Beranda

Group Whatsapp : Antara Penyambung Silaturahmi dan Ujian Kesabaran

3 Komentar

Gambar diambil dari searching di google

Gambar diambil dari searching di google

Ada berapa group yang Anda ikuti di whatsapp? Satu, dua, tiga, atau lebih di atas lima? Saya sendiri terdaftar (semuanya tidak dengan sengaja saya ikuti) di 15 group whatsapp. Jumlah yang tentu saja membuat puyeng, apalagi untuk kapasitas hape yang sudah mulai megap-megap. Dari lima belas group tersebut di antaranya adalah : group profesi, group komunitas, group alumni, group reuni, group kepanitiaan dan event, group organisasi selama di kampus, group kantor, dll. Dan entah kenapa dalam satu waktu semua group itu bisa saja berubah fungsi sebagai group jual beli terselubung, hihi.

Hampir di semuanya saya tidak begitu aktif. Lebih tepatnya hanya menyimak saja. Mungkin aktif beberapa saat ketika memang ada diskusi di group. Selebihnya, saya lebih mengaktifkan diri sebagai pembaca. Mungkin ada yang berpikir ikut di sebuah group tapi gak pernah nampak ‘bicara’ apa gak membuang waktu? Apa gak sebaiknya leave aja untuk kemaslahatan umat? Hihi. Ada beberapa alasan sih memang buat saya kenapa harus tetap bertahan meskipun munculnya sesekali saja. Apalagi untuk group-group wacana dan informasi, tentu akan sangat banyak manfaat yang kita dapatkan.Khusus untuk group profesi, banyak sekali saya dapat wacana dan informasi yang bermanfaat. Di sanalah saya bisa sangat nyaman ketika tiba-tiba ikut terlibat diskusi atau sekedar menyatakan pendapat terhadap isu yang dibicarakan di group. Jadi, meski sedikit ‘bicara’ namun saya enggan keluar karena bagi saya group itu sarat informasi khususnya bagi pengembangan diri di profesi yang saya tekuni saat ini. Rela meskipun harus nyekrol-nyekrol ratusan percakapan yang terlewat. Meskipun ya, kadang ada masanya diskusi-diskusi itu kosong dan isinya cuma gambar-gambar atau video yang kadang bikin ketawa tapi kadang juga menguji kesabaran. Haha.

Saya sendiri sebenarnya bukanlah seorang yang selalu bisa memantau group whatsapp setiap saat. Makanya, salut banget kalau ada orang yang setiap saat selalu aktif menjawab dan melemparkan bahan obrolan. Khususnya admin. Jempol banget deh buat mereka. Karena jujur, saya belum tentu bisa seperti mereka yang bisa terus aktif meramaikan dan menghidupkan suasana group. Saat saya membuka semua group adalah ketika menjelang tidur malam, sambil istirahat. Tapi jika sepanjang hari ada waktu luang, maka saya bisa sesekali waktu membukanya.

Beberapa group yang menguji kesabaran adalah yang sepanjang hari isinya cuma nostalgia dan sering bercanda menjurus ke ghibah. Ada sih beberapa di group wasap yang saya ikuti isinya seperti itu. Pernah leave, dimasukkan lagi. Hehe. Iya sih, terkadang kita memang butuh sesekali bernostalgia tapi life must go on kan? hihi. Kalau sudah masuk ke masa nostalgia biasanya langsung ke tahap bercanda, lanjutannya bisa ke ghibah. Yang males itu kalau ghibahnya ke orang-orang yang tidak ada di group. Biasanya saya langsung bersihkan chat. Salah seorang senior saya di pencinta alam pernah melemparkan sebuah pertanyaan sebelum dia leave dari sebuah group yang kami ikuti bersama. Dia menanyakan apakah fungsi dari group tersebut cuma bercanda, nostalgia dan sesekali ghibah sementara kerusakan lingkungan seringkali terjadi. Tidak adakah diskusi seputar permasalahan lingkungan dan sebagainya yang berhubungan dengan dunia kepencintaalaman? Tidak ada tanggapan atas pertanyaannya. Kemudian pertanyaan yang menurut saya bagus itu tertutupi oleh ratusan chat dan mungkin hanya diingat oleh segelintir orang saja.

Menurut beberapa kawan saya yang mengamini group whatsapp sebagai hiburan dan suka-suka, keseharian di kehidupan nyata yang dijalani sudah terlalu serius jadi mereka melampiaskannya di group whatsapp untuk melontarkan candaan yang kadang bikin ketawa ngakak dan seringkali bikin gemes, haha. Tapi kadang bercandanya kelewat batas sehingga menutup fungsi utama group. Info-info penting jadi terlewat dan seringkali sepi tanggapan.

Saya suka sekali jika sebelum memasukkan ke group, admin yang bersangkutan meminta izin dulu secara pribadi. Ada satu group untuk kepentingan event blog, adminnya meminta izin terlebih dahulu dan menjanjikan jika acara sudah selesai group akan dihapus. Bagi saya ini profesional banget. Karena beberapa group kepanitiaan dan event yang tidak dihapus ketika acara sudah selesai jatuhnya gak jelas. banyak bercandanya daripada bagi informasinya, hehe.

