk memantapkan hati pada satu pilihan. Adakalanya Tuhan menguji komitmen kita, untuk menyiapkan ke jenjang yang lebih indah. Percayalah, Tuhan tahu apa yang kita butuhkan.

Sekarang adalah hari pelangi, bersamaan dengan lahirnya seorang perempuan ceria yang kini berusia 22 tahun. Selamat hari pelangi. Selamat hari lahir, semoga senantiasa bahagia. Dalam hidup, cita, keluarga, cinta, sehat, rizki dan lingkungan. Jangan pernah merasa tua, karena usia dunia masih jauh lebih tua. Jangan merasa ditinggalkan hanya karena banyak teman seangkatan yg sudah lulus. Jangan pernah terpuruk ketika tersakiti. Kelor adalah pelangi, kekuatan yang datang selepas hujan dan badai. Semangat!

Salam Lestari,

@apikecil

GAM Pulang ke Panaongan*)

22 Komentar

Gam, mendung dan es buahnya

Gam, Es Buah dan Mendungnya 🙂

Jangan terburu-buru mengernyitkan kening ketika membaca judul di atas. Tenang saja, ini bukan untuk membahas organisasi itu. Ini adalah tentang Gam. Adik saya dari Aceh. Dia baru tiba ke Jember kemarin, dan kemungkinan sampai beberapa minggu ke depan. Seperti kebanyakan kebiasaan di dunia pencinta alam, setiap anggotanya memiliki nama lapang tersendiri. Gam adalah nama lapang yang diberikan oleh organisasi pencinta alam Mahadipa (Mahasiswa Divisi Pencinta Alam) Fak. Teknik Unej. Semasa kuliah dulu, Gam adalah anggota disana. Nama aslinya adalah Pujiono.

Dulu semasa kuliah, Gam sering sekali ada di Panaongan. Waktu bulan puasa juga kita rame-rame jual es buah di double way Unej. Ah, itu sudah setahun yang lalu rasanya. Mungkin juga lebih. Saya tidak tahu pasti, dan malas mengingat angka-angka. Hehe. Dan kurang lebih sudah setahun ini juga Gam pulang ke kampung halamannya di Aceh. Berwirausaha disana, dan tentu saja tidak mengabaikan semua yg pernah dia dapat ketika di Jember.

Jualan es buah rame-rame

Jualan Es Buah Rame-Rame Bareng Gam, Kelor, dll

Di Fakultas Teknik dia mengambil jurusan mesin. Urusan bongkar pasang mesin sepeda sudah tak asing lagi baginya. Tak heran, ketika pulang ke Aceh dia berwirausaha, membuka bengkel. Selain untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya, juga untuk membuka lapangan kerja meskipun bengkelnya masih terbilang kecil. Hari ini saya melihat Gam lebih matang. Ya, meskipun gaya kocaknya masih tetap. Dialeknya berubah-ubah ketika berbicara. Kadangkala ada sedikit logat aceh yang seringkali membuat saya tergelak. Kadangkala memakai bahasa Jawa dicampur dengan Indonesia. Sungguh beragam pembicaraan kami malam ini.

Bersama Bagus dia ke rumah. Dia membawa kopi Aceh sachetan, satu kantong plastik keripik singkong, dan seplastik kue bawang. Saya segera menyeduh kopi yang dibawanya. Aroma dan rasanya khas. Namun bagi saya pribadi, racikan kopi sachetan, apalagi yg dicampur dengan gula rasanya terlalu manis. Gam bilang, dia sudah berusaha mencari kopi Aceh bubuk asli deplokan sendiri, tapi tidak ada. Ketika itu sudah malam, jadi agak susah untuk mencarinya. Akhirnya lelaki penggemar lagu melayu ini pun membawa yang dalam bentuk sachetan. Kopi plus gulanya.

Gam dan Kopi Acehnya

Oleh-oleh dari Gam semalam 🙂

“Mbak, kue-kue ini home industri lho, buatan sendiri”, ujarnya pada saya.

