Ini merupakan bagian pertama dari tulisan berseri untuk Pesona Jogja Homestay yang akan saya tulis. Sebuah kisah-kisah berseri yang di dalamnya menceritakan suasana dan peristiwa yang saya alami selama di Jogja. Khususnya ketika menginap di Pesona Jogja Homestay.

***

Pada sebuah sore yang basah di Pesona Jogja Homestay

              Pada sebuah sore yang basah di Pesona Jogja Homestay

“Sudah siap semua? Kalau begitu, aku ke kamar mandi dulu ya, mau pipis dan ambil dompet di kamar.”

Kamar saya ada di lantai 2. Teman-teman sedang bercengkrama di teras. Ada suami, Mas Lozz Akbar, Rian, Mbak Waya, Pungky, Jiwo dan Mas Topan. Kami berencana untuk jalan-jalan menikmati udara dan suasana Jogja di sore hari. Begitu masuk kamar mandi, menyelesaikan segala urusan hajat, dengan santai saya membuka pintu. Kok gak bisa? Udah coba diputer-puter tetep gak bisa. Sejak kecil, saya memiliki phobia jika berada di tempat sempit dan gelap. Berjalan di lorong sempit saja sudah membuat saya berkeringat dingin. Saya pernah lemas dan asma karena terkunci dalam kamar mandi kampus dan sebuah pusat pertokoan. Baru juga bulan kemarin saya terkunci di kamar mandi di dalam kamar hotel ketika mengkuti acara pelatihan jurnalistik. Masak ini saya alami yang ketiga kalinya di sini. Di Jogja. Saya mulai panik dan menggedor-gedor pintu. Takut kalau tidak ada yang mendengar, karena semuanya berkumpul di bawah. Saya berteriak dan menggedor-gedor.

Dada mulai terasa sesak dan keringat dingin mulai mengucur. Kemudian, terdengar suara suami dari luar yang mencoba menenangkan. Ada banyak suara, diantaranya Mas Lozz Akbar dan suara seorang perempuan. Mereka yang dari luar mencoba memutar-mutar gagang pintu sambil sesekali bertanya keadaan saya. Suami dan Mas Lozz mencoba untuk mendobrak pintu ketika saya sudah berteriak putus asa karena sesak napas. Entah bagaimana upaya mereka, tiba-tiba pintu sudah terbuka. Saya segera berlari ke arah balkon untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Menurut Mas Hakim, pintu yan macet tersebut kuncinya dioprek sama Mbak Widhi menggunakan sendok. Ya, dicongkel pakai sendok dan kemudian saya bisa bernapas lega. Mbak Widhi memang hebat!

Bersama Mbak Widhi, perempuan tangguh yang mencongkel pintu kamar mandi dengan sendok untuk menyelamatkan saya, hehe

Bersama Mbak Widhi, perempuan tangguh yang mencongkel pintu kamar mandi dengan sendok untuk menyelamatkan saya, hehe

Ya, ini merupakan salah satu rahasia saya. Saya paling takut mengunci kamar mandi. Tetep ditutup tapi nggak dikunci, jadi masih terbuka sedikit. Karena itu, saya paling nggak nyaman jika harus menggunakan kamar mandi di tempat umum. Kalau tidak terpaksa banget nget lebih memilih di rumah saja. Itupun harus ditungguin suami. Urusan ke kamar kecil jika sedang di luar rumah cukup membuat saya rewel. Suami tentu yang paling paham soal ini, hehe. Jadi, ketika tiba di penginapan dan mendapatkan kamar di atas dengan kamar mandi yang berbagi dengan tamu lain saya sedikit was-was. Setiap mau ke kamar kan selalu melewati kamar mandi, saya selalu membatin semoga nggak kekunci di dalam sana. Beruntung kamar di depan kami ditempati oleh Mas Lozz Akbar, jadi setiap ke kamar mandi saya selalu berpesan kepada suami untuk memberitahu Mas Lozz agar tidak keluar atau lewat. Kadang suami yang berjaga di depan kamar sambil menanti saya. Jarak kamar dan kamar mandi hanya selemparan kolor kalau kata Pungky. Hehe.

Baru kali ini saya menuliskan soal pobhia-pobhia di blog. Tapi ini baru dua hal, hehe. Merasa malu sebenarnya untuk mengakui. Tapi gimana lagi, hehe. Beruntung ada Mbak Widhi, salah satu petugas penginapan yang selalu siap sedia membantu kami. Perempuan tomboy yang punya sejuta kreasi.