Tak dapat dipungkiri, group whatsapp memang juga sebagai penyambung silaturahmi baik kawan lama, maupun mempertemukan kita dengan kawan baru. Banyak persahabatan yang tersambung lewat group. Kita juga bisa membantu usaha teman. Banyak manfaat yang sebenarnya bisa kita proleh jika bisa memanfaatkannya dengan bijak dan tepat. Sesuai dengan batas-batas tentunya. Karena bagi saya, segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Bercanda sewajarnya, nostalgia seperlunya. Group whatsapp ini sebenarnya seperti juga kehidupan di dunia nyata. Ketika kita hidup dengan bayak karakter orang. Ada yang pendiam namun menyimak, ada yang suka bikin huru-hara, ada yang ketus, ada yang lemah lembut dan selalu menyebarkan kata-kata mutiara, ada yang selalu berbagi informasi, ada yang suka nggosip, ada yang selalu ramai menghidupkan suasana, semuanya ada. Jadi tinggal bagaimana cara kita saja menempatkan diri. Karena membaca suasana adalah pelajaran yang tidak pernah kita terima di bangku sekolah. Terkadang, karena salah membaca suasana mengakibatkan salah persepsi yang bisa membuyarkan persahabatan, hehe.

Bagaimana dengan pendapat Anda tentang serba-serbi group whatsapp?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Pertama Aida, Serba-Serbi Grup WA”

Dua Senja Kemarin, Ada Masjid dan Gerimis

11 Komentar

masjid

Dua senja kemarin ketika gerimis turun, saya dan suami sedang melintasi jalan yang penuh areal persawahan. Segar menyejukkan rasanya. Gerimis berkecipak pelan. Sampailah kami di depan sebuah masjid. Dari kejauhan, masjid ini tampak begitu memukau. Bangunannya megah arsitekturnya mewah. Masjid Bani Toyyib, begitu masyarakat wilayah Antirogo Jember mengenalnya. Ini termasuk masjid yang baru rampung renovasinya. Disela gerimis yang turun satu persatu, masjid ini nampak begitu berani menghunjam mendung.

Untuk apa semua ini diciptakan bermegah-megah? Apakah dengan itu kadar keimanan diukur? Sayang, senja, mendung dan gerimis pun tak mampu menjawabnya. Karena hanya Tuhan yang bisa menimbang semuanya.

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

logo

A Place to Remember : Rumah Jingga Para Pencinta

24 Komentar

6-Ini foto tahun 2008, di depan Rumah Jingga. Saya yang mana hayo?? :)-

Jika harus mengingat satu tempat yang penuh kenangan, ingatanku langsung terlontar pada sebuah ruangan dengan ukuran kurang lebih 7×4 meter persegi. Kaca jendela, pintu dan barang di dalamnya dipenuhi dengan aneka macam stiker. Warna dan tulisannya beragam. Secara umum, stiker-stiker tersebut menandakan waktu dan tempat sebuah acara. Cat temboknya berubah-ubah. Kadangkala berwarna hijau, putih, krem, jingga dan lain sebagainya. Rasanya semua warna sudah pernah dicoba, selain hitam tentu saja. Tapi bagiku, rumah ini tetap berwarna jingga. Aku menyebutnya, rumah jingga para pencinta. Dia adalah sekretariat pencinta alam SWAPENKA (Mahasiswa Pencinta ALam) Fakultas Sastra Unej.

7-Nggak nemu gambaran ruangan yang detail, nemunya yang ini. Tuh, lihat cat temboknya, macem-macem kan? Hihihi-

Ya, semuanya yang ada di dalamnya adalah mereka yang sedang belajar untuk mencintai alam. Bukan pencinta alam, tapi tentu saja senantiasa untuk belajar mencintainya. Pencinta alam, bagi saya kata itu terlalu tinggi dan utopis. *Jangan dikeplak carier cagak ya Bulik Juri :P* Bukan mustahil, namun selalu diusahakan menuju ke arah sana. Di rumah jingga inilah kami bermain dan belajar bersama-sama. Bukan melulu pada ilmu-ilmu kepencintaalaman. Tapi, disinilah saya belajar tentang bagaimana cara menikmati hidup dengan sudut pandang yang berbeda. Disini pula kami belajar bahwa hidup yang seimbang adalah hidup yang humanis. Setara dengan alam dan sekitarnya.

Kalau pagi datang, di depan sekretariat yang rimbun terdengar cericit burung ramai membuyarkan mimpi. Belum lagi ocehan tetangga penghuni sekretariat sebelah yang sudah mulai semarak. Itu tandanya, jam kuliah sudah dimulai. Ada banyak kisah yang tercecer, bahkan di permukaaan loker yang berkarat dan penuh stiker. Ada kenangan yang menempel di deretan piala usang yang itu-itu saja. Terakhir nambah 2012 kemarin, waktu Rotan dan Sodhunk menang lomba nulis. Belum lagi ubin-ubin usang yang selalu menopang pijakan tubuh saya sewaktu tidur, duduk maupun berlari-lari kecil gak jelas. Hehe. Ada yang melekat pada payung merah dengan kursi beton yang melingkar di bawahnya. Tempat bagi semua yang ingin berbagi rasa. Curhat, nglamun atau sekedar ngopi-ngopi hore.Semuanya selalu indah untuk dikenang.

depan-Ini gambaran pepohinan rimbun di depan sekretariat. Foto diambil sewaktu pemberangkatan Diklatsar tahun 2013-

Pepohonan dan tamannya tertata sesuai mood para penghuninya. Kadang bagusss banget, tapi tak jarang juga berantakan. Begitu pula dengan halamannya. Kadang kotor bangeeet, kadang malah bersih banget. Kami memang menyerahkan semuanya pada alam. Biar saja daun-daun yang mengering itu luruh dan menyatu dengan alam menjadi pupuk.

