Beberapa hari lalu aku menulis Mas. Tepatnya hari Kamis, tertanggal 23 Februari 2012. Sebuah tulisan fiksi yang secara implisit menggambarkan tentang dirimu. Otak bawah sadarku menggiring jemari ini untuk menuliskannya. Sabtu dini hari sa’at aku terlelap, suami membangunkanku. Mengabarkan warta yang enggan kudengar. Kau telah berpulang ke pangkuan-Nya. Rasanya sulit mencerna semua yang kudengar. Aku menerimanya dalam bentuk patahan patahan, enggan mendengarnya secara nyata. Aku takut mendengar kenyataan bahwa kau benar benar pergi. Semakin takut, semakin sadar bahwa itu warta yang nyata. Dan aku pun tak bisa membendung air yang keluar dari mata ini. Tuhan punya cara sendiri untuk melepaskanmu dari belenggu rasa sakit itu, Mas…

Kapan terakhir kita ketemu Mas? Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ya, sa’at itu bertepatan dengan peringatan hari bumi, 22 April 2011. Kita dan beberapa kawan sedang ada di acara bertajuk lingkungan di Sukamade – Banyuwangi. Tak dapat dipungkiri,semangatmu sa’at itu benar benar luar biasa. Benar benar membakar. Perjuanganmu dalam masalah lingkungan memang selalu membuat semua orang kebat kebit. Dan pada akhirnya, semua orang akan tau bahwa apa yang kau perjuangkan tak kan pernah sia sia. Mohon ma’af  Mas, bila ada kesan yang kurang berkenan dalam acara itu (tragedi truk mogok di tengah hutan).

Ini kebersama’an terakhir kita Mas. Kau (Alm. Mas Bibin memakai kaos dengan logo Pro Fauna berwarna hitam) berdiri tepat di sampingku (aku memakai kerudung berwarna pink)

Ini sa’at truk kita macet Mas, beberapa rombongan turun untk menariknya dengan tambang. Ingatkah kau dengan suasana yang riuh itu? Dan ingatkah kau sa’at itu adik kecilmu ini menangis dengan egoisnya…

Sa’at perjalanan pulang, truk yang kita tumpangi tidak bisa lewat karena ada truk lain yang mogok di tengah hutan (jalan hanya bisa dilewati satu truk saja). Kau tau sa’at itu aku sedang gelisah dan ingin segera sampai karena ada acara lain yang menunggu. Dengan segala cara kau berusaha membuatku terhibur dan tersenyum. Tapi sa’at itu aku adalah adik kecilmu yang rewel dan ingin segera pulang. Aku tak tahu, kenapa harus seegois itu. Kita dan rombongan menunggu beberapa jam, dan akhirnya kau memutuskan agar rombongan berjalan kaki dan menunggu di pos TN di bawah. Untuk mencapai tempat tersebut kita harus melakukan perjalanan yang panjang. Berjalan kaki dan sesekali numpang di mini truk milik penduduk. jam tiga sore rombongan secara berkala sampai di pos TN. Ini sudah melampaui waktu yang diperkirakan, mengingat keberangkatan kita dari Sukamade jam 7 pagi. Harusnya jam 3 sore ini aku sudah bisa sampai di jember.

Sa’at itu aku menangis sejadi jadinya. Ya, aku benar benar adek kecilmu yang egois. Semua orang ingin segera pulang, tapi aku ingin didahulukan. Aku menangis dan terus menangis. Sementara kau semakin bingung dan berusaha menenangkanku agar semua rombongan tak ketularan panik. Sampai semua kerumitan itu berakhir, aku tak menyapamu. Tingkahku benar benar mirip anak kecil ya Mas,hehe. Aku memaksa seorang kawan untuk ngebut dari Banyuwangi ke jember untuk mengejar sebuah acara. Dan semua menjadi semakin lengkap ketika aku tiba di jember pukul 12 malam, tepat sa’at acara itu sudah selesai. Lengkaplah sudah perasaanku malam itu, Mas. Sa’at ini kau pasti tau apa yang kurasakan sa’at itu.

Selang beberapa bulan sa’at peristiwa itu, kau menghubungiku (tepatnya bulan Mei) untuk turut serta dalam acara bertajuk lingkungan bulan juli di Taman Nasional Baluran. Namun karena sebuah alasan, aku tak bisa turut serta kesana. Mas, jika selama ini kau bertanya tanya tentang alasannya, semoga sa’at sekarang kau bisa memahaminya dengan jelas. Maafkan aku ya Mas…

Setelah sa’at itu, kita tak pernah bertemu. Pada sa’at lebaran, kau mengirimkan sebuah sms untukku. Ucapan mohon maaf dari keluarga, dan aku pun membalasnya dengan ucapan serupa. Bulan Oktober (aku lupa tepatnya tanggal berapa) pas tengah malam, kau mengirimkan sebuah pesan singkat untukku.

“Hana…”, itulah pesan yang kuterima sa’at itu.

 “Iya Mas, kenapa?”, Aku baru membalasnya ketika pagi harinya.

“Gpp, lama nggak ngopi bareng”, bunyi balasan yang kau kirimkan untukku.

“Hehehe… Iya Mas, aku sibuk akhir akhir ini”, balasku kemudian.

Setelah itu, tak ada lagi sms balasan darimu. Dua hari sebelum aku menikah, kukirimkan sebuah pesan kepadamu. Karena tempat kita lumayan jauh, aku hanya bisa berkirim kabar lewat sms, telp, ataupun jejaring sosial. Sebuah harapan agar kau bisa hadir di pernikahanku bersama istri dan ketiga jagoanmu. Sms pun bersambut, tak lama kemudian kuterima balasannya.

