Pulang ke kotamu,  ada setangkup haru dalam rindu…

SORE ini kereta telah membawaku sampai di kotamu. Ya, dan sekarang aku telah benar-benar ada di kotamu. Menghirup udara yang sama denganmu. Menatap langit yang sama denganmu. Dan juga suasana yang sama denganmu. Semuanya indah, unik dan bagiku tak kan terlupakan. Entah bagimu. Semoga saja kita merasakan hal yang sama. Senja ini sungguh indah dan menyenangkan. Baru kali ini aku singgah di kotamu. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa sangat lekat dengan kota ini. Kota dimana kau menghirup nafas dan merajut rindu demi rindu. Dadaku penuh. Aku pulang ke kotamu.

Kota ini mengingatkanku pada tulisan-tulisanmu. Ya, kota ini adalah tulisanmu. Yang selalu kubaca dan kurindukan. Seperti hela napas yang kadang terasa sesak saat kau tuliskan duka. Ah, ternyata kau begitu hidup. Aku seperti menyusuri kenangan-kenanganmu. Aku seperti memahami rindu dan cintamu. Meskipun aku tak pernah bertemu denganmu. Siapa dirimu, hingga aku terlalu larut masuk dalam peradaanmu. Mungkin inilah cara Tuhan, dan kita sepertinya memang harus melakoni apa yg sudah ditakdirkan-Nya.

“Bagaimana dengan mimpi-mimpimu? Bagaimana dengan rindu-rindu yg tak kunjung redam? Yang kadang tak pernah kau temukan muaranya?”

“Mimpiku masih tetap ada. Bukankah itu yang membuatku masih tetap hidup? Rinduku pun masih sama. Terkadang, aku tak mampu menemukan muaranya. Namun Tuhan menolongku dengan tulus. Hingga akhirnya kubuat muaranya sendiri. Ah, sepertinya kita terlalu sentimentil. Bukankah kenangan tak harus selalu diperbincangkan? Bukankah ia akan terasa lebih istimewa bila hanya untuk dikenang?”

“Ya, untuk sesuatu yg terlampau menyakitkan memang hanya butuh ditengok sekilas saja. Lukanya akan terbuka lagi bila kita terlampau sering membicarakannya. Biarkan saja menguap di bawa angin kota ini. Semoga nanti menjelma sebagai taman-taman yg asri, musisi jalanan, warung-warung angkringan dan senyum-senyum ketulusan yg tak ternilai harganya. Bukankah kau kemari untuk pulang ke kotaku? Kita nikmati saja apa yang ada saat ini”

“Iya Nan, saat ini aku memang sedang pulang ke kotamu. Okelah, mari kita nikmati saja segelas kopi ini bersama. Kau tahu kan, kopi disini porsinya trlalu besar untuk kunikmati sendiri. Ah, wangi suasana kota ini semoga tak tergantikan oleh apapun. Kau tahu kan, bukankah negara kita suka sekali menjual ‘sesuatu’ ke investor asing? Kuharap tidak terjadi di kota ini”

Kau tersenyum hangat mendengarkan omelanku. Sama hangatnya seperti senja di kota ini. Sama eratnya dengan rindu yg dihembuskan angin kota ini. Sama manjanya dengan lambaian merapi ke arahku. Dan sama kuatnya dengan kenangan-kenanganmu di kota ini. Maka ijinkanlah aku untuk pulang lagi ke kotamu. Nan, tunggu aku di bulan April. Tunggu aku di kotamu. Yogyakarta…

Catatan :
Ini hanya sebuah tulisan fiksi yg diilhami dari sebuah pertemuan dengan seorang sahabat di sebuah kota yg hangat. Yogyakarta

Tulisan ini saya persembahkan untuk meramaikan Projek Tentang Kita-nya Mbak Carolina Ratri. Maaf, baru sekarang nulisnya Mbak, hehe. Terjadi sesuatu dg netbookku shg tidak bisa memenuhi janji. Maaf ya Mbak 🙂

Iklan