Saat kawan-kawan pencinta alam fakultas lain sibuk dengan acara-acara ekstrim semacam naik gunung, panjat tebing, caving, orad dan semacamnya – kami masih tetap seperti apa yang dimulai oleh para pendahulu. Seperti namanya, Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam. Mempelajari konservasi dari sudut pandang keilmuan yang kami terima di Fakultas Sastra. Menulis. Ya, para pendahulu kami percaya bahwa dengan menulis kita pun bisa melakukan upaya pelstarian alam. Jadi jangan heran, tidak ada wall climbing yang tingginya menyentuh langit di sekitar rumah jingga kami. Bukan berarti kami menutup mata dengan bidang keilmuan yang lain. Karena kenyataannya semua ilmu kepencintaalaman itu pada akhirnya bermuara pada konservasi. Semuanya dipelajari untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan.

5-Lawan!!! Foto tahun 2008-

Rumah jingga bagi saya adalah tempat bermain, belajar dan melawan. Bermain menikmati hidup. Belajar mengerti hidup yang setara dengan alam. Belajar berbagi dengan semua mahluk ciptaan Tuhan. Belajar ilmu-ilmu kepencintaalaman ala barat. Dijejali ilmu konservasi ala kepentingan kapitalisme. Kemudian melawannya dengan mempelajari aneka macam kearifan lokal yang sesugguhnya lebih adil bagi nusantara ini. Disinilah kami mengenyam semuanya. Di sebuah tempat yang tak kan pernah terlupakan, rumah jingga. Meskipun mengalami perbaikan diberbagai sisi, sampai menghilangkan kolam ulang tahun kami –rumah jingga– masihlah menjadi tempat untuk mengenang semuanya. Tempat pulang yang paling nyaman. Lekat dan erat.

1-Salam dari kami, dari rumah jingga. Rumah bagi para pencinta :)-

Ada benci, suka, duka, cinta, luka. Semuanya pernah tumpah ruah mewarnai rumah jingga dengan kadar yang tak bisa di-angka-kan.Jangan ditanya ada berapa banyak kenangan yang menempel di setiap ruangannya. Sampai detik saya menuliskan kisah ini, semuanya mengalir deras dan membuat kotak memori meletup-letup. Kenangan. Semanis dan sepahit apapun rasanya, selalu menarik untuk diceritakan.

“A Place to Remember Giveaway”

???????????????????????????????

Segalanya Berawal Dari Langkah Pertama

13 Komentar

Suatu hari, Mas Eru Vierda menghubungi saya. Dia sedang punya gawe Giveaway My First Journey, dan meminta saya untuk menjadi juri. Wow. Agak sedikit kaget sih sebenarnya. Kenapa harus saya ya yang jadi juri? Takutnya, ada sedikit kekhawatiran dari peserta yang ikut. Jurinya koq enggak banget sih? Kayaknya bukan travel blogger deh, gak pernah nulis tentang mengunjungi suatu tempat yang keren. Ih jurinya kan pemabok (mabok darat) berat, gak yakin deh dia sering jalan-jalan. Segala pertanyaan itu terus terang menghantui saya. Hahahaa…

Akhir-akhir ini entah mengapa perjalanan selalu diidentikan dengan tempat wisata yang keren. Petualangan selalu juga diidentikkan dengan kegiatan alam bebas. Atau kalau nggak sebuah upaya eksplorasi yang kadang malah menjebak kita pada rusaknya potensi yang ada. Menurut saya perjalanan tak hanya sebatas pada destinasi saja. Tapi lebih pada intisari dan esensinya. Agar kita melihat dan merasakan apa yang kita temui. Lebih daripada itu, melakukan perjalanan adalah sebuah keputusan berani untuk menikmati hidup dengan cara yang berbeda. Meskipun sekarang ini hal seperti itu sudah sangat menjamur dan sedikit meleset dari apa yang saya bayangkan.

Jujur, saya selalu salut dengan mereka yang sering melakukan perjalanan kemudian menuliskannya di blog lengkap dengan foto-fotonya. Saya sendiri takut untuk melakukan itu. Ya, seringkali ketika mengunjungi suatu tempat saya akan sangat menahan diri untuk menuliskannya. Meskipun seringkali saya selalu tidak bisa menahan diri untuk upload fotonya di jejaring sosial. Pada akhirnya, saya ketakutan sendiri.

Seorang kawan, Ayos (pengelola Hifatlobrain) bahkan memutuskan tidak lagi menerima dan menulis kisah perjalanan yang berpotensi mencederai kualitas alam. Ada semacam perasaan berdosa ketika secara tanpa sadar kita turut serta melukai alam lewat tulisan ataupun foto yang menawarkan gambaran utopis suatu tempat. Arman Dhani juga pernah menuliskan tentang bagaimana keresahannya ketika sebuah stasiun TV swasta menayangkan sebuah acara untuk mengeskplore tempat-tempat yang masih perawan dan belum tersentuh. Saya sedih dan sedikit terpukul membaca tulisan dua kawan ini. Apakah saya juga termasuk di dalamnya?