Lalu Gam bercerita, keripik singkong dan kue yg dibawanya itu adalah buatan Ibu-Ibu di Dusun Sumber Agung Desa Bukit Tiga Kecamatan Peunaron Kabupaten Aceh Timur. Sudah hampir 5 bulan ini Gam melakukan pendampingan terhadap Ibu-Ibu di sekitar rumahnya untuk membuat home industri semacam ini. Ketika saya tanya, apa motivasinya melakukan itu. Kenapa ia begitu tertarik dengan kondisi sosial di lingkungan sekitar rumahnya? Hanya satu jawaban yang Gam lontarkan. Biar Ibu-Ibu disana nggak nggosip terus. Saya dan teman-teman yang mendengar langsung tertawa ngakak. Tapi sebenarnya jauh di kedalaman hati kami, pernyataan tersebut sungguh teramat ‘Mak Jlebbb’.

Dengan perasaan yang masih sebegitu Mak Jleb, saya mencoba menikmati keripik singkongnya. Rasanya sangat gurih. Berbeda dengan keripik singkong disini. Gurih beraroma bawang. Saya mengira itu memang dikasih bawang, ternyata perkiraan saya salah besar pemirsa. Menurut Gam, singkongnya memang mendapatkan perlakuan khusus sebelum digoreng. Tentu saja hal ini melewati beberapa trial dan error. Jadi, singkongnya dipotong-potong terlebih dahulu. Dipotong sesuai dengan ukuran keripik. Kemudian direndam sehari semalam di dalam air. Nah, dari proses rendaman itu nanti akan menyisakan pati. Endapan butiran halus dari singkong tersebut. Setelah sehari semalam, singkong ditiriskan dan digoreng. Nggak pakai bumbu apa-apa. Nah, pati yang mengendap tersebut dijemur hingga menjadi tepung. Jadi semuanya bisa dimanfaatkan. Setelah digoreng, keripik itu dibumbui garam saja. Dikocok-kocok pakai garam. Itu saja bumbunya. Entah kenapa, rasanya teramat gurih. Saya tidak tahu, apakah disini juga memakai perlakuan yang sama seperti itu. Cuma, kalau di sini bumbunya sudah beraneka ragam. Mungkin lebih banyak penyedapnya. Tapi keripik yg dibawa Gam ini, cuma dibumbui garam saja, gurihnya sudah sangat luar biasa. Mungkin juga karena efek dan suasana kami yang sedang beromantisme dan berbagi kenangan.

Ah, gurih nian hidupmu Gam…

Kalau mengingat Gam, saya selalu mengingat kisah-kisah lucu antara dia dan dulur-dulurnya di Mahadipa. Antara otot-ototannya dengan Bencot. Engkel-engkelan dengan Lelet ataupun Gabug dan juga Cempluk. AH, kangen kalian semua.

“Cot, coba tengoklah airnya tu sudah mendidih Lay”, ujar Gam berteriak

“Tengok-tengok, apene ngomong ndelok ae tengok!”, Bencot menimpali dengan tak kalah seru membentak.

“Sudah dikacau kopinya ini Cot?”, tanya Gam suatu ketika.

“Opone seh sing dikacau? Huh!”, Bencot menimpali dengan tak kalah heboh.

Argghhh, pertengkaran mereka berdua selalu kurindukan. Haha. Bencot dan Gam ketika bertemu selalu bertengkar. Kadang mereka mempertengkarkan hal-hal yang remeh. Tapi disitulah sisi romantisme yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidupnya. Hehe. Kalau jauh, mereka pun akan saling merindukan. Dan tentu saja, gengsi untuk mengakuinya. Hehe.