“Semoga berbahagia, maaf kami tak bisa hadir”, begitulah huruf yang tertera di layar ponselku. Ah, jawabanmu yang terlalu to the point membuatku semakin bertanya tanya. Tapi semua itu lenyap seiring dengan berbagai macam kesibukan dan persiapan menjelang acara pernikahanku.

Sehari setelah acara pernikahan, kudengar kabar bahwa glukoma membuatmu terbaring di rumah sakit. Ah, inikah arti dari kalimat yang kau kirimkan lewat sms itu? Kenapa tak kau ceritakan kepadaku mas? Hari hari selanjutnya aku mengikuti perkembanganmu lewat media facebook dan beberapa sms dari teman. Aku ingin selalu menjadi yang pertama tau kabarmu, meskipun aku tak ada di dekatmu. Melantunkan doa dan senandung dari jauh, berharap semua itu menguatkanmu dari rasa sakit.

Segala upaya diusahakan untuk kesembuhanmu Mas. Operasi yang pertama juga dilakukan, dan membuat semua orang yang berharap atas kesehatanmu berbahagia atas kabar tersebut. Tak terkecuali aku dan suami. Beberapa sa’at setelah operasi, kau sudah boleh pulang dan menikmati suasana ruma ditemani dengan istri dan ketiga jagoanmu. Ini adalah kabar bahagia yang pernah kudengar. Beberapa hari setelah operasi itu, muncul beberapa keluhan atas dirimu. Ku pikir, ini adalah sebuah reaksi obat atau efek setelah operasi yang akan membuatmu semakin membaik. Namun, 3 Februari 2012 lalu seorang kawan mengabrkan padaku bahwa kau kembali terbaring di rumah sakit dengan diagnosa kangker otak, dan infeksi di kepalamu akibat operasi dulu. Apa ini? kenapa kabarnya begitu simpang siur? Mana yang benar Mas? Sa’at itu aku berharap bahwa semua itu adalah kesalahan diagnosa dokter.

Aku masih terus mengikuti kabarmu. Baik di media facebook maupun telpon dan sms dari beberapa kawan. Sampai akhirnya 25 Februari dini hari aku menerima kabar bahwa kau benar benar pergi. Aku jatuh dan benar benar jatuh mendengarnya. Ya Mas, kita memang berasal dari-Nya dan akan kembali pula kepada-Nya. Aku tahu, ini adalah jalan yang terbaik untukmu. Melepasmu pergi merupakan hal tersulit bagiku. Teramat sulit dan sakit. Mungkin inilah yang menyebabkan bahwa suatu perpisahan adalah rasa sakit yang menyesakkan dada. Kau tau Mas? Aku merasakannya sa’at kau pergi.

Kau bukanlah sosok yang begitu mudah dihapus dari ingatanku. Semudah menghapus coretan pensil di kertas putih. Dan tak kan pernah terhapus, sampai kapanpun itu. Kenanganmu begitu lekat dalam kehidupanku. Bagaimana perjuanganku pertama kali menjadi seorang jurnalis, cara menulis, hingga mulai menggeluti spesifikasi untuk berita lingkungan. Semua itu kudapat darimu Mas. Setiap kali tangan ini menarikan jemari di atas keyboard, sa’at itulah wajah dan kenanganmu begitu kuat dan menyeruak dalam setiap hurufnya. Inilah sa’at yang tepat untuk menyimpan dan memaknai kenangan secara bijak. Bukankah begitu Mas?

Mas, aku mengenalmu bukanlah sebagai sosok yang bermain main dalam menulis. Keberanian dan sikapmu yang tanpa basa basi terkadang membuat banyak orang tersenyum kecut, tak sedikit juga yang mengejek. Mungkin kesan yang ditampilkan oleh orang sepertimu terlalu aneh di mata masyarakat kita yang sudah terbiasa dengan budaya basa basi. Dan pada akhirnya, saat ini semua orang tau bahwa apa yang kau perjuangkan tak pernah sia sia. Bahkan pada akhir yang seperti inipun, kau tak kalah Mas. Bagiku kau sudah menang, Mas. Perjuangan bukan dinilai dari menang atau kalah, tapi proses perjalanannya. Dari sini aku juga belajar Mas, bahwa cara terbaik untuk mengenang seseorang adalah tetap berjuang. Ya, terus berjuang untuk tetap mengingatmu. Bagiku kau adalah seorang kakak, teman ngopi, guru menulis, dan kawan untuk berbagi segala hal, Mas.

Ini bukan ucapan selamat tinggal Mas. Meskipun jauh di sana, aku yakin kau membaca suratku ini.

Mas Bibin, do’aku untukmu. Semoga dilapangkan jalanmu di sisi-Nya. Aku tak pernah menjauh darimu Mas, percayalah bahwa hati kita akan selalu dekat dengan kenangan kenangan yg ada. Semoga dedikasimu membuka mata hati yang tertutup. Mengenangmu dengan terus berjuang. Selamat jalan Mas Bibin..

Di kesempatan kali ini, aku sertakan slide buatan seorang kawan untuk mengenang perjuanganmu selama ini. Do’aku selalu untukmu Mas. Untuk Istrimu yang tangguh. Dan untuk 3 jagoan kecilmu yang hebat. Aku yakin, semua tulisanmu akan mengantarkanmu ke tempat terindah di sisi-Nya. Aminn…

In Memoriam Bibin Bintariadi

Catatan:

Tulisan ini ada dalam draft sejak tanggal 25 Februari 2012 di senja yang sendu. Saya mencoba menyelesaikannya setiap hari, namun selalu gagal. Dan pada akhirnya, saya bisa menyelesaikannya sekarang. Tepat setelah 16 hari kepergian Alm. Mas Bibin.

Iklan