Lho, ngomong apa saya di atas ? Sepertinya ngelantur. Oke, kembali ke topik utama ya:) Anggap aja yang di atas itu sekedar intro.

Segala hal besar, dimulai dari langkah pertama. Suatu perjalanan, juga diawali dengan langkah pertama. Tanpa itu, semuanya tak akan terwujud.

Dari keseluruhan peserta yang ikut, mempunyai pengalaman pertama yang luar biasa. Salut untuk semua peserta. Kisah-kisah yang dituliskan seolah hidup. Rasanya pingin deh milih semuanya jadi pemenang. Tapi sohibul hajat hanya memutuskan untuk memilih 4 orang pemenang saja. Penilaian yang saya lakukan dalam penulisan kisah perjalanan saya titik beratkan pada 4 unsur. Rekreatif, informatif , edukatif, dan kelengkapan pemenuhan syarat yg ditetapkan.  Di luar 4 unsur itu ada beberapa unsur pengikat lainnya. Diantaranya detail penceritaan, pengambilan ide, keunikan cerita dan pemilihan diksi yang tepat.

Terima kasih juga telah membawa saya menikmati bagaimana beratnya pendakian ke puncak gunung Lawu, Gede Pangrango, Sindoro Sumbing, Tangkuban Perahu dan Raung. Ada juga yang membawa saya ke Jerman, Lombok, Bandung, Bantimurung dan beberapa tempat lainnya. Terima kasih juga atas kenangan sewaktu bersepeda, pramuka, merantau, mencari kerja, perjuangan menuju masa depan sampai pada sebuah impian mulia menjadi dokter. Sungguh sebuah langkah pertama yang begitu mengesankan. Terima kasih sudah mengijinkan saya untuk menikmatinya.

Ada satu hal yang sulit kita bedakan. Saya juga pernah seperti itu. Perjalanan itu akan sangat menyenangkan bila dilakukan tanpa beban. Kalau ada beban, sudah bisa dipastikan saat itu kita sedang berlari. Sadar atau tidak. Tapi saya pribadi percaya, bahwa perjalanan adalah obat tak terkira untuk menyembuhkan luka. Ini semacam perjalanan hati yang juga membutuhkan proses yang begitu luar biasa. *Koq jadi curhat? Dikeplak pakai carier cagak :v *

Perjalanan selalu mengajarkan sesuatu. Tergantung pada si pemilik raga, apakah dia dapat mengambil hikmah atau hanya sekedar melewatkannya. Bukan semata tentang puncak gunungnya, tapi tentang menikmati sebuah perjalanan. Mengenali batas-batas kesanggupan dan kelemahan, bersabar dan bersahabat dengan keadaan, serta pada akhirnya merendahkan diri di hadapan Sang Pemilik Segala Ciptaan.

Cara menikmati hidup setiap orang memang berbeda. Meski kadang cara menikmati harus bertentangan dengan ladang yang sedang dihuni belalang. Untuk mengawali perjalanan hanya tentang melawan rasa takut dan malas. Setiap puncak mempunyai medan perjalanan yang berbeda. Hanya dengan memulainya kita akan tahu cara menghadapi. Puncak tidak akan pernah didapat tanpa langkah awal. Bahkan karena takut dan malas tidak akan ada sekedar cerita tentang perjalanan. Sebelum membunuh waktu, kita harus bisa membunuh rasa takut dan malas untuk memulai.

Itu semua adalah langkah awal yang keren. Terima kasih semuanya. I love you all :* Lalu, apakah saya juga punya langkah pertama untuk memulai petualangan menikmati hidup seperti ini? Semuanya tentu saja berawal dari foto di bawah ini. Ya, sampai bertemunya saya dengan sang suami pun berawal dari foto di bawah ini 🙂

diklatHayo tebak saya yang mana? Rahasia 😛

My Dream Vacation : Perjalanan Atas Nama Kenangan

11 Komentar

Semua orang punya perjalanan impian yang butuh diwujudkan. Sama seperti kebanyakan orang, saya juga punya mimpi-mimpi untuk melakukan sebuah perjalanan impian. Semoga suatu saat nanti semua mimpi ini akan terwujud. Saya, adalah orang yang mencintai kenangan. Atas dasar itulah perjalanan ini dimulai. Sebuah perjalanan atas nama kenangan. Memori kadangkala memberikan efek kekuatan yang luar biasa. Bahkan kadangkala terkesan lucu dan aneh di mata kebanyakan orang. Saya pernah menuliskan mimpi saya untuk mengunjungi sebuah stadion sepak bola di luar negeri. Tapi banyak tanggapan nyinyir dan miring. Ah, sudahlah. Setiap orang berhak punya kenangan dan hidup kuat di atasnya bukan? Karena itulah, saya tetap mempertahankan mimpi saya.