Dan malam ini kami (Mas Vj Lie, Mas Mbudi Hartono, Bagus Adi Susanto, dan Gam) menikmati kopi aceh dan cemilan yang keren dari Gam. Dengan segudang cerita dan kenangannya. Tiba-tiba, kami pun teringat dengan sebagian dari kami yang sekarang di Jakarta. Mereka sudah ngopi belum ya? Tapi tenang saja, kopinya akan kusimpan buat Mas RZ Hakim dan Dieqy Hasbi Widhana. Tapi, sayang sekali M Afwan Fathul Barry tidak bisa menikmatinya. Karena sepertinya dia akan menetap lama di Jakarta.

Ini, kukirimkan aroma kopi aceh yang kubuat dari Jember untuk kalian semua yg disana. Spesial juga buat mas Fawaz Al Batawy yang ada di Bangko, mas Ananda Firman Jauhari yang juga di Bangko, dan mas Okta Lunk juga.

*) GAM, disini bukan Gerakan Aceh Merdeka, tapi nama adik saya 🙂

—**—

*Catatan Gak Penting*
Tiba-tiba nulis status sepanjang ini. Gak terasa. Modus apa cobak? Kangen sama siapa cobak? Haha. Abaikan poin cacatan yang gak penting ini. Diskip aja pemirsa

Nan, Aku Pulang Ke Kotamu…

4 Komentar

Pulang ke kotamu,  ada setangkup haru dalam rindu…

SORE ini kereta telah membawaku sampai di kotamu. Ya, dan sekarang aku telah benar-benar ada di kotamu. Menghirup udara yang sama denganmu. Menatap langit yang sama denganmu. Dan juga suasana yang sama denganmu. Semuanya indah, unik dan bagiku tak kan terlupakan. Entah bagimu. Semoga saja kita merasakan hal yang sama. Senja ini sungguh indah dan menyenangkan. Baru kali ini aku singgah di kotamu. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa sangat lekat dengan kota ini. Kota dimana kau menghirup nafas dan merajut rindu demi rindu. Dadaku penuh. Aku pulang ke kotamu.

Kota ini mengingatkanku pada tulisan-tulisanmu. Ya, kota ini adalah tulisanmu. Yang selalu kubaca dan kurindukan. Seperti hela napas yang kadang terasa sesak saat kau tuliskan duka. Ah, ternyata kau begitu hidup. Aku seperti menyusuri kenangan-kenanganmu. Aku seperti memahami rindu dan cintamu. Meskipun aku tak pernah bertemu denganmu. Siapa dirimu, hingga aku terlalu larut masuk dalam peradaanmu. Mungkin inilah cara Tuhan, dan kita sepertinya memang harus melakoni apa yg sudah ditakdirkan-Nya.

“Bagaimana dengan mimpi-mimpimu? Bagaimana dengan rindu-rindu yg tak kunjung redam? Yang kadang tak pernah kau temukan muaranya?”

“Mimpiku masih tetap ada. Bukankah itu yang membuatku masih tetap hidup? Rinduku pun masih sama. Terkadang, aku tak mampu menemukan muaranya. Namun Tuhan menolongku dengan tulus. Hingga akhirnya kubuat muaranya sendiri. Ah, sepertinya kita terlalu sentimentil. Bukankah kenangan tak harus selalu diperbincangkan? Bukankah ia akan terasa lebih istimewa bila hanya untuk dikenang?”

“Ya, untuk sesuatu yg terlampau menyakitkan memang hanya butuh ditengok sekilas saja. Lukanya akan terbuka lagi bila kita terlampau sering membicarakannya. Biarkan saja menguap di bawa angin kota ini. Semoga nanti menjelma sebagai taman-taman yg asri, musisi jalanan, warung-warung angkringan dan senyum-senyum ketulusan yg tak ternilai harganya. Bukankah kau kemari untuk pulang ke kotaku? Kita nikmati saja apa yang ada saat ini”

“Iya Nan, saat ini aku memang sedang pulang ke kotamu. Okelah, mari kita nikmati saja segelas kopi ini bersama. Kau tahu kan, kopi disini porsinya trlalu besar untuk kunikmati sendiri. Ah, wangi suasana kota ini semoga tak tergantikan oleh apapun. Kau tahu kan, bukankah negara kita suka sekali menjual ‘sesuatu’ ke investor asing? Kuharap tidak terjadi di kota ini”