Bersama Teman-Teman Blogger di Masjid Kotagede

Bersama Teman-Teman Blogger di Masjid Kotagede

Saya melihat tatapan mata khawatir dari teman-teman blogger yang menunggu di teras. Saya dan suami berusaha menjelaskannya sedikit, berharap tidak akan mengganggu suasana ketika kami berjalan-jalan menikmati udara Jogja di sore hari. Setelah itu, kami benar-benar menikmati udara sore kota yang katanya berhati nyaman ini. Dibandingkan beberapa tahun lalu, Jogja kini lebih ramai, sesak dan sedikit terburu-buru. Pemandangan ini saya nikmati dari balik kaca jendela mobil yang masih menyisakan butiran gerimis. Mobil melaju ke arah Kotagede. Sebuah keputusan yang diambil secara acak dan tiba-tiba selama perjalanan. Tujuan kami adalah sebuah Masjid berarsitektur lama di sana. Kami tiba dengan suasana hangat dan sedikit gerimis. Menyusuri setiap ruas dan lekuk bangunannya sambil membayangkan betapa kokohnya pada ia masa lampau. Masih setengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Kami menikmatinya dengan gembira. Saya juga menikmatinya sebagai terapi sesak nafas yang masih tersisa usai terkunci dalam kamar mandi.

Meski banyak hal-hal yang tak terduga dan drama terjadi, saya begitu menikmati ketika berada di Jogja kali ini. Meski masih ada beberapa tugas dan wawancara yang harus kami selesaikan, namun berkumpul dan bertemu dengan teman-teman blogger adalah obat lelah tiada tara. Bersyukur kami dipertemukan dalam sebuah penginapan dengan suasana rumah yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Penginapan tersebut bernama Pesona Jogja Homestay. Terletak di kelurahan Tahunan, kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta. Untuk lokasinya sudah dijelaskan dengan rinci oleh suami saya pada postingan ini.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya saya dan suami menginap di sini. Tahun lalu, ketika kami di Jogja untuk kebutuhan akses data di sebuah perpustakaan, juga menginap di sini. Homestay ini milik sepasang suami istri. Mas Win dan Mbak Irma Devita. Saya dan suami bersahabat dan sering ngobrol untuk urusan sejarah. Pertengahan Oktober lalu adalah kali kedua kami menginap di Pesona Jogja Homestay. Ada banyak perubahan tentunya dari tahun sebelumnya. Saya benar-benar menikmati menginap di sana karena bareng juga dengan beberapa kawan blogger yang kami kenal. Menempati sebuah unit bernama Prambanan bersama Mas Lozz Akbar, Pungki Prayitno, Jiwo dan Mas Topan Pramukti. Quality Time yang sangat berkesan mengingat kebiasaan kami yang sedikit banyak sama soal bangun pagi. Satu unit rumah kami tempati, bebas mau ngapain aja. Nggosip sampai subuh dan bangun sampai tengah hari pun sudah kita lewati bersama, haha. Sudah seperti rumah sendiri, bangun semaunya. Padahal memang suasananya kamarnya tenang dan enak banget buat bobok sepanjang hari. Mengingat kesibukan saya dan suami yang beberapa bulan ini memang luar biasa, kurang tidur setiap harinya, sehingga ketika menginap di Pesona Jogja Homestay benar-benar kami manfaatkan untuk beristirahat.

Awalnya, jika bicara soal homestay tentu yang saya pikirkan adalah sebuah rumah yang terdiri dari beberapa kamar, beserta perabotnya, yang kita sewa untuk kebutuhan menginap atau acara. Ada dapur dan peralatan masaknya. Namun ketentuannya adalah semua kebersihan kita yang menanggungnya sendiri. Namun ketika ada di Pesona Jogja Homestay, semuanya ada yang menangani. Mulai dari kebersihan, makanan dan segala tetek bengeknya sudah ada petugasnya. Bagi saya pribadi, ini adalah homestay kelas hotel. Nyaman sekali, bikin betah dan males pulang. Cuma tiga kata itu yang ada dalam pikiran saya ketika menuliskannya.

Satu hal lagi yang membuat saya berkesan adalah kesigapan para petugasnya. Adalah Mbak Widhi yang rela mencongkel pintu dengan sendok ketika saya terkunci di kamar mandi dan hampir pingsan. Mbak Widhi juga lah yang mau direpotkan tengah malam karena kran toilet yang bocor dan banjir di kamar mandi lantai atas. Mbak Widhi yang selalu berkata siap meskipun kami ajak nongkrong di angkringan sampai dini hari. Ada juga Mbak Endang yang selalu sigap membersihkan kamar dan unit kami. Serta tak lupa menyiapkan sarapan pagi-pagi padahal para penghuninya baru aja bobok pules. Love semuanya deh :* :*

Dari semua itu saya baru menyadari, bahwa yang membuat kita nyaman tinggal di suatu tempat adalah suasana dan juga orang-orangnya. Selanjutnya, semuanya mengikuti. Terkadang kita menjumpai sebuah penginapan yang angkuh. Suasananya enak, tapi orang-orangnya kaku. Tapi di sini lain, masih ada sedikit ketulusan meski Jogja sudah mulai berubah. Setidaknya, masih ada yang berhati luas dan bisa memahami. Sifat yang sulit sekali dijumpai di kota-kota besar dengan ritme hidup yag selalu diburu waktu. Bersambung.

Iklan