Perjalanan atas nama kenangan yang pertama akan saya lakukan adalah di : Desa Leuwinanggung No.19 RT.01 RW.02 Cimanggis, Depok 16956. Adakah yang bisa menduga arah perjalanan saya? Rasanya nama tersebut tak asing lagi bagi kebanyakan kita. Ya, disanalah berumah seorang legenda musik Indonesia. Iwan Fals. Dari kecil sampai kini, ada banyak inspirasi yang saya dapatkan melalui karya-karya beliau. Lewat lagu-lagu beliau lah kenangan saya dan Bob (Bapak saya) terikat manis. Masa-masa dimana keluarga kecil kami pernah jatuh bangun kemudian terjatuh dan kembali bangun. Rasanya, karya-karya beliau menjadi saksi perjalanan kehidupan kami. Sampai hingga saat saya berumah tangga, seringkali karya-karya beliau menjadi media pengingat akan kenangan yang telah berlalu.


Sumber foto : http://bits-r-us.net/iwan-fals-wallpaper

Saya dan Iwan Fals saat Beliau di Jember. Fotonya burem, karena yang motret grogi :)

Saya dan Iwan Fals saat Beliau di Jember. Fotonya burem, karena yang motret grogi 🙂

Saat masih bekerja, saya pernah mengajukan riset liputan ke Leuwinanggung untuk mengulas kisah hidup sang legenda. Sang legenda yang juga hidup di hati sebagian rakyat Indonesia. Namun tak pernah bersambut dengan baik oleh media tempat saya bernaung. Mungkin belum saatnya saya mewujudkannya saat itu. Semoga suatu saat kelak Tuhan berkehendak mewujudkannya. Amin.

Perjalanan impian yang kedua adalah ke sebuah stadion sepak bola di Firenze- Italia. Tempat dimana seorang Gabriel Omar Batistuta dilegendakan sebagai sosok yang membangkitkan kembali aura sepak bola bagi klub Fiorentina. Atas segalah jasa dan pengorbanannya untuk semua itu, dibuatlah sebuah patung yang berdiri tegak di depan Stadion Artemio Franchi.

batistuta01-myspace
Sumber foto : http://www.bola.net/editorial/totti-dan-10-pemain-spesial-di-serie-a-6.html

Sepak bola, Fiorentina dan Gabriel Omar Batistuta adalah tentang sebuah kenangan saat tertidur di pangkuan Bob ketika menemaninya begadang melihat klub kesayangan berlaga. Kenangan akan kamar bola yang dibuatkan Bob khusus untuk saya, putri kecilnya. Kenangan atas masa kecil yang mengajarkan untuk selalu mencintai dengan ikhlas. Ikhlas meskipun klub kesayangan kita kalah dalam berlaga. Dan legowo saat pemain yang kita idolakan suatu saat nanti pasti akan menggantungkan sepatu bolanya. Ya, sepak bola adalah kenangan tentang sebuah keihlasan. Bukan lagi tentang cinta yang di luar logika, bukan lagi tentang kekerasan antar supporter. Hanya satu, keikhlasan. Saya ingin sekali merasakan udara dan debu yang penuh kenangan itu disana. Meniti setiap historis yang pernah begitu kuat di tempat itu.

Acre, sebuah provinsi di negara bagian Xapuri Brasil yang sebagian wilayahnya terdiri dari hutan Amazon masuk dalam perjalanan impian saya yang ketiga. Karena disanalah tempat lahir dan gugur seorang pahlawan hutan hujan tropis. Chico Mendes. Seorang yang berjuang untuk berdaulat di atas tanah moyangnya sendiri. Lepas dari segala tekanan kapitalisme dan segala primordialisme yang mengungkung tanah milik mereka sendiri. Sumber daya alam dikuasai sebagai kepentingan pribadi yang melupakan hak-hak rakyat kecil. Chico Mendes menorehkan sejarah yang tak pernah dilupakan dunia. Chico mati ditembak di rumahnya sendiri tepat menjelang hari kelahirannya di usia ke 40 tahun. Kematiannya membuka mata banyak pihak. Perlawanannya untuk menyelamatkan hutan Amazon tak akan pernah dilupakan oleh dunia.

historica-com-br
Sumber gambar : http://langkahawal-its.blogspot.com/2011/09/historica.html

Awal perkenalan saya dengan sosok Chico Mendes melalui sebuah film dokumenter berjudul The Burning Season. Di pertengahan 2005 itulah mimpi saya berawal. Saya harus mengunjungi tempat dimana seorang Chico Mendes pernah mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kedaulatan atas hutan amazon. Saya punya mimpi untuk kesana dan merasakan udara yang dulu juga pernah dihirup oleh seorang pahlawan hutan Amazon.

Perjalanan impian saya yang keempat adalah di sebuah yang tempat yang penuh dengan ornamen berwarna merah kuning dan hijau. Nine Mile, Saint Ann, Jamaika. Sebuah tempat yang riuh dengan musik reggae. Bahkan saat membaca postingan ini, Anda bisa mendengarkan sebuah nyanyian dari salah satu legenda musik reggae dunia tersebut. Disanalah lahir seorang Nesta Robert Marley. Saya butuh untuk menjejakkan kaki disana, menghentakkan kaki sesuai dengan irama reggae, menghirup udara seorang musisi kritis yang sering menyuarakan masalah sosial dan ketidakadilan lingkungan di sekitarnya. Saya berterima kasih atas udara itu. Udara yang sempat membuat seorang Bob Marley hidup dan mengeluarkan karya yang begitu luar biasa. Diakui ataupun tidak, lagu-lagu Bob Marley sempat punya pengaruh yang kuat di dunia.