Kau tersenyum hangat mendengarkan omelanku. Sama hangatnya seperti senja di kota ini. Sama eratnya dengan rindu yg dihembuskan angin kota ini. Sama manjanya dengan lambaian merapi ke arahku. Dan sama kuatnya dengan kenangan-kenanganmu di kota ini. Maka ijinkanlah aku untuk pulang lagi ke kotamu. Nan, tunggu aku di bulan April. Tunggu aku di kotamu. Yogyakarta…

Catatan :
Ini hanya sebuah tulisan fiksi yg diilhami dari sebuah pertemuan dengan seorang sahabat di sebuah kota yg hangat. Yogyakarta

Tulisan ini saya persembahkan untuk meramaikan Projek Tentang Kita-nya Mbak Carolina Ratri. Maaf, baru sekarang nulisnya Mbak, hehe. Terjadi sesuatu dg netbookku shg tidak bisa memenuhi janji. Maaf ya Mbak 🙂

Hari Kedua di Tahun Ketiga

17 Komentar

Awalnya saya memiliki beberapa rumah di berbagai jasa penyedia blog. Aktifitas ngeblog pun melulu seperti itu saja. Menulis dan kemudian selesai sudah. Hanya sebatas menulis. Ibaratnya memindahkan sebuah ide tulisan ke dalam sebuah kertas kosong, kemudian menyimpannya di bawah bantal. Ya, hanya seperti itu saja. Blog semakin bertambah, namun tak ada kemajuan sedikitpun. Kadang menuliskan cerpen, puisi, tulisan asal, curhatan, bahkan umpatan sekalipun.

Beberapa blog tersebut awalnya lahir atas waktu senggang saya ketika masih bekerja di warnet. Bingung mau ngapain, akhirnya buat blog. Setelah resign dari warnet, saya bekerja sebagai jurnalis daerah. Lagi lagi terjun di dunia menulis. Kalau awalnya menulis hanya karena iseng, kali ini tuntutannya lebih berat. Karena menulis sebuah berita, memang tak semudah yang saya bayangkan. Waktu sebagian besar dihabiskan di jalan, apalagi kalau ada reportase dadakan. Akhirnya, beberapa blog yang tadinya terawat pun akhirnya terbengkelai. Kadang saya mengisinya dengan berita berita yang saya tulis.

Merasa ada yang kurang atas aktifitas tersebut (baca jenuh), akhirnya saya membuat blog baru lagi. Dengan tanpa mengesampingkan blog yang lain. Yang ada di pikiran saya waktu itu, ingin refresh dengan menulis puisi, cerpen, dan beberapa essay lifestyle. Karena mungkin saya bosan dengan keseharian menulis berita,hehehe. Sebenarnya niat ini terpantik karena pacar (sekarang suami) juga membuat blog baru. Akhirnya, lahirlah apikecil ini. Dengan harapan selalu menjaga semangat saya untuk selalu menulis.

Setelah beberapa saat blog ini berjalan, saya menemukan sebuah sensasi yang luar biasa. Entahlah, saya tak tahu dari mana semua ini berawal. Waktu itu pacar memberitahukan pada saya sebuah kontes yang unik. Wah, ini pengalaman baru buat saya. Akhirnya saya merapat ke BlogCamp (blog tempat terselenggaranya kontes tersebut). Pemilik blog tersebut biasa disebut Pakdhe Cholik oleh beberapa kawan blogger.