bobbbbbbbBob Marley. Sumber gambar : http://urbanislandz.com/2012/10/29/bob-marley-ranked-number-5-forbes-rich-dead-celebrities-list/

bob marley mausoleumNine Mile Mausoleum, tempat dimana Bob Marley dilahirkan sekaligus dimakamkan

Sumber gambar : http://pangerandanang.blogspot.com/2013/02/bob-marley-inilah-makam-museum-dan.html

Bagi saya, lagu-lagu Bob Marley pernah sangat menemani saya sewaktu jatuh bangun dan nyungsep semasa kuliah dulu. Bahkan ketika saya harus terluka oleh sebuah keputusan. Emosi yang meletup-letup, kemudian pernah merasa sangat sendirian. Ketika sebuah keputusan pernah membuat saya terperosok ke sebuah genangan yang sangat menakutkan. Ah, terima kasih Bob. Lagu-lagumu mampu menenangkanku. Memerdekakanku dari sebuah ketakutan yang teramat panjang. Kamu, diutus Tuhan untuk mewarnai kehidupanku dengan lagu-lagumu.

Perjalanan impian saya destinasinya tidak bisa disebut sebagai tempat wisata. Keempat tempat tersebut adalah sebentuk ikatan emosional dan kekuatan yang menginspirasi saya untuk bertahan sedemikian rupa. Bertahan dengan jalan hidup yang seperti ini tentu saja. Semoga Tuhan memahami mimpi-mimpi saya untuk melakukan perjalanan tersebut, dan mempertemukan mimpi itu dengan takdirnya. Semoga Tuhan berkehendak atas mimpi-mimpi itu. Amin.

***
mydreamvacation

“MyDreamyVacation”

Syukuran di Bulan Maret : Mengenang Sang Patriot di Kehidupan Kami

113 Komentar

Postingan ini akan selalu berada di atas selama periode syukuran di bulan Maret berakhir (31 Maret 2014 pukul 23.59 WIB). Postingan terbaru ada di bawah postingan ini 🙂

***

banner

Tak terasa sudah tiba di pertengahan bulan Maret. Sujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala anugerah dan rahmatnya bagi seluruh semesta. Ada banyak momen spesial hadiah Tuhan yang jatuh di bulan ini. Dua puluh tiga Maret bulan ini suami memperingati hari lahirnya. Lima belas Maret–SWAPENKA–organisasi Pencinta Alam yang saya ikuti juga memperingati hari lahirnya. Novel terbaru Mbak Irma Devita–Sang Patriot–juga telah selesai cetak dan sudah beredar di Gramedia. Srikandi Blogger juga telah sukses diadakan KEB (Kumpulan Emak2 Blogger) di bulan Maret. Ada Blogger Bicara Lingkungan juga terselenggara di bulan Maret. Di balik semua anugerah itu, tentu saja ada beberapa berita duka yang sempat membuat kita jatuh bangun. Alhamdulillah, semua anugerah dan cobaan itu diberikan Tuhan sebagai pengingat untuk selalu bersyukur karena masih diingatkan dengan segala cara.

Dalam hidup ini, selalu ada saja yang terkenang. Rasanya sayang bila tak kita abadikan dalam sebuah karya. Bicara tentang kenangan, kadangkala ada sosok-sosok patriot dalam kehidupan kita. Sikap patriotisme memang identik dengan kepahlawanan. Namun, boleh dong kita punya sosok yang memang kita anggap patriot dalam kehidupan kita sendiri? Sosok patriot yang tak melulu diidentikan dengan perang yang berdarah-darah, tapi berperang dengan cara dan senjata mereka sendiri-sendiri. Bisa melalui tulisan, foto, lirik lagu, dsb. Semua orang punya sosok patriot yang bertebaran dalam kehidupannya.

Seorang Prit kecil bisa mempunyai cita-cita sendiri tentang kemerdekaan dan kedamaian hanya karena sering mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Ia juga rela begadang demi menonton pemain bola yang sangat dicintainya–Gabriel Omar Batistuta–agar bisa belajar bagaimana caranya ikhlas. Seorang Prit bisa punya mimpi besar tentang suatu hal hanya karena habis menonton film The Burning Season dengan Chico Mendes-nya. Seorang Prit akan terbangun dari ‘jatuhnya’ saat mendengarkan lagu-lagu Bob Marley.

Ketika jatuh, sosok-sosok patriot itulah yang akan membangunkan kita berkali-kali. Merekalah yang akan menyembuhkan kita dari luka-luka yang bahkan teramat dalam. Seperti halnya saya, yang akan selalu terbangun dari jatuh usai membaca puisi dari Bob (Bapak saya). Seperti halnya luka yang akan selalu cepat mengering bila di layar handphone tertera nomer Ibu. Seperti halnya kegelisahan yang akan mereda ketika melihat senyum tulus suami.

Bagi seorang Irma Devita, sang patriot adalah sosok kakek tercinta yang membuatnya terbangun. Kakek tercinta yang membuatnya tergugah untuk mengabadikan perjuangannya dalam sebentuk novel sejarah. Kakek tercinta yang membuatnya kembali belajar memahami sejarah dan kenangan. Kakek tercinta yang membuatnya untuk selalu menghargai sejarah. Sang patriot dalam kehidupannya adalah juga tentang seorang perempuan bernama Rukmini, wanita mulia berhati sekeras baja.