Kuis yang saya ikuti pertama kali adalah Kuis Lagak dan Lagu. Kuis yang mengapresiasikan lirik lagu dengan foto. Ah, unik sekali kuisnya. Akhirnya saya nekat ikutan. Namanya juga baru pertama ikutan kuis, saya sampai mendaftarkan 3 foto karena ada dua foto sebelumnya dianggap tidak cocok dengan syarat kontesnya. Alhamdulillah, foto ketiga tersebut diterima oleh Pakdhe. Dan hasilnya, saya menang kategori khusus di kontes tersebut. Menangnya di Kategori Menur Pantang Mundur, alasannya karena saya pantang menyerah dalam ndaftarin foto,hahahah. Itu adalah kontes pertama yang saya ikuti dan menang di kategori khusus. Saya sampai loncat loncat baca pengumumannya.

Berawal dari sanalah semangat ngeblog saya meningkat. Saya menemukan sesuatu yang baru di dunia ngeblog. Kalau dulu hanya sekedar menulis, sekarang sudah lebih dari itu. Dari sosok Pakdhe saya belajar bagaimana bersilaturahmi di dunia maya, berbagi rejeki, melihat dan menempatkan suasana, serta menghargai semua kalangan. Saya menikmati alur lalu lintas yang berseliweran di markas maya Pakdhe Cholik. Dari sana juga saya mulai berkenalan dengan beberapa kawan blogger dan beberapa kontes. Sungguh sesuatu yang luar biasa, dan ini lebih daripada kegiatan menulis biasa.

Saya semakin mengenal sosok Pakdhe yang penuh sahaja, ketika beliau hadir di penikahan saya. Waktu itu, kehadirannya didampingi oleh Budhe Ipung yang sederhana dan anggun. Ah, sebuah kehormatan yang luar biasa. Wow, inikah yang dinamakan kopdar? Tapi sensasi yang saya rasakan lebih dari kopdar. Hmm, rasanya saya tak pernah menemukan sebuah kalimat yang tepat untuk mendeskripsikannya.

Sekarang adalah hari kedua di tahun ketiga untuk BlogCamp, markas Pakdhe Cholik di dunia maya. Markas dimana saya juga ikut merapat di dalamnya. Markas yang memberi pelajaran tanpa menggurui. Markas yang selalu membuat saya ingin tahu kabarnya setiap saat. Dan markas yang membuat saya mengerti, bahwa persahabatan itu tak terbatas ruang dan waktu. BlogCamp, semoga nyalamu selalu menghangatkan dan bermanfaat bagi kami semua. Dirgahayu BlogCamp..

*****

Secangkir Kopi dan Sekotak Biscuit Untuk BlogCamp

Secangkir Kopi dan Sekotak Biscuit Untuk BlogCamp

Teriring doa dan harapan termanis untuk BlogCamp, bersama ini saya sertakan juga secangkir kopi rindu dan sekotak biscuit. Semoga bisa menjadi hidangan pembuka di hari kedua pada tahun ketiga berdirinya BlogCamp. Selamat menikmati… 🙂

Ini Bukan Ucapan Selamat Tinggal, Mas…

85 Komentar

Beberapa hari lalu aku menulis Mas. Tepatnya hari Kamis, tertanggal 23 Februari 2012. Sebuah tulisan fiksi yang secara implisit menggambarkan tentang dirimu. Otak bawah sadarku menggiring jemari ini untuk menuliskannya. Sabtu dini hari sa’at aku terlelap, suami membangunkanku. Mengabarkan warta yang enggan kudengar. Kau telah berpulang ke pangkuan-Nya. Rasanya sulit mencerna semua yang kudengar. Aku menerimanya dalam bentuk patahan patahan, enggan mendengarnya secara nyata. Aku takut mendengar kenyataan bahwa kau benar benar pergi. Semakin takut, semakin sadar bahwa itu warta yang nyata. Dan aku pun tak bisa membendung air yang keluar dari mata ini. Tuhan punya cara sendiri untuk melepaskanmu dari belenggu rasa sakit itu, Mas…

Kapan terakhir kita ketemu Mas? Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ya, sa’at itu bertepatan dengan peringatan hari bumi, 22 April 2011. Kita dan beberapa kawan sedang ada di acara bertajuk lingkungan di Sukamade – Banyuwangi. Tak dapat dipungkiri,semangatmu sa’at itu benar benar luar biasa. Benar benar membakar. Perjuanganmu dalam masalah lingkungan memang selalu membuat semua orang kebat kebit. Dan pada akhirnya, semua orang akan tau bahwa apa yang kau perjuangkan tak kan pernah sia sia. Mohon ma’af  Mas, bila ada kesan yang kurang berkenan dalam acara itu (tragedi truk mogok di tengah hutan).