Sang patriot adalah sosok yang mampu menyembuhkan luka. Sosok yang pasti membuat kita selalu terbangun lagi tak peduli seberapa banyaknya kita terjatuh. Mereka adalah sosok-sosok yang membuat kita selalu belajar, bertahan dan memperjuangkan hidup dengan jujur serta ikhlas. Mereka adalah pelangi yang datang seusai badai.

Sebagai ucapan syukur sekaligus untuk mengenang sosok patriot dalam kehidupan kita, kami beberapa sedulur blogger dari Jember ingin membuat syukuran kecil-kecilan. Kami mengundang seluruh blogger dengan platform apapun untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam syukuran ini, dengan catatan alamat pengiriman hadiahnya di Indonesia 🙂

Syaratnya, cukup posting tulisan yang menggambarkan sosok sang patriot di kehidupan kita. Gambarkan semuanya sesuai dengan kata hati dan keinginan Anda. Gambarkan semua itu sesuka dan senyaman mungkin, tak ada batasan dengan jumlah kata. Agar kami juga bisa menikmatinya dengan indah. Di akhir postingan, sertakan tulisan : Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami dengan link mengarah ke postingan ini. Setelah itu, daftarkan url link postingan disini dilengkapi dengan nama lengkap.

Postingan dibuat mulai detik woro-woro ini diterbitkan hingga tanggal 31 Maret 2014 pukul 23.59 WIB. Pengumuman tamu yang berhak mendapatkan novel Sang Patriot akan diumumkan pada tanggal 3 April 2014 di blognya Mas Lozz Akbar. Sebagai juri, nantinya saya akan mendampingi suami membaca persembahan karya dari dulur-dulur semua.

Hadiahnya :

Hadiah

Akan ada 30 novel ‘Sang Patriot’ yang akan kami kirimkan kepada 30 tamu yang beruntung 🙂

Setelah acara syukuran ini selesai, nantinya akan diselenggarakan juga syukuran khusus atas terbitnya Novel Sang Patriot karya Mbak Irma Devita. Syukuran akan diadakan dalam bentuk review novel dengan hadiah yang masih dirahasiakan 🙂 Insya Allah nanti diupdate disini hadiahnya. Tiga puluh pemenang yang mendapatkan novel gratis, otomatis sekaligus menjadi peserta review novel yang akan diadakah setelah syukuran ini. Yang masih belum menang di acara ini bisa langsung mendapatkannya di toko buku terdekat seperti Gramedia. Bila ada yang masih bingung bisa ditanyakan di kolom komentar atau di twitter saya @apikecil. Syukuran di bulan Maret ini didukung dan disponsori sepenuhnya oleh Mbak Irma Devita.

Catatan Penting :

Syukuran dan novel ‘Sang Patriot’ yang sedianya akan kami jadikan hadiah ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia perpolitikan di Indonesia. Tidak ada hubungannya dengan pileg apalagi pilpres. Tujuannya adalah murni untuk berbagi kebahagiaan kepada semua dulur blogger. Menjelang pileg dan pilpres ini memang saya dibuat galau setengah mati 😦 Semoga Indonesia baik-baik saja ke depannya. Lho, catatan pentingnya koq berasa curhat ya 😛  Maafkan 🙂

Salam Lestari,

@apikecil

Gula Aren : Pemanis Sehat Yang Membumi

5 Komentar

Sejarah pernah mencatat bahwa Indonesia merupakan negara yang pernah hebat dengan gula-nya. Selain gula dari tebu, gula aren juga sudah melegenda digunakan sejak dulu kala. Dunia pernah mengakui bahwa Indonesia mempunyai Pusat Penelitian Perkebunan Gula di Pasuruan yang dijadikan kiblat industri gula dunia*). Namun kisah itu sekarang mulai meredup seiring dengan ancaman penyakit yang ditimbulkan dan varietas tebu yang produksinya rendah. Industri gula mulai memasuki masa senja, seiring dengan menuanya mesin-mesin yang telah dipergunakan lebih dari 80 tahun. Berkaca dari kenyataan tersebut, banyak yang mencari alternatif pemanis sehat. Gula yang tak sekedar manis tapi juga cukup sehat untuk dikonsumsi semua kalangan.

Salah satu temuan itu adalah gula aren. Industri gula aren mulai dilirik dan semakin meroket seiring dengan kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumsi segala bahan makanan sehat. Salah satunya gula. Sejak dulu, gula aren dipercaya sebagai bahan pengobatan tradisional. Biasanya digabungkan dengan beberapa bahan yang lain. Gula aren juga terbukti aman dikonsumsi oleh penderita diabetes karena memiliki kadar gula yang lebih rendah dibandingkan gula putih. Dari sisi manfaat dan kesehatan, gula aren jauh lebih unggul dibandingkan dengan gula putih. Saya sendiri pernah merasakannya beberapa kali, gula aren rasa manisnya tidak terlalu eneg dan rasanya pas. Kadangkala ketika memakai gula putih saya merasa manisnya terlalu eneg. Kebetulan saya dan keluarga tidak begitu suka mengkonsumsi minuman yang terlalu manis.