Ini kebersama’an terakhir kita Mas. Kau (Alm. Mas Bibin memakai kaos dengan logo Pro Fauna berwarna hitam) berdiri tepat di sampingku (aku memakai kerudung berwarna pink)

Ini sa’at truk kita macet Mas, beberapa rombongan turun untk menariknya dengan tambang. Ingatkah kau dengan suasana yang riuh itu? Dan ingatkah kau sa’at itu adik kecilmu ini menangis dengan egoisnya…

Sa’at perjalanan pulang, truk yang kita tumpangi tidak bisa lewat karena ada truk lain yang mogok di tengah hutan (jalan hanya bisa dilewati satu truk saja). Kau tau sa’at itu aku sedang gelisah dan ingin segera sampai karena ada acara lain yang menunggu. Dengan segala cara kau berusaha membuatku terhibur dan tersenyum. Tapi sa’at itu aku adalah adik kecilmu yang rewel dan ingin segera pulang. Aku tak tahu, kenapa harus seegois itu. Kita dan rombongan menunggu beberapa jam, dan akhirnya kau memutuskan agar rombongan berjalan kaki dan menunggu di pos TN di bawah. Untuk mencapai tempat tersebut kita harus melakukan perjalanan yang panjang. Berjalan kaki dan sesekali numpang di mini truk milik penduduk. jam tiga sore rombongan secara berkala sampai di pos TN. Ini sudah melampaui waktu yang diperkirakan, mengingat keberangkatan kita dari Sukamade jam 7 pagi. Harusnya jam 3 sore ini aku sudah bisa sampai di jember. Lagi

Qie,Ijinkan Aku Menitipkan Mata…

80 Komentar

Sekilas senyum khasnya tak asing lagi untukku. Ya, senyum manis itu memang hanya milikmu. Gaya tomboi itu juga milikmu. Wajah dengan bintik bintik merah jerawat dan mata sipit itu juga milikmu. Perempuan tangguh dengan sejuta petualangan dan mimpi itu adalah kamu. Qiqi. Cewek metropolis yang entah tersesat atau apa, tiba tiba memilih untuk berkuliah di daerah kecil ini. Dengan latar budaya, dan bahasa keseharian yang sangat jauh dengan kota kelahirannya.

Gayanya yang konyol dengan medok bahasa yang berbeda, membuatnya selalu terlihat mempesona di sekitar kami. Merupakan daya tarik tersendiri untuk ku. Seperti mendengarkan kicauan burung di alam bebas. Ah, indahnya…

“Mau kemana Qie?”, tanyaku

“Ke Rinjani Mbak. Besok berangkat. Paling sekitar 2 minggu aku di sana. Sekalian mau lihat perkampungan suku sasak disana. Hehe…”, jawabnya seraya memasukkan barang ke tas carier berwarna merah setinggi 1 meter itu.

“Ah, enaknya… Hati-hati ya, jangan lupa oleh-olehnya”,ucapku menerawangkan mimpi untuk menggapai ke tempat yang akan kau tuju.

Terkadang aku berpikir, betapa mudahnya dirimu bermimpi dan mewujudkannya. Berbeda jauh denganku. Aku bahkan takut untuk bermimpi dan berusaha sekuat tenaga untuk tak bermimpi. Karena aku takut kecewa, tatkala aku harus mengubur dalam dalam mimpi dan harapan harapan itu. Semoga sayapmu tak pernah lelah untuk terbang menggapai semua mimpi mimpi itu. Lagi

Older Entries