Meskipun sudah dimanfaatkan sejak jaman dulu, namum tak melulu membuat penampilannya terlihat kuno dan tak menarik. Aneka kejutan teknologi membuatnya berbenah dan siap pula mengejutkan dunia. Sudah banyak produksi gula aren. Tak melulu pada produk yang batangan, seperti yang biasanya kita jumpai di pasar tradisional. Sekarang ada juga beberapa kemasan menarik. Ada produk gula aren cair yang berupa liquid, gula semut aren yang dibungkus sedemikian rupa sehingga sangat menarik. Tak heran bila sekarang industri ini sudah mulai merambah ke mancanegara. Ragam jenis produksinya menawarkan banyak pilihan yang menarik. Ini adalah pembenahan yang luar biasa.

Selain dari sisi tersebut, industri gula aren juga membuat produktifitas masyarakat sekitar menggeliat. Perekonomian masyarakat sekitar bisa didongkrak dengan industri ini. Penyerapan tenaga kerja yang besar bagi masyarakat sekitar juga potensial untuk memberdayakan masyarakat. Menurut sudut pandang saya, gula aren adalah konsep kemandirian ekonomi bagi masyarakat.

Saya pernah mencoba produk palm sugar yang berupa gula semut. Gula semut adalah semacam gula aren yang berbentuk serbuk. Untuk saya dan suami yang kadangkala beraktifitas keluar masuk hutan, gula aren serbuk ini sangat bermanfaat untuk mengembalikan daya tahan tubuh yang terbuang selama di perjalanan. Caranya cukup mudah, hanya tinggal dicemil-cemil aja langsung dari kantongnya yang keren. Tubuh otomatis bisa langsung segar kembali, apalagi jika kita menikmatinya di bawah pohon yang rindang.

Untuk masakan, saya memang suka sekali menambahkan sedikit gula aren sebagai pelezat. Seperti sambal terasi, saya biasanya menambahkan gula aren sebagai pengganti penyedap rasanya. Rasanya mantap dan enak, selain itu juga sehat karena memang tidak memakai penyedap rasa. Dari sana saya mencobanya ke berbagai masakan, dan hasilnya memang lebih gurih.Sebagai pencinta kopi kental yang pahit, mencampurkan gula aren ke dalam takarannya membuat rasanya semakin legit. Ada aroma gurih dari gula aren yang berpadu dengan secangkir kopi. Rasanya, anda patut mencobanya bila memang punya selera kopi seperti saya.

Kemarin malam saya mencoba bereksperimen membuat minuman gula aren, mencampurnya dengan berbagai bahan seperti kencur dan jeruk nipis. Untuk membuat wedang aren, saya biasa menambahkan sedikit garam. Biasanya sesuai selera sih, saya memakai seujung sendok teh. Rasanya hangat, enak dan seger. Cocok sekali dengan hawa Jember yang sedang mendung setelah diguyur hujan selama beberapa jam. Untuk wedang aren yang dicampur dengan kencur ternyata sangat berkhasiat untuk menambah kesuburan. Sedangkan untuk wedang aren yang dicampur dengan perasan jeruk nipis ini cocok untuk mengobati panas dalam. Yang dicampur dengan perasan jeruk nipis bisa diminum dalam keadaan dingin maupun panas. Semuanya oke, dan bisa langsung dipraktekan.

Tambahkan sedikit garam agar wedang aren terasa gurih

Tambahkan sedikit garam agar wedang aren terasa gurih

Cuci bersih kencur, kemudian digeprek dan dimasukkan ke dalam campuran aren dan sedikit garam

Cuci bersih kencur, kemudian digeprek dan dimasukkan ke dalam campuran aren dan sedikit garam kemudian siap diseduh dengan air mendidih. Siap dinikmati bersama pasangan 🙂

Ini adalah wedang aren yang saya kasih perasan air jeruk nipis.  Untuk membuat wedang arennya resepnya sama. Gula aren serbuk ditambah sedikit garam, kemudian diseduh menggunakan air panas. Setelah itu diberi perasan air jeruk nipis. Rasanya seger. Minuman ini bisa disajikan dalam kondisi hangat maupun dingin. Bermanfaat untuk meredakan panas dalam. Selamat mencoba :)

Ini adalah wedang aren yang saya kasih perasan air jeruk nipis. Untuk membuat wedang arennya resepnya sama. Gula aren serbuk ditambah sedikit garam, kemudian diseduh menggunakan air panas. Setelah itu diberi perasan air jeruk nipis. Rasanya seger. Minuman ini bisa disajikan dalam kondisi hangat maupun dingin. Bermanfaat untuk meredakan panas dalam. Selamat mencoba 🙂

Selain menggambarkan tentang konsep kemandirian ekonomi masyarakat, gula aren ternyata banyak menyimpan manfaat yang luar biasa. Maka, jangan ragu lagi untuk beralih ke pemanis yang sehat dan membumi.

Salam lestari,

@apikecil

Ikutan Menulis Tentang Pemanis Sehat Yuuuuk…

Banner-Peduli-Pemanis-sehat

Catatan :

*) Data sejarah tentang gula didapat dari buku : Membunuh Indonesia ( Konspirasi Global Penghancuran Kretek ) Karya Abhisam DM, Hasriadi Ary dan Miranda Harlan

Older Entries